Showing posts with label Kedisiplinan. Show all posts
Showing posts with label Kedisiplinan. Show all posts

7/09/2012

Agar anak tidak menyia-nyiakan makanan



Menurut laporan FAO (Organisasi Bahan Makanan dan Pertanian PBB), sekitar 1,3 milyar ton makanan hilang atau terbuang sia-sia setiap tahun. Jumlah tersebut adalah sepertiga dari jumlah produksi makanan yang dikonsumsi oleh manusia di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, 222 juta ton adalah makanan yang terbuang dari ‘negara-negara kaya’ - jumlah yang setara dengan jumlah seluruh produksi makanan di bagian Sahara Selatan (sub-Saharan Africa) di benua Afrika.

Trenyuh. Begitu banyak orang kelaparan, begitu banyak pula makanan terbuang. Si bocah cilik berjemur seharian meminta sedekah, sementara si anak 'berada' malah tidak mau menghabiskan Cheese Burger - nya setelah merengek-rengek. Lebih parah, malah meminta makanan lain.

Tidak cukup hanya dengan kata-kata


Suatu hari sekolah si S mengadakan acara sosial, yaitu semua murid di kelasnya mengunjungi sebuah panti asuhan. Sejak saat itu si S mengerti bahwa tidak semua anak memiliki keberuntungan yang sama. Seiring dengan rasa ingin tahunya tentang mengapa anak-anak itu tidak memiliki orang tua, mengapa mereka harus mendapatkan sumbangan dan sebagainya, dia pun mulai tertarik meminjam buku-buku di perpustakaan kota tentang kehidupan anak-anak di negara-negara lain. Suatu hari dia membaca sebuah cerita tentang bagaimana anak-anak di Afrika yang harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air bersih dan berjalan kembali berkilo-kilo meter sambil memanggul ember penuh air. Sebuah momen yang tepat bagi FunkyMami untuk memperkenalkan si S lebih dalam tentang kenyataan-kenyataan pahit yang harus dihadapi anak-anak di negara-negara lain. Meski dampaknya sangat menyedihkan, tapi si S mulai belajar realita hidup dari berita di TV, gambar di koran atau video di YouTube. Si S pun mulai mengerti keterkaitan tentang kata ‘kelaparan’ dan ‘tidak menyia-nyiakan makanan’.

Membiasakan diri sejak dini

FunkyMami yakin banyak pembaca yang baik budi dan mampu menyisakan hartanya untuk menyumbang orang-orang yang kurang beruntung, dan juga mengajari anak-anaknya untuk sering ‘melihat ke bawah’. Sebuah tindakan ‘kuratif’ yang sangat terpuji. Tapi bukankah tindakan ‘kuratif’ akan lebih baik lagi jika diiringi dengan tindakan ‘prefentif’? Disamping membiasakan anak untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung, bukankah lebih baik jika kita juga membiasakan anak-anak kita untuk tidak menyia-nyiakan apa yang dia punya? Masalahnya, menerangkan dan memberi contoh anak-anak usia preschool atau TK tidak semudah anak-anak usia sekolah. Keterangan, gambar di koran atau berita di TV masih sulit untuk dimengerti anak preschooler. Apalagi banyak anak kecil yang masih suka makan pilih-pilih. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa belajar untuk tidak menyia-nyiakan makanan.

Cara-cara di bawah mungkin bisa membantu mereka:


Sedikit demi sedikit.

Saat menyajikan makanan di piring anak, beri makanan secukupnya. Kalau dia protes minta lebih banyak, beritahu dia bahwa dia akan mendapatkan makanan lagi kalau yang dipiring sudah dihabiskan. Kalau dia masih mau lagi, beri separuh porsi pertama. Begitu seterusnya.

Hargai pilihan anak

Sejalan dengan proses mengajari anak agar tidak gampang membuang makanan di tempat sampah, maka kita pun harus memberi kelonggaran bagi anak untuk memilih makanan yang dia benar-benar ingin memakannya. Apa untungnya memaksa anak memakan sesuatu yang hanya akan dipelototi sebelum masuk ke tempat sampah? Memang, kesannya seperti mendukung anak untuk ‘pilih-pilih’, tapi jujur saja, tidak semua orang dewasa menyukai tiap jenis sayur, daging atau ikan. Semakin dipaksa kita pun akan semakin hilang selera. Begitupun anak-anak. Acara makan yang seharusnya santai, menyenangkan dan penuh selera bisa berubah menjadi acara makan penuh dengan ancaman dan omelan. "Kalau makanan tidak dihabiskan, nggak boleh nonton TV!" Sebuah ancaman yang umum kita dengar.

Kita juga bisa bertanya dulu sebelum menaruh makanan di piring anak. Misal, nasinya banyak atau sedikit? Apakah dia mau sausnya di atas nasi atau di samping? Apakah dia mau sayur dan sebagainya. Menghargai pilihan anak juga mendorong anak untuk belajar menghargai keinginan orang lain.

Simpan di kulkas dan dimodifikasi

Sisa makanan yang masih banyak atau bahkan hampir tidak tersentuh bisa kita simpan dalam kulkas. Memang anak tidak akan gembira melihat makan siangnya muncul lagi sebagai makan malam dengan bentuk yang sama. Kita juga tidak harus menyajikan kembali makanan lama, yang bisa kita lakukan adalah ‘menyelamatkan’ sisa-sia makanan yang bisa kita olah kembali. Misal, sisa daging kita simpan dan kita olah lagi untuk campuran nasi/mie goreng.

Potong kecil-kecil bila perlu

Jika kita bisa memakan sebuah apel sampai habis, belum tentu anak kecil bisa melakukannya karena selain ukuran perutnya lebih kecil, selera anak juga nggak pasti. Kadang mereka ngotot minta apel hanya gara-gara melihat anak tetangga makan apel. Kita bisa memberi separuh makanan dulu untuk memastikan dia memang bener-bener menginginkannya. Kalau masih pingin beri sisanya. Makanan yang dipotong kecil-kecil secara visual juga lebih mudah bagi anak untuk menghabiskan dibanding dengan segunung makanan yang tampak terlalu banyak untuk dihabiskan.

Saat makan di luar rumah

Saat memesan makanan di restoran, pesan makanan dari daftar menu anak. Jika tidak tersedia, anak bisa sharing sama orang tua dengan meminta piring tambahan. Jika makanan benar-benar masih banyak tersisa, jangan malu-malu untuk meminta doggy bag alias dibungkus untuk dibawa pulang. Kebanyakan tukang saji rumah makan sudah terbiasa melayani doggy bag. Mungkin beberapa dari kita merasa malu, gengsi atau merasa terlalu repot hanya untuk makanan yang harganya ‘tidak seberapa’. Sebaiknya kita abaikan perasaan ini dengan membayangkan makanan selejat itu (tidak gratis lagi) harus masuk tong sampah. Dan ingat juga, harga ‘tidak seberapa’ itu amatlah relatif. Apalagi kita bisa menyimpan sisa makanan tersebut di kulkas untuk dimakan pada malam hari atau besok siang.


Saat makan di tempat pesta

Pasti banyak dari kita berpikir, asyik diundang pesta, bakal makan gratis. Maka tiba-tiba mata pun lebih besar dibanding kapasitas perut. Ambil ini itu, itu lagi dan ini lagi, yang buntut-buntutnya malah nggak bisa dihabiskan. Begitu juga saat pesta ulang tahun anak. Anak kecil biasanya sangat gembira melihat banyaknya jenis makanan favorit yang tersedia berjejer-jejer. Baik orang tua maupun anak seharusnya mengerti, menyia-nyiakan makanan orang nggak beda dengan menyia-nyiakan makanan sendiri. Anjurkan anak untuk memilih beberapa makanan dulu yang benar-benar dia sukai. Setelah habis dan merasa masih bisa nambah, persilahkan untuk memilih lainnya.

Ajak anak belanja

Mengajak anak berbelanja dan menunjukkan harga masing-masing bahan makanan adalah cara yang baik untuk menerangkan harga sebuah makanan. Cara ini cocok bagi anak yang sudah mengenal angka. Tapi hanya dengan menunjukkan angka-angka tidak akan membantu mereka untuk mengerti ‘harga’ sebuah makanan. Kita harus memberi perbandingan yang bisa masuk di akal mereka, misal, harga satu kotak susu sama dengan uang sakunya per minggu. Dengan begitu dia bisa membayangkan sering membuang susu sama dengan membuang uang saku.

