Showing posts with label ibu. Show all posts
Showing posts with label ibu. Show all posts

5/12/2013

Kado Hari Ibu



Lama sekali FunkyMami tidak mengunjungi blog ini. Tiap kali melintas depan komputer, selalu ada perasaan bersalah. Ide untuk menulis sebenarnya banyak sekali, tapi persediaan waktu untuk menulis sangat terbatas. Kondisi tempat tinggal FunkyMami yang berpindah-pindah selalu membuat kehidupan sehari-hari amat sibuk - tetannga baru, teman baru, kegiatan baru, tempat-tempat menarik baru. Tiap tempat baru selalu menyediakan pengalaman baru. Dan FunkyMami merasa, tiap-tiap pengalaman baru itu sangatlah berharga dan layak didokumentasikan agar suatu saat bisa menjadi media untuk mengenang pengalaman-pengalaman berharga itu. Alhasil, FunkyMami selalu sibuk mendokumentasikan cerita perjalanan, acara, kejadian unik, dan hal-hal kecil kecil lainya yang tidak akan terulang lagi saat FunkyMami pindah ke tempat lain. Dan kegiatan mendokumentasi ini (baik berupa foto maupun tulisan) sangatlah ‘time consuming’ alias memakan waktu banyak.

Tapi, hari ini FunkyMami memaksakan diri untuk menulis meski jadwal sudah padat. Bukan tulisan berat kok, sekedar pengalaman manis tetang kemarin. Kemarin adalah Hari Ibu (internasional). FunkyMami lupa sama sekali, karena di negara tempat tinggal FunkyMami sekarang Hari Ibu jatuhnya sekitar sebulan lalu. Tiap Hari Ibu, si S dan R (anak-anak FunkyMami) selalu memberi hadiah kecil, biasanya dalam bentuk kartu, surat, atau kerajinan tangan. Kemarin saat S pulang sekolah dia menyerahkan sebuah surat berjudul “HAPPY MOTHER’S DAY”. Setelah berpelukan dan berciuman, FunkyMami membaca surat yang di hias warna-warni dengan gambar hati, matahari bersinar, pelangi, air mancur dan tanaman rambat. Isinya adalah sebuah daftar atau lebih tepat data-data tentang Funkymami. Begini isinya:


SELAMAT HARI IBU 


(Daftar bagian atas berisi Nama ibuku, Umurnya, Warna rambutnya, Warna matanya, dan Umur.).

  • Ibuku bekerja keras dalam hal: membuat kami semua selamat, menyetrika, mengingatkan aku dan adikku untuk tidak lupa tugas sehari-hari.
  • Barang/hal favorite ibuku adalah: kamera-kameranya, komputernya, buku diary-nya.
  • Dia suka memasak: Spaghetti Aglio Olio, tapi kalau malas dia suka memasak Indomie.
  • Dia suka memakan: coklat ‘Ritter Sport’ (meski setelah makan dia selalu mengeluh takut kegemukan).
  • Harapan terbesar ibuku adalah: seluruh keluarga selalu sehat.
  • Jika ibuku bisa tinggal di mana saja di seluruh dunia, maka dia akan tinggal di: Bali.
  • Jika ibuku bisa mengunjungi tempat mana saja di seluru dunia, maka dia akan mengunjungi: Mesir.
  • Jika ibuku memiliki sejuta dollar, maka dia akan membeli: aku yakin pasti kamera dan tas.
  • Ibuku suka jika: mendapat kejutan, aku dan adikku tertawa-tawa alias tidak bertengkar, mendengarkan perkataannya, dan bermain di luar (tidak ‘bermain’ dengan TV).
  • Warna favorit ibuku adalah: coklat, hitam, putih dan hijau.
  • Jika ibuku sudah selesai bekerja, dia suka melakukan: olah raga, menulis diary, menulis di komputer, membuat scrapbook.
  • Aku membuat ibuku bahagia jika aku: membawa nilai baik hasil ulangan, tidak lupa mematikan lampu, menyisir rambut.
  • Ibuku adalah: yang terbaik, tidak ada duanya, ramah, lucu, dan penuh kejutan.
Ditulis oleh: “S” 12 Mei 2013

