Showing posts with label Tips. Show all posts
Showing posts with label Tips. Show all posts

10/21/2011

Persaingan kakak adik



LIMA CARA MENYIKAPI PERSAINGAN KAKAK ADIK

Mereka terlahir untuk dicintai dan mencinta. Tiap hari disayang dan dididik untuk menjadi anak yang lembut hati. Tapi begitu si Adik lahir mulailah si Kakak merasa betapa si makhluk imut itu adalah monster kecil yang merusak eksistensinya. Masa-masa kehidupan seorang pangeran dan putri pun berakhir sudah. Yang ada hanyalah masa-masa seorang ajudan... Yep, welcome to the real world!

Meski banyak kakak adik yang sangat beruntung bisa menjadi sepasang sahabat, banyak juga kakak adik yang tak ubahnya Mohammad Ali v.s Larry Holmes. Terutama banyak kakak-kakak yang merasa posisi pentingnya dalam keluarga tiba-tiba tergeser oleh kehadiran si adik. Jujur saja, mereka memang benar-benar kalah saingan. Yang jelas, kalah lucu! Ngomong-ngomong soal lucu, oh, betapa mudah berubah cara pandang kita terhadap kelucuan seorang anak. Waktu si Adik belum lahir, biar dicibir kiri kanan, si Kakak yang sudah berumur 6 tahun adalah anak yang super lucu dan menggemaskan. Bahkan, tetangga FunkyMami masih suka melucu-lucukan anaknya yang sudah hampir 9 tahun! Maklum, dia anak tunggal. Tapi begitu si Adik lahir, tiba-tiba si Kakak harus menjadi sosok ‘anak lebih tua’ yang harus bertanggung jawab, tidak manja, berbaik hati sama si adik meski ditonjokin...

Dan oh, betapa seringnya kita mengabaikan perasaan si Kakak tanpa sadar. Betapa kita lupa bahwa jika kita berada di posisi si Kakak, perasaan kita pun bakal hancur lebur. Semua yang dia miliki sebelumya terampas begitu saja, nggak cuman perhatian orang tua tapi juga mainan plastik Sponge Bob dari Mc Donald. Rasa iri pun mulai menggerogoti dan perang Baratayuda tak bisa dihindari. Apa yang kita lakukan?
“Ya ampun kakak, udah besar tapi nggak ngerti juga. Adik kan masih kecil, biarin aja dia ambil mainanmu!”
“Jangan mukul balik, tenaga si adik kan nggak sekuat tenagamu!”
“Bisa jadi si adik yang mulai, tapi kamu yang besar harus ngalah!”
“Jadi kakak harus pandai-pandai ngasih contoh. Lihat tuh, gara-gara ulahmu, dia ikut-ikutan nakal!”

Salahkah si Kakak jika dia tiba-tiba berhayal pingin minggat ke rumah panti asuhan?

Huh, salah lagi, salah lagi. Betapa susahnya jadi orang tua. ‘Sapa suruh datang Jakarta, sapa suruh datang Jakarta’ *sambil siul-siul*

Bapak-bapak, ibu-ibu, apapun yang kita lakukan dalam menghadapi persaingan kakak adik tidak akan benar di mata anak. Meski kita memproklamirkan depan anak bahwa kita adalah ortu yang adil, di mata mereka kita tak ubahnya ibu tiri si Cinderella. Betapapun persis garis-garis potongan roti sandwich yang kita buat, di mata mereka satu sandwich bentuknya kuadrat, satunya lagi jajaran genjang. Jadi, kita nggak perlu meratapi diri karena merasa gagal menjadi ortu yang adil.

Lima poin di bawah mungkin bisa membantu kita dalam menyikapi perang Baratayuda anak-anak kita:


  1. Jangan terlalu berharap tentang ‘perfect harmony’ (keharomonisan yang sempurna). Hubungan kakak adik penting untuk belajar bersosialisasi. Beda pendapat dan perselisihan adalah termasuk di dalamnya.
  2. Beri pujian jika memang layak mendapatkannya. Jika anak bermain bersama dengan baik dan saling berbagi, beri perhatian dan pujian. Jangan terlalu cepat campur tangan jika tiba-tiba mereka bertengkar dan ‘hukum’ si nakal dengan tidak memberi perhatian.
  3. Kita adalah contoh nyata. Sikap, perbuatan dan kata-kata kita saat berselisih dengan pasangan adalah contoh nyata bagi anak-anak. Anak-anak akan mendapat contoh yang baik jika kita menyelesaikan masalah dengan suami/istri dengan sikap tenang dan bijaksana.
  4. Buat permainan. Kegiatan dan permainan team yang menyangkut ‘giliran’ dan ‘bekerja sama’ sangat membantu anak-anak untuk menghindari perselisihan.
  5. Play fair. Perlakukan anak-anak dengan seadil-adilnya dan jangan pernah berasumsi bahwa salah satu dari mereka selalu si biang keladi. Anda akan terkejut, betapa cerdik cara mereka untuk mengambil perhatian kita. Bahkan tidak jarang si kecil yang tampak innocent adalah si biang keladi.