Tidak menyia-nyiakan TIDAK SAMA dengan pelit

FunkyMami percaya pasti banyak dari pembaca yang benar-benar mampu membeli makanan sehingga tidak harus repot-repot berurusan dengan makanan sisa. Menyimpan buah apel yang sudah digigit, memotong bekas gigitan, menyucinya dan menyajikannya kembali mungkin terkesan pelit bagi beberapa orang. Tapi harap dimengerti, tidak menyia-nyiakan makanan bukan berarti berjiwa pelit, melainkan sebuah prinsip, yaitu kesadaran untuk menghargai sesuatu yang sangat berharga bagi orang lain yang membutuhkannya tapi tidak bisa mendapatkannya.

Belajar dari melihat

Sebelum kita membiasakan anak untuk tidak menyia-nyiakan makanan maka sudah seharusnya kita pun tidak gampang menyia-nyiakan makanan. Seperti yang kita ketahui, anak lebih banyak belajar dari sikap dan perbuatan orang tua daripada kata-kata. Jika kita mudah membuang makanan di tempat sampah, maka mereka pun akan berpikir tidak masalah membuang makanan di tempat sampah.

5/31/2011

Berbadan pendek pasti sering diledek, benarkah?



Oke, anak kita termasuk berbadan pendek. So what?

Kebetulan nih, si Kutilang, anak FunkyMami, badannya paling pendek di kelas, meski umurnya paling tua. Sejauh ini sih dia belum pernah mengeluh diledek teman karena tinggi badannya. Mungkin karena dia anak cewek. Sepertinya, secara umum cewek berbadan pendek dianggap lumrah. Mungkin karena masyarakat terbiasa dengan kenyataan bahwa cowok biasanya lebih tinggi dari cewek. Di samping itu banyak selebriti berbadan pendek yang sangat populer, seperti Yuni Sarah, Kylie Minoque, atau Salma Hayek.

Sebaliknya, cowok berbadan pendek bisanya lebih gampang menarik perhatian. Bahkan tidak jarang anak cowok berbadan pendek menjadi bahan ejekan dan dibuli teman-temannya. Sebagian bisa mengatasi masalah ini dengan menunjukkan karakter lucunya yang membuat banyak teman menyukainya. Tapi sebagian bisa menjadi agresif dan penuntut – atau yang biasa disebut ‘Napoleon Complex’.
Memang sih, panggilan ‘si pendek’, ‘si bonsai’, ‘si cebol’ dan sejenisnya bisa bikin merah telinga. Apalagi panggilan-panggilan tersebut memang sengaja diciptakan dengan tujuan mengejek. Yang jelas anak kecil memang suka meledek temannya yang tampak beda dari lainnya. Yang menjadi pertanyaan,
"Apakah semua anak berbadan pendek selalu menjadi sasaran empuk buat diledek? Ternyata jawabanya tidak.

Kunci utamanya adalah ‘self-esteem’ atau rasa percaya diri alias nggak minder. Sebuah penelitian jangka panjang yang dilakukan di University of Gothenberg di Swedia, telah menyelidiki mengapa sebagian anak bertubuh pendek mengalami perkembangan mental dengan baik, sementara sebagian lagi mengalami masalah. Mereka menemukan jawaban bahwa sikap orang dewasa lah yang menyebabkan perbedaan tersebut. Kebahagiaan anak berbadan pendek kemungkinan besar tergantung pada bagaimana orang tua dan orang dewasa lainnya memperlakukannya. Anak cowok berbadan pendek yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri tidak akan diledek teman-temannya karena dia mempunyai rasa percaya diri yang kuat dan nggak minder. Terlepas dari kondisi tubuhnya, biasanya mereka tetap gembira dan mudah beradaptasi. Tipe anak berbadan pendek seperti ini biasanya datang dari keluarga yang tidak mempermasalahkan tentang tinggi badan. Anak yang memiliki orang tua yang suportif bisa mengatasi faktor resiko lebih baik.

Yang menarik, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang memiliki orang tua yang juga berbadan pendek sangat jarang mengalami masalah psikologi. Mungkin karena orang tua mereka adalah panutan yang baik. Orang tua yang berbadan pendek biasanya tidak mempermasalahkan tentang tinggi badan ataupun mencari bantuan medis.
Jika anak dihargai, sering dipuji, dan memiliki komunikasi yang baik dengan keluarganya, maka dia akan memahami bahwa berbeda dengan lainnya tidak harus membuatnya merasa rendah diri.

5/29/2011

Bullying di sekolah

Android Apps: Bully Block Review BB Ad



Bullying… hem, kira-kira apa yang bahasa Indonesianya? Kata bullying memang belum ada dalam terminologi bahasa Indonesia. Perngertian kata bullying mungkin seperti ini:

"Segala bentuk perilaku yang dilakukan untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan terhadap orang lain. (Tolong dibenarkan kalau salah ya…)

Untuk gambaran jelasnya, mari kita flash back ke masa sekolah kita dulu. Bagi yang pernah jadi korban bulli, pasti masih lekat di kepala bagaimana rasanya diolok, diejek, dan dijuluki hanya karena bentuk dan warna fisik. Sasaran empuk lainnya adalah anak-anak apes yang bapaknya bernama Jawa 'retro' non ningrat seperti Paijo, Sukir, Paidi, dan sebagainya. Bahkan pekerjaan orang tua yang dianggap mamalukan pun tega-teganya dijadikan bahan ejekan.

Kenyataanya hampir setiap kelas memiliki satu atau beberapa anak nakal yang suka mengganggu teman. Kejadian-kejadian seperti ini sering luput dari pengamatan guru dan orang tua karena dianggap wajar. "Ah, namanya juga anak-anak". Jadi, kalaupun mereka tahu, tidak banyak penanganan serius terhadap masalah ini. Menghukum anak dengan berdiri di depan kelas tidak menghentikan kegiatan bullying keesokan harinya. Terus begitu, berulang-ulang. Satu-satunya yang tersiksa adalah si korban. Dia merasa tertekan dan sendiri. Sekolah bagi si korban adalah momok yang menakutkan.

Kenapa FunkyMami bisa bilang begitu? Karena FunkyMami dulu adalah salah satu korban bullying - semua hanya karena warna kulit mami yang gelap. Untung waktu itu belum musim whitening cream. Bisa-bisa uang saku bisa dipakai untuk program body bleaching alias pemutihan badan murahan yang berakhir dengan wajah memerah bak udang rebus dengan totol-totol permanen. Saking tertekannya, waktu itu FunkyMami sempat berpikir, oh, betapa bahagianya menjadi anak seperti Ira Maya Sopha. Begitu putih seputih baju Cinderellanya...

Syukurlah, perilaku bullying di sekolah saat ini sudah mendapat perhatian yang lebih serius, baik dari guru maupun orang tua. Hadirnya workshop dan informasi online bagi guru dan orang tua tentang bullying dan juga diterapkannya kebijakan anti-bullying di beberapa sekolah adalah merupakan ‘wind of change’, meski beberapa insiden bullying masih terjadi di beberapa sekolah. Tapi setidakanya, saat ini, baik anak maupun orang tua mempunyai strategi yang cukup dalam menghadapi perilaku bullying di sekolah. Hal ini tentu saja membuat para orang tua bisa bernapas lebih lega saat melepas anak ke sekolah untuk pertama kalinya.

Mau nggak mau harus kita akui, di luar sana kadang seperti hutan rimba. Siapa yang kuat maka dia yang berkuasa. Kita sudah terlanjur percaya bahwa ketika anak masih balita, ketika dia masih berada dalam ayoman ibu bapak, maka mereka telah belajar banyak tentang konflik dalam rumah dan tahu bagaimana cara mengatasinya. Maka saat anak kita lepas untuk pertama kalinya dengan seragam sekolahnya, kita percaya bahwa dia sudah memiliki cukup bekal untuk bertahan di dunia barunya – dunia sekolah.
Oh, ternyata alangkah berbedanya dunia anak di luar sana. Anak kita yang sudah bersusah payah belajar disiplin, terbiasa dengan ajaran untuk bertutur dan berperilaku sopan terhadap orang lain, kadang harus meghadapi perilaku yang sangat bertentangan di sekolah. Seolah dia dilepas dari sebuah sangkar yang nyaman dan masuk ke dalam ring pertandinga; dan jika dia beruntung maka dia tidak harus berhadapan dengan harimau pembuli.