Tulisan yang sangat sederhana dan polos, tapi mengandung kenyataan tentang apa yang diperhatikan anak sehari-hari tentang ibunya. Ooh, FunkyMami yakin S pasti juga punya sederet ‘kenyataan-kenyataan’ yang tidak dia sukai tentang ibunya. Tapi berhubung ini Hari Ibu, maka FunkyMami yakin dia hanya ingin menulis yang terbaik. Nggak masalah, karena intinya adalah ternyata tidak hanya kita, orang tua, yang fokus ke anak. Tapi anak juga juga fokus ke kita. Umapama sebuah perusahaan, ternyata nggak cuman auditor aja yang mengaudit karyawan tapi karyawan juga mengaudit para autior. Oke, mungkin hal ini naggak terjadi di perusahaan, tapi pernakah kita bertanya: ‘Kalau kita berhak mengaudit anak, trus yang mengaudit kita siapa?’ Benar nggak nya kita, siapa coba yang boleh mengaudit selain suami/istri? Lha, kalau bapak & ibu sudah gabung dalam satu team, belum tentu kan hasil auditnya obyektif? Sementara kalau yang mengaudit si anak, besar kemungkinan hasilnya adalah jujur. Pertanyaannya, boleh nggak anak menjadi auditor kita? Pentingkah bagi kita hasil penilaian anak tentang diri kita? Kalau saja, penilaian itu ternyata tidak begitu menyenangkan bagi kita, bisa kah kita menerimanya atau setidaknya peduli? Atau pertanyaan yang lebih mendasar lagi: Berhakkah mereka menilai orang tua?

Jangan khawatir, itu semua sekedar pertanyaan retorikal. Jawabnya tentu saja individual dan bukan tema tulisan ini. Yang ingin FunkyMami garis bawahi adalah suka atau tidak, anak mempunyai penilaian tersendiri tentang orang tua. Makhluk-makhluk kecil itu yang setiap hari sibuk bikin PR, mewarnai, menggunting, lompat-lompat dan bermain petak umpat, ternyata secara diam-diam ‘mendokumentasikan’ tiap gerak-gerik dan perkataan orang tua dalam otak mereka. Tulisan si ’S’ (meski mungkin hanya diambil yang terbaik) adalah sebuah ‘feed back’, hasil sebuah atau beberapa pengamatan yang dilakukan secara diam-diam bahkan mungkin di luar sadar. Secara pribadi FunkyMami menyukai ‘feed back’, meski jika harus menelan pahit feed back negatif. Karena FunkyMami percaya, feed back anak adalah sarana yang tepat untuk berkaca demi mencari kekurangan diri sendiri. Karena kenyataanya nggak cuman anak yang harus belajar dari orang tua, tapi kadang orang tua pun harus belajar dari anak. FunkyMami senang karena kado Hari Ibu dari S tahun ini berupa 'laporan audit'. Lega rasanya, ternyata isi laporan cukup positif, meski pada bagian ‘Indomie’ lumayan bikin drop juga.

9/02/2012

Ibu yang nggak bersyukur



Beberapa waktu lalu ipar FunkyMami ultah yang ke 40. Dia nelpon ngajak ketemuan untuk merayakan ultah berdua aja, cewek-cewek. Asyek. Tapi, yah… jarak rumah kami lima jam perjalanan naik pesawat. Susyeh. Hem, setelah diskusi-diskusi akhirnya kami sepakat ketemuan di tengah-tengah. Para suami pun sepakat jadi baby sitter selama para istri berpelesir. Sim salabim abra kedabra, akhirnya ketemu lah kami di sebuah hotel yang jaraknya dua jam terbang dari masing-masing rumah. Ai… asyik banget. Dua cewek satu kamar tanpa suami dan anak. Bisa dibayangkan, mulai hari pertama kami nggak bisa tidur saking nggak habisnya bahan obrolan.