9/28/2011

Meningkatkan Rasa Percaya Diri



Lima cara untuk meningkatkan rasa percaya diri anak:


  1. Mengerti arti kata ‘Percaya Diri’. Percaya diri bukan berarti egois, membanggakan diri yang menjurus ke arah kesombongan atau merasa lebih superior terhadap orang lain. Anak yang memilik rasa percaya diri secara sehat akan merasa berguna, berharga dan tidak gampang gentar.
  2. Menghormati. Tanyakan opini anak dan dengarkan apa yang ingin mereka ungkapkan.
  3. Kembangkan sikap ‘sadar diri’. Bantu anak untuk menyadari efek dari perbuatannya terhadap orang lain, baik perbuatan benar maupun perbuatan salah.
  4. Mendorong sikap ‘menerima kenyataan’. Ajarkan anak untuk menerima keadaan dirinya apa adanya, bahwa ada kalanya manusia berada di atas putaran roda, tapi juga kadang berada di bawah. Beri anak pengertian bahwa kita tidak harus selalu dalam kondisi baik. Kadang kita juga memiliki ‘bad days’ atau hari-hari yang tidak menyenangkan. Fluktuasi tentang rasa pecaya diri dan rasa kompeten pada anak adalah normal.
  5. Sudahkah kita menjadi contoh positif? Terlalu keraskah kita terhadap diri sendiri? Terlalu tinggikah tuntutan kita terhadap diri sendiri? Mari kita pelihara dan pupuk rasa percaya diri kita. Mudah-mudahan anak kita akan mencontoh sikap kita.

5/31/2011

Dokter gigi? Siapa takut!


Lima cara agar kunjungan ke dokter gigi berjalan lancar


  1. Tenang dan biasa. Semakin kita membesar-besarkan urusan pergi ke dokter gigi, semakin takut anak.
  2. Persiapkan anak. Beritahu anak tentang jadwal berkunjung 30 menit sebelum meninggalkan rumah dan bersikaplah seperti mau berangkat belanja. Sebaiknya jangan ceritakan pengalaman pribadi yang bisa bikin anak takut.
  3. Selalu dekat dengan anak. Anak akan merasa nyaman bila Anda duduk di dekatnya di ruang perawatan, tapi usahakan tidak menunjukkan rasa kekhawatiran Anda. Anak akan merasa takut jika melihat ekspresi wajah Anda yang tampak was-was.
  4. Pengamat yang baik. Biarkan dokter gigi melakukan pendekatan dengan anak dengan caranya sendiri, sementara Anda cukup mengawasi tanpa berkomentar.
  5. Buat anak merasa aman dengan menggenggam tangannya, terutama saat melalui prosedur yang menakutkan, seperti saat disuntik.

6/08/2010

Membiasakan cuci tangan




Lima cara untuk membiasakan anak mencuci tangan:


  1. Terangkan kegunaan mencuci tangan secara teratur. Jelaskan mengapa harus mencuci tangan sebelum makan, memasak dan setelah menggunakan toilet.
  2. Gunakan sabun dan air, dan sabuni tangan sekitar 15 detik. Ajari anak mencuci antara jari-jarinya, dan jika perlu gunakan sikat untuk menghilangkan kotoran dalam kuku.
  3. Jika anak enggan  mencuci tangan, gunakan sabun warna-warni khusus buat anak. Bisa dicoba menggunakan star-chart, yaitu daftar cuci tangan dengan memberi tanda bintang setiap kali anak cuci tangan - bila perlu beri sticker tanda bintang untuk memberi semangat.
  4. Ajak anak menyanyi (untuk balita) saat mencuci tangan, bila perlu lagu khusus cuci tangan.
  5. Jadilah contoh yang baik. Penelitian menunjukkan satu dari tiga orang dewasa tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet.

6/04/2010

Mengenal bentuk





Lima cara untuk mengajari anak mengenal bentuk:


  1. Jelaskan. Tiap benda punya bentuk - bola, mobil, lemari, roda.
  2. Susun atau bangun. Gunakan Lego dan building blocks untuk membangun dan meniru bentuk-bentuk bangungan. Misal, bentuk rumah, bentuk garasi dab sebagainya.
  3. Cetak. Gunakan play dough dan cetakan biskuit untuk membuat bentuk yang berbeda-beda. Jangan lupa menyebut nama tiap bentuk.
  4. Gambar sebuah rumah di atas kertas dan minta anak untuk menggambar cendela berbentuk kotak, pintu berbentuk persegi panjang, atap berbentuk segitiga dan matahari di atas rumah berbentuk bundar.
  5. Mengacak dan mencocokkan. Beri anak satu set potongan kertas/karton dengan bentuk yang berbeda-beda dan terangkan nama tiap-tiap bentuk. Kemudian, buat lagi satu set dengan ukuran lebih kecil. Letakkan semua potongan kertas/karton di atas meja, dan suruh anak untuk mencocokkan bentuk yang kecil dan yang besar.