Oke, mungkin gambaran FunkyMami terlalu berlebihan, tapi intinya tetap sama: sekolah bisa menjadi dunia yang keras bagi anak di mana dia perlu memiliki skill khusus untuk bisa bertahan di dunia tersebut.

Banyak yang berpendapat, perilaku bullying adalah wajar di usia anak-anak, bahkan termasuk dalam proses tumbuh kembang. Bullying bisa memberi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan bersosialisasi, dan mungkin bisa membantu anak untuk belajar membela diri dan menyelesaikan perselisihan. Benarkah? Entahlah, FunkyMami bukan ahlinya dalam masalah ini. Sebagai orang tua yang pernah menjadi korban bullying, FunkyMami hanya bisa mengemukakan sebuah logika:
Bagaimana mungkin sebuah perilaku dianggap wajar jika dampaknya adalah membuat orang lain merasa sendiri, terisolir, tidak bahagia, ketakutan, merasa tidak aman dan percaya bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya? Wajarkah sebuah perilaku jika dampaknya adalah membuat hidup orang lain sengsara?

Bullying tidak hanya terbatas mengolok dan mengejek, juga tidak terbatas di kalangan usia sekolah. Kegiatan opspek misalnya, bisa digolongkan bullying. Bahkan guru yang suka menghukum murid secara fisik atau mempermalukan murid di depan anak-anak lain juga termasuk bullying.


Perilaku apa saja yang tergolong bullying?


Bullying secara verbal: menjuluki, memaki, memfitnah, mengejek, menghina, mengucap rasis, dan sebagainya.
Bullying secara fisik: memukul, menjegal, mendorong, menawur, menghukum secara fisik, merusak barang korban dan sebagainya.
Bullying secara mental: mengintimidasi, menakut-nakuti atau meneror, memanipulasi, memaksa korban melakukan perintah pelaku dan sebagainya.
Cyberbullying: menggunakan teknologi seperti networking sites (misal, facebook), email atau handphone untuk membuli orang lain secara verbal, sosial maupun mental.
Siapa pelaku bullying?

Pelaku bullying bisa perorangan atau grup. Mereka bisa seumur korban atau lebih tua, dan bisa saja teman, anggota keluarga atau keluarga jauh. Pembuli juga bisa seseorang yang lebih tua, atau seeorang yang memiliki posisi dan kekuatan yang lebih tinggi, seperti guru, orang tua dan bos. Seringkali pembuli adalah pribadi yang kurang memiliki rasa percaya diri, dan menjadi pembuli adalah caranya untuk merasa lebih berkuasa. Pembuli juga sering dimotivasi oleh perasaan iri dan takut. Ingat, pembuli seringkali tidak sekeras atau sekuat penampilannya.

Mengapa melakukan bullying?


Banyak alasan atau penyebab mengapa seorang anak bisa menjadi pembuli. Di antaranya adalah:
  • Sebagai cara untuk menjadi populer, atau membuat diri sendiri tampak kuat dan memiliki kuasa.
  • Mencari perhatian.
  • Iri terhadap korban.
  • Sebagai pelampiasan karena dirinya juga korban bullying di tempat lain, misal, di rumah.
  • Terlalu dimanja sehingga terbiasa membuat orang lain menuruti kemauannya.
  • Ikut-ikutan teman.

Siapa korban bullying?


Beberapa anak menjadi korban bullying tanpa alasan tertentu, tapi sering kali hanya karena mereka tampak lain – misal, cara berbicara, ukuran badan, warna kulit atau karena namanya yang dianggap aneh. Sering juga karena mereka tampak lemah, tidak memiliki rasa percaya diri, pemalu dan susah bergaul. Karena kondisi yang seperti inilah para pembuli merasa si korban harus dikucilkan karena dia tidak cocok atau tidak masuk dalam grup mereka.

Apakah dampak bulliying?


Bagi korban:
  • Sulit untuk tidur atau bahkan kehilangan nafsu makan.
  • Sebuah penelitan melaporkan bahwa korban bullying sering menderita sakit kepala, sakit perut dan demam.
  • Merasa marah, sedih, lemah dan ketakutan.
  • Malas pergi ke sekolah, susah berteman dan takut pergi ke luar rumah.
  • Anak kecil korban bullying sering merasa malu telah diserang, dan takut kejadian akan terulang lagi. Mereka akan kehilangan rasa percaya diri, menjadi agresif dan sulit berkonsentrasi di sekolah. Sebagai akibatnya, hasil belajar pun menurun dan membuat posisi mereka semakin tertekan.
  • Dalam kasus yang sangat berat (nggak semua), setelah dewasa korban bullying bisa mengalami penurunan rasa percaya diri, depresi, ingin merubah diri atau bahkan menyakit diri sendiri, terlibat alkohol dan obat terlarang, terlibat kekerasan fisik dan kriminalitas, berpikiran negatif atau bahkan percobaan bunuh diri.

Bagi saksi atau pengamat:
  • Hasil belajar menurun karena terganggu dan tidak bisa berkonsentrasi.
  • Meski menyayangi si korban, dia tidak mau berteman dengannya karena takut menjadi korban berikutnya. Hal ini membuatnya merasa lemah dan bersalah.
  • Terlalu takut menceritakan kejadian kepada guru karena takut dicap tukang lapor.
  • Kadang malah bergabung dengan grup pembuli, karena selain takut menjadi korban juga merasa tertekan sehingga dia pun melakukannya atas nama pembuli.

Bagi pelaku:
  • Besar kemungkinannya bagi pembuli yang akut untuk memiliki masa depan yang suram. Gaya kepemimpinan yang salah bisa menjerumuskannya ke arah kriminalitas. Contoh dampak bullying bagi pembuli:
  • Memiliki prestasi akademi rendah.
  • Terlibat kebiasaan anti-sosial dan kriminalitas. Penelitian menunjukkan, pembuli usia 8 tahun mempunyai kemungkinan melakukan tindakan kriminal sedikitnya enam kali pada usia 24 tahun.
  • Terlibat obat-obatan terlarang.
  • Melakukan kekerasan terhadap pasangan atau anak sendiri saat sudah menikah.
  • Bagaimana cara mengatasi bullying?

Apa yang harus kita lakukan?


Jika anak kita si korban:

Tidak mudah mengetahui apakah anak kita adalah korban konflik biasa atau konflik bullying. Konflik biasa adalah jika anak mengeluhkan tentang satu atau dua kali kejadian. Sementara konflik bullying terjadi berulang-ulang atau jika anak tampak tidak bahagia dan terganggu kerena sesuatu yang tidak jelas. Kadang anak sangat pandai menyembunyikan perasaan. Tanda-tanda seperti anak tiba-tiba ngompol, lebih sering bertengkar dengan saudara, yang dulunya suka pergi sekolah tiba-tiba jadi malas atau tidak berteman lagi dengan seseorang, bisa dijadikan sebagai petunjuk tentang adanya sesuatu yang tidak beres telah terjadi padanya.
Sebagai langkah awal kita bisa membantu anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Banyak anak menyimpan masalahnya karena takut keterlibatan orang tua dari kedua belah pihak yang bisa memperparah keadaan. Misal, jika anak dicap lemah oleh pembuli, maka dia tidak ingin orang tuanya melaporkan hal ini kepada orang tua si pembuli. Di sekolah bisa jadi dia semakin diteror. Jika pemasalahannya adalah bullying secara verbal, kita bisa memberi anak beberapa setrategi untuk menjadi ‘bully-proof’ atau ‘tahan bullying’, misalnya:
  • Yakinkan anak bahwa yang menjadi masalah bukan dia, tapi si pembuli.
  • Jika kebetulan anak kita lain dari teman-temannya, buat dia merasa bangga atas perbedan tersebut.
  • Jangan hiraukan pembuli, bila perlu suruh berhenti dan menghindar setiap kali bullying mulai.
  • Gunakan kata-kata balasan yang tidak memprovokasi, tetapi yang meredakan. Misal, “Kamu nggak apa-apa hari ini?” atau cukup kata “Terima kasih”.
  • Jika permasalahannya adalah bullying secara fisik, strategi yang bisa kita berikan misalnya:
  • Anjurkan anak untuk melapor ke orang dewasa yang bisa dipercaya, seperti orang tua, guru atau teman orang tua. Tekankan bahwa melapor ke orang dewasa tentang bullying bukan berarti dia ‘tukang lapor’, karena hal ini sangat penting dan hanya orang dewasalah yang bisa menghentikan bullying.
  • Anjurkan untuk sering bermain dengan beberapa teman. Pembuli jarang mengambil korban yang sering bergabung dengan teman-temannya.
  • Meskipun anak merasa sudah menyelesaikan masalahnya sendiri, tetap anjurkan untuk menceritakan kepada orang tua, guru, kepala sekolah, seseorang dari keluarga atau teman orang tua, karena siapa tahu kejadian ini akan terulang lagi. Jika sulit menceritakan, bisa ditulis dan diberikan kepada orang dewasa.