Pas hari H kami merayakan ultah berdua di sebuah pub. Kami merasa seperti muda dan single kembali. Karena kami berdua bukan termasuk wanita yang terobsesi fashion terkini atau gosip selebriti, maka pembicaraan kami pun didominasi oleh topik keluarga. *Iya..iya… boring!!*

Mendengarkan cerita masing-masing FunkyMami jadi sadar, betapa kami berdua adalah ibu-ibu yang rata-rata, seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya. Si ipar ini adalah seorang ‘Wonder Mom’ di mata FunkyMami. Dia ini cantik, pintar berdandan, berkarir (kerja sampe jam 2 siang), punya dua anak laki-laki yang sangat aktif umur 5 dan 3 tahun dan nggak punya pembantu atau sopir. Suaminya jarang di rumah karena kerjanya sering luar kota. Dengan cuman dua tangan dan dua kaki, si ipar mampu menangani semua kegiatan rumah tangga termasuk menemani anak karate dan renang, antar jemput sekolah yang letaknya terpisah, piknik di kebun, belanja di supermarket sambil nenteng dua anak, mengundang orang minum kopi atau makan malam dengan sajian makanan yang cantik, suka mendekorasi rumah dan rumahnya itu lho…. tidak berdebu! Alamak, tiap kali FunkyMami berkunjung ke rumahnya, pulang-pulang FunkyMami langsung dipresi, karena si ipar ini di samping sempurna juga hampir tidak pernah mengeluh. Dan di tengah kesibukannya itu dia juga masih sanggup mendisiplinkan anak-anaknya untuk tidak asal nonton film kartun, membiasakan anak nonton TV hanya malam minggu dan berhasil membuat anak-anaknya makan sayur dan buah-buahan. Terus, sepertinya dia tahu aja informasi lewat internet tentang makanan sehat buat anak dan produk apa yang mengandung bahan kimia berbahaya. Oh ya, dia juga nggak pernah ketinggalan jadwal rutin kunjungan dokter anak-anak.

Tapi, pas ngobrol di pub itu barulah FunkyMami melihat betapa hidup si ipar ini ternyata sama saja seperti FunkyMami, penuh dengan stress. Dia yang seperti Wonder Mom itu ternyata ceritanya juga nggak beda jauh dari cerita keseharian FunkyMami, yaitu tentang anak-anak yang lucu di hari A tapi bikin darah tinggi di hari B, C dan D. Tentang pertanyaan-pertanyaan ‘kenapa sih kelakuan anak-anak seperti itu? Tentang betapa terforsirnya tenaga dan pikiran kita karena harus melakukan semuanya tanpa bantuan. Tentang betapa menjengkelkannya kebiasaan-kebiasaan para suami yang bikin istri makin senewen, dan sebagainya…dan sebagainya… Untuk informasi, ipar FunkyMami tinggal di suatu tempat di mana hanya benar-benar orang kaya yang mampu memiliki pembantu 24/7 jam.

Cerita-cerita itu bukanlah sekedar cerita tapi sebuah bentuk pengakuan bahwa kami adalah ibu-ibu yang tidak sempurna. Bahwa kami yang dari luar mungkin tampak seperti ibu sempurna sebenarnya punya banyak kelemahan dan keluhan. Tentu, banyak juga ‘yummy mommy’ dengan cat kuku tidak terkelupas tapi tetap mampu membuat rumah tampak bersih dan rapi dan anak-anaknya pun tidak ingusan. Tapi ibu-ibu tersebut adalah Victoria Beckham, si Bree dari Desperate Housewife, ibu-ibu robot di film Stepford Housewives atau para istri yang suaminya mampu membayar segala macam tukang - tukang nyuci dan ngepel, tukang jaga bayi, tukang kebun, tukang masak, tukang nyeteir, tukang pijet...