5/25/2010

Mengajari menulis nama



Lima cara mengajari anak menulis nama:


  1. Tunjukkan nama anak dengan huruf-huruf magnet dan tempelkan pada pintu lemari es atau papan. Ambil huruf-huruf tersebut dan suruh anak untuk menata kembali.
  2. Mempraktekkan bentuk huruf dengan menulis di atas pasir, salju atau cendela kaca yang berembun.
  3. Hubungkan titik-titik. Ubah tiap huruf nama anak menjadi sederetan titik-titik dan suruh anak untuk menghubungkan. Selain permainan ini menyenangkan bagi anak, anak juga mempelajari bentuk-bentuk huruf.
  4. Pegang tangan anak untuk membantu menulis. Hal ini akan membiasakan anak dengan gerakan motor tangan yang harus digunakan dalam membentuk huruf.
  5. Meniru tulisan. Tulis nama anak di atas kertas dan suruh anak meniru tulisan Anda di bawahnya. Gunakan pesil-pensil warna yang berbeda agar latihan lebih menyenangkan.

5/24/2010

Mengatasi kutu kepala




Lima cara untuk memberantas kutu kepala:


  1. Kenali si musuh. Buka-buka rambut anak dan lihat kutu yang bentuknya kecil, hitam dan telurnya berwarana putih yang menempel pada helai-helai rambut. Masalah kutu rambut sangat sering terjadi pada anak usia antara tiga sampai sebelas tahun.
  2. Buru si musuh. Dalam keadaan basah, sisir rambut anak dengan sisir bergigi kerap. Lakukan tiap tiga hari atau lebih.
  3. Atasi secara kimiawi. Guankan obat kimiawi yang berbentuk cair yang bisa membunuh kutu dan telurnya. Obat ini bisa dibeli di apotik. Cek lebelnya, apakah sesuai dengan umur anak.
  4. Lanjutkan menyisir. Gunakan conditioner dan sisir bergigi kerap untuk menyisir rambut dari akar sampai ujungnya. Lakukan dua kali seminggu selama pengobatan.
  5. Bersikap tenang. Jangan mengisolasi anak. Kutu rambut tidak menyebar dengan mudah di sekolah, seperti kebanyakan orang percaya. Perlu waktu minimum 30 menit bersentuhan antara rambut sehat dan rambut yang berkutu sampai terjadi penularan.

Lebih jauh tentang kutu kepala, silahkan baca postingan ini: Kutu kepala? siapa takut!

5/23/2010

Menghisap jempol




Lima cara untuk menghentikan menghisap jempol:


  1. Jangan hanya menyuruh. Kerjasama dengan anak untuk menghentikan kebiasaan. Jika anak mau berhenti, saran-saran berikut bisa membantu.
  2. Beri alasan kenapa harus berhenti. Kalimat seperti: “Masak kamu mau menhisap jempol terus sampai kamu masuk sekolah?” biasanya membantu.
  3. Antisipasi saat mau menghisap. Apakah anak menghisap jempol saat bosan atau lapar? Bantu anak untuk menghindari situasi yang bisa membuatnya menghisap jempol dengan menawarkan hal-hal yang bisa menarik perhatiannya.
  4. Sembunyikan barang-barang kesayangannya. Menghisap jempol biasanya sejalan dengan menenteng sesuatu yang bisa membuat anak merasa nyaman, seperti selimut kesayangan, Teddy bear atau sapu tangan.
  5. Usahakan anak tidak mempunyai akses dengan barang-barang tersebut pada siang hari.

Info lebih lengkap silahkan klik: http://www.thumbguard.com/Fingerguard.htmlatau http://www.thumbguard.co.uk/treatment_options.php

5/22/2010

Mempelajari warna




Lima cara bagi anak untuk mempelajari warna:


  1. Baca buku-buku berwarna dengan ilustrasi yang mencolok.
  2. Bermain game tentang warna seperti permainan tebak-tebakan ‘Aku lihat sesuatu warna…’. Permainan bisa dilakakan untuk benda-benda berwarna dalam rumah, atau saat sedang macet di jalan.
  3. Isi hari dengan warna. Ajak anak bicara tentang warna-warna yang tampak di sekitar. Mulai hari dengan bertanya: “Hari ini kamu mau pita rambut merah atau biru?” Atau saat makan pagi dengan bertanya: “Mau makan dengan piring yang kuning atau yang hijau?”
  4. Kumpulkan warna. Ajak anak bermain dengan mengumpulkan warna tertentu, misal dengan kelereng, pensil warna, karet rambut atau melukis dengan cat warna. Letakkan benda-benda yang berwarana sama dalam satu wadah.
  5. Pilih warna favorit. Tentukan satu warna favorit dan tunjuk benda-benda yang mempunyai warna sama sepanjang perjalanan ke playgroup, seperti mobil merah, lampu merah, nenek pakai baju merah.