Jika anak kita si pembuli:

Pasti sangat menyedihkan melihat anak yang kita didik dengan baik ternyata mampu membuat hidup orang lain sengsara. Tapi tidak ada kata terlambat untuk menolongnya. Menghukum secara langsung tidak akan menyelesaikan masalah. Berbicara dari hati ke hati dan bersama anak mencari penyebab perilaku jeleknya adalah langkah yang lebih tepat.
  • Sebagai langkah awal kita bisa memantau bagaimana perilaku teman-teman akrabnya. Apakah anak kita ‘mendapat pesan’ bahwa kekerasan adalah cara untuk menyelesaikan masalah? Jika Anda pikir seseorang telah memberi contoh yang jelek, minta si pemberi contoh untuk merubah kelakuannya di depan anak kita.
  • Minta anak untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya saat dia membuli temannya. Jika anak sekedar merasa senang karena telah menyakiti orang lain, anjurkan anak mencari cara alternatif untuk membuat dirinya merasa senang.
  • Jauhkan anak dari akses TV atau game komputer yang banyak menunjukkan kekerasan.
  • Suruh anak membayangkan bagaimana perasaannya jika dia lah yang menjadi korban, bagaimana rasanya menjadi anak yang ketakutan.
  • Ajak anak untuk membicarakan sifat teman-temannya di sekolah. Minta dia menerangkan sifat si korban dan memberi alasan kenapa dia percaya si korban layak mendapatkan perlakukan jelek. Setelah itu suruh dia membayangkan jika dia berada di posisi yang sama dengan si korban.
  • Pembuli yang sudah sadar bisa berubah menjadi pembela yang baik. Beri contoh kehebatan pahlawan komik yang selalu membela yang lemah.
  • Sport adalah cara terbaik untuk melepaskan energi dan memberi anak alasan yang kuat untuk dikagumi teman-temannya.
  • Bekerja sama dengan guru untuk memantau perkembangan anak. Jika kelakuan anak mulai membaik, maka pujian guru akan sangat membantu anak untuk berbuat lebih baik lagi.

Jika anak kita si pengamat:
  • Pengamat bullying bisa menjadi kunci utama untuk merubah perilaku jelek pembuli. Pembuli selalu memerlukan pengakuan dari teman-temannya. Mengajari anak untuk tidak memberi pembuli perhatian atau mengagumi perilakunya bisa menjadi strategi yang efektif untuk menghentikan kelakuannya.
  • Anjurkan anak untuk mencoba menghentikan, karena jika tidak, maka artinya dia menyetujui perilaku pembuli.
  • Anjurkan anak untuk memasukkan si korban dalam grup teman-temannya. Jika pengamat bulliying berteman dengan si korban dan mengisolasikan si pembuli, maka kegiatan bullying bisa menurun.
  • Tekankan bahwa kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita berharap orang lain memperlakukan kita.
  • Bantu si korban untuk menceritakan kejadian kepada orang dewasa yang dia percaya.

Baca topik terkait:

Berbadan pendek pasti sering diledek, benarkah?

4/27/2011

Menciptakan rutinitas waktu tidur



Perlukah kita menerapkan rutinitas waktu tidur?

Sebelum membahas tema ini lebih jauh, perlu FunkMami tekankan bahwa Mami percaya setiap orang tua mengetahui hal yang terbaik bagi si anak. Terlepas dari pro dan kontra, setiap orang tua berhak merasa nyaman atau tidak nyaman tentang kebiasaan orang lain dalam merawat, mendidik dan mendisiplinkan anak. Begitu juga dengan kebiasaan menidurkan anak.


Banyak orang tua merasa tidak tenang jika si bayi harus tidur sendiri di kamar terpisah tanpa pendamping. Banyak juga yang berpendapat bahwa selain nyaman, ikatan batin antara anak dan orang tua akan terjalin lebih kuat jika anak tidur seranjangan dengan orang tua. Di samping itu, anak akan merasa aman berada di samping orang tua saat terbangun tengah malam.

Sementara banyak juga yang berpendapat bahwa tempat tidur paling aman bagi bayi sehubungan dengan masalah SIDS (Sudden Infat Death Syndrome atau sindrom kematian bayi secara tiba-tiba) adalah ranjang yang terpisah dari orang tua. Juga banyak yang berpendapat tentang tingginya resiko kematian pada bayi yang tidur seranjang dengan orang tua yang perokok.

Apapun pilihan Anda dalam meciptakan kebiasaan tidur anak, seharusnya tidak hanya anak yang merasan nyaman, tetapi juga Anda dan pasangan Anda. Meskipun banyak orang tua merasa tenang tidur seranjang dengan anak, banyak juga yang mengeluh atas rasa capek dan ngantuk yang diakibatkan oleh ketidaknyamanan tidur berhimpitan, perasaan was-was takut menindih bayi bahkan keluhan atas terganggunya kehidupan seks.
Posting ini ditulis FunkyMami bagi pembaca yang ingin membiasakan anak tidur mandiri. Yang dimaksud dengan tidur mandiri di sini adalah membiasakan anak tidur di ranjang terpisah dari orang tua dan mengajari anak untuk kembali tidur dengan sendirinya saat terbangun tengah malam.

Bayi yang terbiasa terlelap karena digendong, ditimang, digoyang-goyang, diajak jalan-jalan dengan kereta dorong atau disusui, cenderung membutuhkan perhatian saat terbangun tengah malam. Bayi yang terbiasa terlelap dengan sendirinya, akan kembali tidur dengan sendirinya saat terbangun tengah malam.


Apa yang dimaksud dengan rutinitas waktu tidur?

Rutinitas waktu tidur adalah kegiatan rutin yang dilakukan pada masa transisi, yaitu saat menjelang tidur sampai anak terlelap. Dengan membiasakan rutinitas waktu tidur anak bisa belajar mangantisipasi apa yang akan terjadi saat hari sudah berakhir.

Rutinitas waktu tidur terdiri dari urutan kegiatan yang tetap dan dilakukan pada saat yang sama setiap malam. Kegiatan bisa dimulai dengan membersihkan badan yang dilanjutkan dengan mengenakan baju tidur, bermain santai di kamar, membacakan buku, berdoa dan mengucapkan selamat tidur. Tidak masalah jika rutinitas ini dilaksanakan secara singkat atau secara panjang dan berurutan, asalkan semuanya dilakukan secara tenang dan santai agar level aktifitas anak menurun dan susunan saraf anak menjadi lebih tenang. Akan sulit menciptakan masa transisi yang damai jika suasana rumah kacau, bermain lari-lari, bermain menggelitik, atau menonton acara TV atau video yang penuh eksyen.

Apa keuntungan rutinitas waktu tidur?


Seorang bayi akan merasa rileks jika dia tahu apa yang akan terjadi. Semakin bayi merasa rileks, semakin mudah baginya untuk jatuh terlelap. Usahakan melakukan rutinitas waktu tidur setiap hari termasuk saat tidak berada di rumah – hal ini akan mempermudah bayi untuk beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru.

Kapan rutinitas waktu tidur bisa dimulai?


Semakin dini semakin baik. Saat bayi berusia 6 sampai 8 bulan, mulailah menciptakan satu pola dan ikuti pola tersebut setiap malam. Jika Anda mengikuti pola tersebut secara rutin, maka bayi akan lebih cepat beradaptasi dengan pola tersebut dan dia bisa memprediksi urutan kegiatan berikutnya. Jangan lupa, sebuah pola rutinitas waktu tidur tidak hanya baik bagi anak tapi juga bermanfaat bagi orang tua, karena orang tua bisa lebih mudah membuat suatu rencana jika bayi memiliki jadwal tidur yang tetap.

Bagaimana cara menciptakan rutinitas waktu tidur?