Berhubung kami bukan istri pemain bola atau istri tycoon, maka masalah kami pun sama. Masalah ibu rumah tangga. FunkyMami mendengarkan cerita si ipar betapa dia tiap hari mulai pagi sudah jungkir balik supaya anak-anaknya nggak telat sekolah dan blazernya tetap bersih dari tumpahan susu atau olesan mentega. Dia sering dapat tegoran si bos karena telat kerja akibat macet atau anak yang rewel. Sering dia tidak bisa makan siang karena jam makan siangnya dipake buat belanja di supermarket. Setelah jemput anak sekolah dia harus bersih-bersih rumah. Habis itu ngantar anak kursus. Begitu pulang langsung menyiapkan makan malam. Setelah memandikan dan menidurkan anak-anak giliran bersih-bersih dapur. Setelah itu barulah dia punya waktu untuk nonton TV sambil setrika. Si ipar juga sempat mengungkapkan bahwa sebenarnya dia iri dengan posisi FunkyMami yang tidak harus bekerja sehingga bisa berkonsentrasi penuh untuk urusan rumah dan anak. FunkyMami paham betul situasi si ipar karena sebelumnya FunkyMami juga tinggal di tempat yang sama dan dia tahu betul bagaimana rutinitas seorang ibu di sana.

Lalu giliran si ipar mendengarkan cerita FunkyMami tentang betapa malasnya FunkyMami berdandan karena merasa tidak ada gunanya kalau seharian hanya mengurusi rumah dan anak. Betapa irinya FunkyMami melihat suami yang tiap hari tampak smart dengan jas dan dasinya, mendengar cerita-cerita menarik tentang orang-orang yang dia temui di tempat kerja. Betapa FunkyMami sering merasa bersalah karena tidak membantu memberi nafkah buat keluarga. Betapa FunkyMami dying untuk bisa membeli barang dengan uang sendiri. Betapa susah payahnya FunkyMami berusaha mendapatkan pengakuan bahwa apa yang dikerjakan sehari-hari juga termasuk kontribusi penting bagi keluarga. Betapa rasa tertekan itu ternyata mampu mengakibatkan penyakit depresi yang membuat FunkyMami sering terbangun tengah malam dan menemukan diri menangis diam-diam dalam ruang tamu yang gelap tanpa tahu kenapa dia harus menangis.

Masalah-masalah ini adalah masalah umum di kalangan ibu rumah tangga. Begitu umumnya sampai-sampai keluhan semacam ini hanya akan mengundang cibiran: “Mengeluh lagi, mengeluh lagi…” Masih beruntung kalau cuman mendapat cibiran, tapi kalau kita berkeluh kesah dengan orang yang salah kita malah sering mendengar komentar-komentar seperti ini:


“Tetanggaku malah anaknya empat. Coba bayangkan, betapa susahnya!”
“Jaman orang tua kita dulu semuanya dikerjakan dengan tangan, tapi mereka tetap berhasil mendidik anak-anaknya!” 
“Suamimu itu lho bukan tukang judi, tukang mabuk dan tukang main perempuan. Anak-anakmu juga sehat. Masih kurang?”

Lalu komentar ini nih yang seolah tamparan yang bikin kita langsung tutup mulut dan menelan pahit segala keluh kesah:

“Kamu seharusnya bersyukur karena Tuhan telah memberimu banyak keberuntungan. Begitu banyak orang yang jauh lebih sengsara di dunia ini.”
Knocked over lah alias K.O!

Tentu saja semua komentar di atas benar adanya dan memang bisa kita jadikan cambukan agar kita ‘terbangun’ dari segala keluh kesah. Tapi, *mohon jangan disalah artikan ya*, keluh kesah sesama wanita bukanlah berarti kita tidak bersyukur. FunkyMami amat sangat mensyukuri tentang siapa dia dan yang apa yang dia punya, dan dia berharap semoga semua itu tidak akan pernah diambil kembali oleh Nya. Tapi FunkyMami adalah manusia biasa. Tidak boleh kah kita jujur tentang apa yang kita rasakan? Tidak bolehkah kita mengekspresikan kebosanan atas tugas-tugas yang selalu sama setiap hari? Tidak bolehkah kita sesekali saja berucap seolah kita ini bukan termasuk orang yang bijak?

Sepertinya, berkeluh kesah sesama wanita sering mengakibatkan kita harus melebel diri sendiri dengan judul “IBU YANG TIDAK BERSYUKUR.”