Usahakan meluangkan cukup waktu agar semua kegiatan bisa dilaksanakan dengan baik tanpa terburu-buru. Jika jam 7 malam adalah waktu tidur, maka rutinitas bisa dimulai sekitar jam 6:30. Untuk bayi yang baru berumur beberapa bulan rutinitas bisa dilakukan secara singkat, misal: memandikan, mengganti popok, mengenakan baju tidur, membacakan buku atau menyanyi dan membaringkan bayi di tempat tidur. Tidak masalah jika Anda memulai rutinitas di kamar mandi atau ruang tamu, asalkan kegiatan terakhir adalah kamar tidur. Ciptakan suasana kamar tidur yang nyaman bagi anak agar anak merasa kamar tidur adalah tempat yang baik, bukan tempat untuk ‘menyingkirkan’ anak saat hari sudah gelap.

Kegiatan apa saja yang bisa dimasukkan dalam rutinitas waktu tidur?


Setiap orang tua pasti memiliki kegiatan favorit yang disukai anak. Banyak contoh kegiatan yang bisa digunakan untuk menurunkan level aktifitas anak dan mencipatakan suasana damai sebelum tidur. Kegiatan di bawah adalah beberapa contoh yang bisa dilakukan.


Limpahkan kasih sayang
Setelah sehari sibuk dengan kegiatan kantor atau urusan rumah tangga, maka malam hari adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama anak. Bermain, menyanyi dan menari atau mendongeng sambil memeluk anak hanyalah beberapa contoh. Anda bisa melakukan kegiatan-kegiatan lain bersama anak asalkan dilakukan dengan tenang dan satai.

Mandi dengan air hangat
Salah satu kegiatan rutinitas waktu tidur yang paling favorit adalah memandikan anak dengan air hangat. Selain membersihkan badan, mandi dengan air hangat bermanfaat untuk menenangkan susuan saraf. Ritual ini juga sangat baik jika dilakukan oleh para bapak (yang tidak mempunyai banyak waktu untuk anak karena kesibukan pekerjaan). Kegiatan ini bisa digunakan untuk menciptaka keterkaitan yang lebih kuat antara bapak dan anak. Jika bayi tidak menyukai acara mandi, Anda bisa tinggalkan kegiatan ini. Lagipula, bayi yang baru berumur beberapa bulan tidak memerlukan mandi setiap hari.

Tanda-tanda pergi tidur
Lanjutkan rutinitas dengan menggosok gigi, mengganti popok dan mengenakan baju tidur. Kenakan baju tidur yang nyaman dan tidak terlalu tebal atau tipis. Baju yang terlalu tebal menimbulkan keringat dan rasa gerah yang bisa membangunkan anak tengah malam. Begitu pula sebaliknya, baju yang tipis membuat anak merasa dingin yang bisa membangunkan anak.
Sangat penting membiasakan gosok gigi mulai bayi. Anda bisa memulai dengan menggosok gusi dengan lap halus. Jika gigi mulai tumbuh, gunakan sikat gigi khusus untuk bayi. Memulai menggosok gigi mulai bayi akan membuat anak terbiasa menggosok gigi secara rutin.

Bermain dengan tenang
Ajak si kecil untuk bermain dengan santai di ruang tamu atau di kamar tidur. Hal ini penting untuk menciptakan ‘suasana bahagia’ bagi anak sebelum tertidur. Anda bisa bermain ‘ciluk baa’ atau melihat-lihat buku bergambar. Yang penting jangan sampai anak ‘over excited’ atau terlalu bergairah.

Ajak bicara
Jangan khawatir si kecil tidak mengerti kata-kata Anda. Bayi sangat menyukai wajah dan suara orang tua terutama ibu. Yang lebih penting lagi, semakin sering bayi diajak bicara, semakin banyak kosa kata yang ter‘rekam’ di kepala bayi. Jika Anda merasa sulit atau merasa aneh mengajak bayi bicara, Anda bisa menerangkan setiap mainan yang ada di sekitar tempat tidurnya, atau menerangkan siapa-siapa yang ada di foto dinding atau sekedar bercerita ulang tentang kegiatan hari ini. Kegiatan ‘berbicara’ ini bisa membuat bayi merasa rileks dan nyaman.

Bacakan cerita
Membacakan buku cerita sebelum tidur adalah kegiatan yang sangat positif. Tidak hanya bayi mengenal kata-kata baru, penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan baca bahkan intelektual anak bisa tergantung pada sedikit banyaknya kosa kata yang dipelajari anak setiap hari. Disamping itu kegiatan ini juga menciptakan ikatan yang lebih kuat antara orang tua dan anak.

Nyanyikan lagu nina bobo
Bayi sangat menyukai suara favoritnya, yaitu suara Anda, apalagi jika dilengkapi dengan melodi. Dan juga sudah terbukti bahwa nyanyian ibu bisa membuat anak terlelap. Si Kutilang, anak FunkyMami yang pertama sudah berumur delapan tahu. Sejak dia berusia beberapa minggu Mami selalu menyanyikan lagu yang sama setiap malam. Dan selama delapan tahun ini dia tidak bisa pergi tidur kalau Mami tidak menyanyikan lagu terebut!

Mainkan musik
Bagi yang tidak terbiasa menyanyi, CD atau kaset bisa digunakan sebagai pengganti. Mainkan lagu-lagu lullaby atau lagu nina bobo, musik klasik atau lagu favorit anak. Jangan lupa mainkan dengan volume kecil dan biarkan musik terus berputar saat Anda meninggalkan kamar.

Ucapan selamat malam
Ada kalanya si kecil belum tertidur saat semua ritual sudah dilakukan. Anda bisa mengajak anak untuk mengucapkan selamat malam pada semua mainannya, atau mengintip bulan lewat cendela dan mengucapkan selamat malam. Dan terakhir ucapkan selamat malam sebagai pertanda waktu tidur. Jangan lupa yakinkan anak Anda bahwa dia tidak perlu takut karena Anda selalu berada di dekatnya.


ARTIKEL TERKAIT:

12/11/2010

Reward Chart



Menyambung postingan sebelumnya tentang Reward Chart…


Nah, seperti gambar di atas itulah contoh Reward Chart. Pasti ada yang mikir, wuih, hebat ya FunkyMami, bisa nemu cara jitu. FunkyMami emang pinter… pinter nyontek! Ini semua adalah ide dari The Victoria Chart Company. Perusahaan ini memproduksi beberapa jenis chart yang disesuaikan dengan jenis kelamin dan umur. Misal, chart untuk usia balita lebih menekankan gambar dan pemakaian sticker smiley. Sementara chart untuk usia sekolah hanya menggunakan tick atau cawang. Untuk lebih jelasnya bisa lihat gambar di bawah:



Tapi sebenarnya chart ini juga bisa dibuat sendiri. Emang nggak sebagus bikinan pabrik, tapi fungsinya tetep sama. Caranya?

Bahan:

  • Kertas glossy ukuran 3A atau papan tulis white board.
  • Spidol tinta permanent untuk membuat tabel.
  • Spidol tinta biasa untuk men-cawang.
  • Penghapus atau lap basah.

Cara:

  1. Bikin table seperti contoh chart di atas.
  2. Tentukan jenis dan jumlah tugas dalam sehari.
  3. Tempel kertas di kulkas atau dinding.
  4. Bikin kesepakatan dengan anak mengenai jumlah poin yang harus dipenuhi untuk tiap imbalan. Misal, 30 poin untuk nonton DVD, 60 poin untuk uang saku Rp.???, 60 poin untuk makan es krim di cafe favorit, dan seterusnya.
  5. Usahakan agar anak melakukan cawang sendiri, agar dia bisa memonitor hasil kerjanya.

Berikut adalah contoh jenis tugas yang bisa dipakai:

  • Merapikan tempat tidur setelah bangun.
  • Membereskan gelas dan piring setelah makan pagi.
  • Mengerjakan PR dan belajar membaca.
  • Membantu mengawasi adik.
  • Berbicara sopan.
  • Membantu pekerjaan rumah.
  • Minum susu dan makan buah.
  • Dan sebagainya…

Nah, selamat mencoba…

12/08/2010

Uang Saku


Tiga bulan lagi si 'S' berumur delapan tahun. kami setuju sudah waktunya 'S' mendapat uang saku. Kata Bu Djoko: “Waduh, kasihan banget. Umur delapan baru dapat uang saku. Pelit amat sih orang tuanya!”

Sebenarnya sih bukan pelit, tapi terus terang kami lupa memikirkan soal uang saku. Baru ingat setelah 'S' bawa PR matematika tentang uang. Barulah kami sadar, sudah waktunya dia belajar mengatur keuangannya sendiri.

Untuk membela diri, sebenarnya kami punya tiga alasan kuat kenapa kami sampai ‘lupa’ memberinya uang saku.

Pertama, 'S' belum mengerti pentingnya uang

Selama ini, 'S' nggak pernah merengek minta uang saku. Yang menarik, waktu ide ini kami bahas, dia langsung gembira:
“Asyek, dapat uang saku. Bentar lagi kaya…” Tapi waktu kami tanya kenapa selama ini dia nggak pernah protes, dengan enteng (sambil angkat bahu) dia bilang: “Kalo pun punya uang, trus mau beli apa?”

Beda sama sepupu 'S' yang terbiasa dengan uang saku sejak kecil. Dia tahu persis gunanya uang Seribu rupiah meski umurnya waktu itu baru dua tahun. Tiap Lebaran dia pasti sibuk meluruskan uang kertas hasil ‘unjung-unjung’… Bahkan dia hapal, menangis adalah senjata ampuh buat mengelabuhi si nenek agar memberinya uang buat beli permen.

Kedua, 'S' belum perlu uang

Antara 'S' dan si sepupu, nggak cuman beda kebiasaan, tapi juga beda lingkungan. 'S' tumbuh di tempat di mana nggak ada penjual jajanan lewat depan rumah. 'S' terbiasa dengan jajanan yang disediakan di rumah. Sementara jajanan istimewa seperti coklat, es krim, atau es loli hanya tersedia sebagai hadiah atau imbalan jika dia berbuat kebaikan. Pernah, pas lagi mudik, si sepupu datang dengan ngos-ngosan. Dia bilang: “beli es krim. Udah dimakan tapi nggak bayar. Dia cuman bilang terima kasih!” Usut punya usut, ternyata 'S' diiming-iming sama si penjual es krim. Dipikir gratis, es krim diterima dengan senang hati. Nggak tahunya disuruh bayar! Saat itu juga FunkyMami sadar, bahwa selama ini dia lupa mengajari 'S' untuk melakukan transaksi jual beli. 'S' memang hampir tidak pernah membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Apa yang dia butuhkan untuk makan dan minum tersedia di rumah. Snack untuk sekolah pun dia bawa dari rumah. Sementara untuk makan siang di kantin dia menggunakan kupon. Dia juga nggak perlu bayar tiket bus atau angkot, karena dia cukup jalan kaki sama teman-temannya.

Ketiga, 'S' hanya ngerti ‘nilai barang’, bukan’ nilai uang’

Untungnya, meski nggak paham ‘nilai uang’, 'S' cukup mengerti tentang ‘nilai barang’. Dia tahu bahwa dia harus merawat mainannya dengan baik karena barang-barang tersebut sangat berharga – bukan karena nilai uangnya, tetapi karena dia harus melalui proses yang tidak mudah untuk mendapatkannya. Kecuali barang keperluan sehari-hari, barang-barang istimewa yang dia idamakan harus ditulis dalam ‘Daftar Keinginan’ atau wish list. Daftar tersebut baru bisa terwujud pada hari-hari istimewa, seperti ulang tahun, Idul Fithri atau hari Natal (meski kami bukan penganut Nasrani, karena kakek/nenek dan kerabat dari suami beragama Nasrani, maka dia juga ikut 'kecipratan' hadiah Natal dari Santa Claus).

Nah, sambil menunggu harapannya menjadi kenyataan, 'S' punya cukup waktu untuk mempertimbangkan, apakah dia benar-benar mengingikan barang tersebut. Jika dia berubah pikiran, dia bisa menghapus, mengganti atau menambah daftar. Inilah salah satu keuntungan wish list ini, yaitu membiasakan anak meminta sesuatu yang betul-betul dia inginkan. Dengan begitu, anak bisa belajar tidak menyia-nyiakan uang, dan juga belajar menyayangi barang-barangnya karena tidak mudah untuk mendapatkannya.
Karena ketiga alasan tersebut di atas, kami sempat ragu apakah ide uang saku ini cukup bagus buat si 'S'. Apa gunanya memberi uang saku kalau dia tidak tahu bagaimana cara menghargainya? Setelah berdiskusi dengan si Papi dan mempertimbangkan ini itu, kami sependapat bahwa 'S' harus belajar tentang ‘nilai uang’ terlebih dulu sebelum mendapat uang saku. Dan kami sepakat, metode yang tepat adalah: SEBELUM MENDAPAT UPAH, HARUS BEKERJA DULU. Dengan begitu, dia akan menghargai uang hasil jerih payahnya.

Sebagai cara kami memakai REWARD CHART atau DAFTAR IMBALAN, yaitu selembar kertas dengan tabel yang berisi daftar tugas sehari-hari selama seminggu, mulai hari Senin sampai Minggu. Untuk setiap tugas yang terlaksana, 1 poin akan diberikan. Sebaliknya, 0 poin jika lupa. Penghitungan jumlah poin dilakukan pada hari Minggu. Jumlah poin kemudian bisa ditukar dengan berbagai jenis imbalan, misal: 30 poin untuk nonton DVD, 40 poin untuk uang celengan sebesar (???), 60 poin untuk berenang di Water Park, 70 poin untuk nonton film di bioskop…

Program ini sudah terlaksana selama sebulan. 'S' benar-benar berusaha untuk mendapat cukup poin buat nonton di bioskop. Sayangnya dia belum berhasil. Demi memberi semangat Mami bilang: “Nggak tiap minggu ada film anak. Jadi nggak perlu kecewa kalo poin-nya nggak cukup. Yang penting terbiasa dulu dengan tugas-tugasnya. Nah, kalau semua tugas bisa terlaksana tanpa komando, imbalannya adalah uang saku penuh. Bisa dipakai nonton kapan saja… ”

Dan, 'S' pun semakin bersemangat…

Nah, untuk yang tertarik dengan REWARD CHART ini, silahkan baca postingan berikutnya, Reward Chart…

9/18/2010

Imbalan v.s hukuman



Imbalan sebagai sarana untuk menghukum anak? Aneh ya kedengarannya? Jangan kaget dulu, maksud FunkyMami tuh bukan ngasih anak hadiah setelah nonjok anaknya Bu Djoko…


Percaya nggak, dibalik penampilannya yang kayak ibu tiri, FunkyMami sebenarnya bukan tipe penghukum*bener, sumpah!* kecuali untuk hal-hal yang sangat fatal atau membahayakan. Lalu bagaimana kita bisa mendisiplinkan anak kalau mereka tidak diajari untuk mengenal konsekuensi sejak dini atau dengan kata lain ‘dihukum’?

Mencari sebuah alternatif adalah solusinya. Caranya?


Setiap kali anak berbuat baik, maka dia akan mendapat imbalan kecil, seperti permen gummy bear. Tapi nggak langsung dimakan, melainkan dimasukkan dalam sebuah tempat. Setiap kali anak berbuat jelek, maka satu imbalan tersebut terpaksa ditarik kembali. Bad news-nya: Anak bisa kecewa banget jika imbalan yang sudah dia dapat ditarik kembali. Good news: Anak akan berusaha bagaimana caranya untuk mendapatkan imbalannya kembali, atau kalau bisa mendapat lagi, lagi dan lagi. Di akhir minggu anak mendapat kesempatan untuk melihat sendiri perkembangan tentang sikap baik buruknya selama seminggu.

Imbalan vs. hukuman


Dengan cara di atas, diharapkan anak memahami bahwa imbalan bukanlah semata hadiah, tapi semacam parameter yang menunjukkan tingkat kebaikan atau keburukan diri sendiri. Kebanggaan dan kekecewaan yang ditimbulkannya adalah pemicu semangat agar anak bisa memperbaiki sikap. Efek yang sulit di dapat dari sebuah hukuman. Hukuman, menurut FunkyMami, cenderung membuat anak memberi lebel diri sendiri bahwa dia bukanlah anak yang baik sehingga layak dihukum. Yang lebih parah, hukuman sering membuat anak merasa menyerah untuk berbuat lebih baik karena anak percaya apapun yang akan dia lakukan pada akhirnya pasti dihukum. Jadi buat apa memperbaiki diri?