Sering keluh kesah kita ditanggapi dengan sikap 'aku ini lho benar-benar survivor ' alias orang yang bertahan hidup dari segala gemblengan. Atau kadang ditanggapi dengan nasehat-nasehat yang mencerminkan bahwa si pemberi nasehat adalah wanita yang lebih bijak. Bahkan kakak FunkyMami sendiri nih pernah berkomentar: “Kan bersih-bersih rumah pake mesin. Kok bisa cape sih?” Dalam hati FunkyMami menggertutu: “Emang mesin bisa jalan sendiri cuman dipelototi? Haiya… kok bisa ajang keluh kesah diubah menjadi ajang kompetisi untuk menunjukkan siapa Sang Pendekar Ibu. Kadang FunkyMami pikir nggak fair kalau kita sudah putuskan untuk mempercayai seseorang dengan menceritakan masalah kita tapi ujung-ujungnya malah ditanggapi dengan penilaian-penilaian yang bikin kita menjadi merasa bersalah.

Berkeluh kesah sesama wanita tentang rumah tangga hanyalah sebuah cara untuk melonggarkan sesak napas yang disebabkan oleh kekecewaan-kekecewaan yang menumpuk. Tidak lebih dari itu. Berkeluh kesah tentang keluarga bukan berarti kita tidak menghendaki anak kita lagi atau ingin menukar suami dengan laki-laki lain. Kita sebenarnya mencintai apa yang kita punya. Dan meski sering mengeluh kita juga tetap ingin mengerjakan tugas-tugas sebagaimana kewajiban kita. Tapi kadang kita juga butuh pengakuan bahwa apa yang kita kerjakan bukanlah pekerjaan yang mudah. Dan tentunya sesama wanita seharusnya saling memahami kondisi tersebut dan saling membantu meringankan beban, bukan malah memberi vonis yang bikin kita semakin kehilangan napas. Bisa didengarkan dan dimengerti adalah tujuan terpenting dari kegiatan keluh kesah ini. Mungkin kita beruntung bisa mendapatkan solusi, tapi biasanya kita sudah cukup lega saat wanita lain berkata: 'Aku bisa rasakan apa yang kamu alami. Aku juga pernah mengalaminya. My heart is with you sweet heart.' Bahkan nggak perlu kata-kata itu, sebuah pelukan saja sudah cukup untuk membangkitkan semangat.

Itulah sebabnya kenapa FunkyMami dan si ipar bisa menikmati percakapan malam itu sampai berjam-jam. Acara ulang tahun itu ternyata kami pakai untuk saling berbagi masalah. Kami benar-benar bahagia malam itu karena akhirnya kami bisa menemukan seseorang yang bisa mengerti kondisi kami. Kami mentertawakan diri sendiri, bergossip tentang suami, memuja kelucuan anak sekaligus menggerutu tentang kenakalan mereka, membicarakan orang tua yang sepertinya susah mengerti... dan buntut-buntunya kami saling berpelukan. Kami lega karena tidak ada prejudis atau sakwa sangka, tidak ada penilain dan tidak ada tuduhan. Semuanya bisa dimengerti dan diterima dengan akal dan hati.

Dan setelah kami mengungkapkan segala keluhan itu, akankah situasi dan kondisi di rumah tangga kami berubah? Tentu saja tidak, karena tujuan percakapan kami bukanlah untuk mencari solusi. Tapi yang jelas, setelah berkeluh kesah itu FunkyMami bisa menemukan satu sudut pandang baru tentang bagaimana dia harus menghadapi masalahnya.

Malam itu kami tidak banyak bicara lagi di tempat tidur. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. FunkyMami berencana akan meluangkan waktu lebih banyak untuk bermain dengan anak-anak dan berusaha menjadi orang penyabar seperti si ipar. FunkyMami berjanji akan memandang situasi jobless-nya sebagai bonus untuk melakukan apa saja yang selama ini FunkyMami inginkan tapi tidak punya waktu untuk melakukannya. Dan mungkin, mungkin saja, si ipar akan lebih menikmati pekerjaannya di kantor sebab dia sekarang tahu betapa dia tampak smart dan sexy dengan blazer dan sepatu hak tingginya itu. *FunkyMami sambil melirik kaos Hard Rock Cafe-nya yang sudah buluk*