Kalau nggak ada permen gummy bear?


Ganti dengan benda kecil lainnya, seperti biji-bijian atau pasta kering. Jika sudah terkumpul dalam jumlah yang sudah disepakati, baru imbalan yang sesungguhnya diberikan, seperti ke kebun binatang atau nonton TV.
Jika anak menyukai yang manis-manis, usahakan jangan menggunakan coklat atau permen lolly. Memang, anak akan berusaha berbuat baik demi imbalan coklat. Tapi apa enaknya punya anak baik kalau giginya ompong? Bagi yang suka manis Gummy Bear atau produk sejenis adalah pilihan terbaik. Selain bentuknya kecil dan imut, permen ini juga tidak mengandung gula sehingga tidak merusak gigi.

Penerapannya


Gunakan wadah untuk mengumpulkan imbalan. Jika perlu terbuat dari bahan gelas sehingga mudah untuk melihat berapa jumlah imbalan yang sudah terkumpul. Hal ini bisa memberi semangat anak untuk mengumpulkan lebih banyak.
Mulai dengan beberapa imbalan sebagai perangsang. Tiap kali anak berbuat baik, masukkan satu imbalan, agau suruh anak unti memasukkan sendiri. Dan sebaliknnya, ambil satu imbalan untuk setiap pelanggaran. Hitung jumlah imbalan pada akhir minggu atau biarkan anak untuk menghitung sendiri hasil kumpulannya. Konsekuen atas apapun reaksi anak. Jika anak kecewa atau marah setelah kehilangan imbalan, jangan menyerah. Kekecewaan bisa menjadi pangkal perbaikan sikap.

6/09/2010

Agar anak menurut kata orang tua



Kalau saja menyesali karakter diri sendiri tidak dianggap menentang kehendak Tuhan, rasanya tiap hari Funkymami ingin menyesali diri karena telah terlahir sebagai orang yang tidak sabaran. Sifat tidak sabaran ini masuk urutan nomor satu dalam daftar sifat-sifat negative FunkyMami, mengungguli sifat ‘Susah bergaul’, ‘Makan banyak’ dan ‘Malas olah raga’ (suka makan termasuk sifat ngga sih?)

Ya, siapa lagi yang suka bikin FunkyMami nggak sabaran kalo nggak si Kutilang dan si Bogang, anak-anak FunkyMami. Masalahnya, kalau FunkyMami nggak sabar, maka dia cepat frustasi. Nah, kalau sudah frustasi, maka dia cepat mengalami transformasi menjadi ibu terburuk yang pernah dia kenal.
Yang dimaksud ibu buruk di sini adalah ibu yang suka:

  • Menyalahkan dan menuduh:
“Berapa kali mami bilang, jangan lupa matikan lampu setelah keluar dari kamar mandi!”
  • Memberi ‘merek’ anak:
“Kamu ini memang ceroboh. Tiap mengerjakan sesuatu pasti salah!”
  • Mengancam:
“Sekali lagi kamu lupa berberes setelah nonton DVD, kamu nggak akan dapat DVD baru.
  • Memerintah:
“Ambil sepatu adikmu.”
  • Memberi ceramah:
“Menurutmu bagus cuek nonton TV sementara ada tamu pamit sama kamu? Jadi anak sopan apa susahnya sih? Harusnya kamu menanggapi kalau ada tamu pamit. Bila perlu menemani tamu keluar sampai ke pintu. Tunggu sampai pergi, baru kamu lanjutkan nonton TV. Mami kan jadi malu, dikira nggak bisa ndidik anak...dan seterusnya...dan seterusnya...
  • Memberi peringatan:
Minggir, nanti kamu jatuh...Eh, jangan utak-atik komputer mami, itu belum di simpan...jangan dekat-dekat kompor, panas...
  • Merasa menjadi korban:
“Nggak ada satupun yang bantu mami di rumah ini (sambil pura-pura nelangsa). Tiap hari mami kerja banting tulang, tapi kalian malah bikin rumah kacau. Kalau gini terus-terusan mami bisa sakit. Seneng kamu kalau mami sakit?”
  • Membandingkan:
“Mbok ya kamu itu seperti si Cempaka. Pulang sekolah langsung ganti baju, makan, terus tidur. Nggak seperti kamu, main terus kerjanya.”
  • Menyindir:
“Aduh pinternya kamu. Lihat, sausnya jatuh ke baju putihmu.”
  • Meramal:
“Kenapa sih kamu suka nangis kalau diledek. Kan cuman becanda, jangan dimasukkan hati. Kalau suka nangis gitu, lama-lama kamu nggak punya teman. Mereka males berteman sama tukang gondok.”

Bu Joko, tetangga FunkyMami langsung protes. Dia bilang,”Emang melakukan hal-hal tersebut tergolong ibu buruk? Gimana sih FunkyMami ini. Trus maksudnya anak dibiarin nglunjak gitu?”

Begini lho pembaca, kalau FunkyMami menganggap ibu yang melakukan hal-hal tersebut di atas adalah ibu buruk, semata-mata karena FunkyMami membayangkan bagaimana perasaan si anak jika setiap hari harus mendengar kata-kata tersebut di atas? Terus terang nih, kalau FunkyMami yang jadi si anak, dia bakal mikir gini:

“Percuma, ngomong sebenarnya juga tetep dituduh. Biarin, lain kali bohong aja..."

"Aku benci sama diriku. Mami memang bener, aku memang anak goblok. Tiap mengerjakan sesuatu pasti salah...."

"Uh, mami sukanya selalu memerintah. Sebel...Pingin rasanya nutup kuping kalau mami lagi ceramah. Bla-bla-bla.Bosen..."

"Kalau capek ngurusin anak, kenapa nggak dikasih ke orang aja..."

"Mami lebih cinta si Cempaka daripada aku. Andai ada yang mau ngadopsi aku...”

Dan sejenisnya...



Anak-anak umurnya memang masih muda dan ukurannya jauh lebih kecil dari kita. Tapi haruskah karena umur dan ukurannya, orang tua merasa berhak untuk menyinggung dan menyakiti perasaan mereka? Coba bandingkan, siapa yang lebih sering kita sakiti perasaannya, teman kita atau anak kita? Kita, kalau berbicara sama teman, pasti berhati-hati, biar nggak menyinggung perasaan, biar nggak bikin berantem. Kalau kita berselisih dengan teman, kita berusaha berbicara baik-baik, menjelaskan permasalahnya, bila perlu minta ma’af kalau salah. Sama anak? Ho..ho..ho..I am the boss! Dan kamu makhluk kecil? Duduk, dengar, dan turuti apa kata mami!

Kenapa mereka harus lahir kalau hanya untuk menghibur kita saat lucu saja? “Oh jeng, tahu nggak, pas si Bogang umur setahunan, luuuucu banget. Pantatnya gemuk trus pipinya tembeb. Apalagi kalau ketawa, keliatan giginya yang cuman dua. Dia bener-bener kiyut.” Tapi, begitu mereka mulai mengerti cara mengekspresikan kemauannya, kita nggak segan-segan menyakiti perasaan mereka. “Eh si Bogang sekarang dah berani melawan. Nggak pernah mau disuruh. Kalau dimarahi ganti marahin balik.”

Sayangnya, kejengkelan-kejengkelan dalam urusan mendidik anak adalah semacam built-in software dalam komputer yang sudah termasuk dalam paket pembelian. Susah ‘delete’-nya. Salah satu kejengkelan itu adalah jika anak tidak bersikap dan bertindak seperti yang diinginkan orang tua. Atau tepatanya, sering terjadi ‘konflik keinginan’ antara orang tua dan anak. Apa yang diinginkan orang tua sama sekali berlawanan dengan keinginan anak. Orang tua pingin anak sopan, bersih, teratur. Sementara anak sering lupa mengucap terima kasih setelah bajunya kita setrika? Yang lebih parah, semakin orang tua bersemangat mengatur anak, semakin keras anak menolak.

FunkyMami sadar akan masalah ini. Dari nyontek sana-sini, nguping kiri-kanan dan baca ini itu, FunkyMami mempunyai beberapa kesimpulan tentang cara terbaik dalam berkomunikasi dengan anak agar mereka mau menurut kata orang tua. Mudah-mudahan poin-poin di bawah juga bermanfaat buat pembaca:
  • Terangkan. Terangkan apa masalahnya. Sulit bagi anak melakukan sesuatu kalau orang tua selalu menyalahkan. Akan lebih mudah bagi anak untuk berkonsentrasi pada permasalahan, jika orang tua menerangkan apa permasalahnya. Misal: “Lampu di kamar mandi masih nyala.”
  • Beri anak informasi. Jika anak diberi informasi tentang permasalahan dengan jelas, mereka lebih mudah menemukan sendiri cara untuk mengatasi masalah tersebut. Misal: “Papa bekerja keras mencari uang, salah satunya biar bisa bayar listrik. Kalau kita lupa mematikan lampu, maka biaya litrik menjadi tinggi. Kalau gaji papa habis buat bayar listrik, nanti kita makan apa?”
  • Katakan dengan satu kata. Anak tidak diingatkan dengan keterangan panjang lebar seperti pidato. Biasanya semakin pendek peringatan, semakin efektif hasilnya. Misal: “Lampu.”
  • Ungkapkan perasaan. Anak juga bisa mengerti perasaan orang tua jika kita mengungkankannya dengan jelas. Marah-marah hanya akan menyakiti perasaan mereka karena mereka merasa diserang. Akhirnya mereka akan menjalankan perintah kita dengan rasa jengkel. Kita bisa menjelaskan ke anak seperti: “Terus terang mama bosan terus-terusan mematikan lampu setiap kali kamu keluar kamar mandi.”
  • Tulis catatan/surat. Anak sangat menyukai kertas tempel, stiker, tanda, rambu dan sebagainya. Bagi mereka hal ini seperti permainan. Tulis catatan kecil dan ditempelkan di pintu. Misal: ‘Keluar kamar mandi tolong matikan lampu.’ Atau tulis pesan di kertas lalu lipat seperti pesawat terbang atau lipat kertas dan masukkan ke kantong celana anak sambil berbisik: Mama mau berbagi rahasia, baca setelah mama pergi. Isinya: ‘Hayo, kamu lupa lagi mematikan lampu kamar mandi.’

Setelah baca tip FunkyMami, Bu Joko langsung praktek. Sambil bersikap semanis mungkin Bu Joko mengingatkan anaknya: “Tolong sayang jangan loncat-loncat di sofa ya?”

Si anak tetep loncat-loncat.

“Tolong jangan loncat-loncat.”

Anaknya melirik sebentar, lalu loncat-loncat lagi.

“Mami kan sudah bilang TOLONG jangan loncat-loncat!” Ceples! Tangan Bu Joko mendarap ke pantat si anak. Anaknya pun nangis.

Kenapa? Kenapa ibu yang sopan bisa berubah menjadi brutal dalam hitungan detik? Dua hal yang perlu diingat dalam menerapkan tip di atas.
  1. Bersikaplah otentik alias asli. Bersikap terlalu manis pada saat Anda marah, tidak akan menyelesaikan masalah. Jika Anda menginginkan anak melaksanakan perintah secepatnya, intonasi suari yang tegas lebih membantu daripada bersikap terlalu manis. Anda bisa bilang: “Sofa bukan tempat untuk loncat-oncat!”
  2. Hanya karena Anda tidak berhasil setelah peringatan pertama, jangan cepat menyerah dan kembali ke cara lama. Ada lebih dari satu cara yang bisa digunakan, seperti disebutkan pada tip-tip di atas. Anda bisa mengkombinasi atau menggabung beberapa bila perlu. Misal: “Sofa bukan tempat untuk loncat-loncat. Kalau kamu sering loncat-loncat, nanti rusak. Papa nggak punya duit buat beli sofa baru.”

Bagaimana? Rasanya kok nggak terlalu sulit ya untuk diterapkan? Siapa bilang? Terus terang, awalnya sulit banget melaksanakannya, apalagi kalau punya sifat tidak sabaran seperti FunkyMami. Kuncinya cuman satu, tahan diri sekuat mungkin agar jangan cepat membentak.Tapi jangan khawatir, dengan menerapkan berulang-ulang, lama-lama kita terbiasa dan pasti Anda akan terkejut begitu menyadari betapa anak-anak Anda sangat membanggakan.


6/08/2010

Membiasakan cuci tangan




Lima cara untuk membiasakan anak mencuci tangan:


  1. Terangkan kegunaan mencuci tangan secara teratur. Jelaskan mengapa harus mencuci tangan sebelum makan, memasak dan setelah menggunakan toilet.
  2. Gunakan sabun dan air, dan sabuni tangan sekitar 15 detik. Ajari anak mencuci antara jari-jarinya, dan jika perlu gunakan sikat untuk menghilangkan kotoran dalam kuku.
  3. Jika anak enggan  mencuci tangan, gunakan sabun warna-warni khusus buat anak. Bisa dicoba menggunakan star-chart, yaitu daftar cuci tangan dengan memberi tanda bintang setiap kali anak cuci tangan - bila perlu beri sticker tanda bintang untuk memberi semangat.
  4. Ajak anak menyanyi (untuk balita) saat mencuci tangan, bila perlu lagu khusus cuci tangan.
  5. Jadilah contoh yang baik. Penelitian menunjukkan satu dari tiga orang dewasa tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet.

5/07/2010

Negosiasi dengan balita




Negosiasi dengan balita? Pakai bahasa apa?

Seingat FunkyMami, melakukan negosiasi dengan balita seperti berkomunikasi dengan allien hijau. Nggak nyambung! Sudah menjadi sifat alami balita: ngeyel, ngotot, nggak mau nunggu…sekaligus cerdas.

Sejak si Bogang mengenal push bike (sepeda yang nggak pakai pedal), setiap saat dia pingin naik sepedah. Tiap pagi, siang, sore dan malam, pertanyaannya sama: ”Mami, naik sepedah?” (dengan bahasa cedal). Masalahnya, dia nggak cuman nanya, tapi perlu realisasi. Kalau dijawab, ‘Ya, nanti’ atau ‘Ya besok’, biasanya dia langsung kecewa, marah dan berontak.

Beberapa minggu terakhir, kami sempat kewalahan bagaimana cara menjelaskan agar dia mengerti ada waktu-waktu tertentu untuk bermain. Jujur, FunkyMami sering mikir: ”Mau dijelaskan gimana lagi? Dia kan baru 2,5 tahun. Emang kerjaan anak umur segitu kan merengek minta sesuatu.” Maka nggak ada cara lain kecuali memahami jalan pikiran si Bogang dengan membayangkan bagaimana rasanya menjadi seumur dia, bagaimana rasanya kalau lagi excited pingin melakukan sesuatu tetapi di tahan. Masih untung orang dewasa bisa berpikir lebih bijaksana, apa perlunya ngotot melakukan sekarang? Sementara balita 2,5 tahun? *ide ini datangnya juga dari sebuah buku parenting :)*.

Kejadiannya begini...

Jam 8:3o - Sebelum berangkat ke playgroup.

Si Bogang lihat sepedahnya terparkir depan rumah. Seperti biasa dia ngambek nggak mau berangkat ke playgroup. Maunya naik sepedah. FunkyMami bilang : ”Iya, nanti pasti naik sepedah. Setelah pulang dari playgroup, makan siang, bobok, makan snack, baru naik sepedah.” Bogang menatap Mami dengan pandangan bingung. “Sepedah!” katanya lagi. Urutan jawaban FunkyMami sama, playgroup, makan siang, tidur, snack, lalu naik sepedah. Dia menatap lagi. Kali ini agak ragu. Mami bilang lagi: playgroup, makan siang, tidur, snack, lalu naik sepedah. Sangat menarik, si Bogang bilang ’oke’, lalu berjalan meninggalkan rumah.

Siang jam 12:00 – pulang dari playgroup.

Begitu melihat wajah si Mami, Bogang langsung menanyakan hal yang sama:
“Sepedah, mama?” Jawab si Mami tetap sama. Setelah sampai rumah, dia melihat sepedahnya lagi dan langsung pingin naik. Sambil jongkok biar bisa menatap mata si Bogang, Mami mulai menjelaskan lagi dengan kalimat yang sama. Kali ini pakai embel-embel ‘janji’. Tanpa protes, Bogang meletakkan sepedahnya lagi dan masuk rumah sambil ngoceh: ”Sepedah, mama? Sepedah?” FukyMami bilang: “Ya.”

Kelihatannya gampang ya? Percayalah, FunkyMami rasanya pingin membentak si Bogang setiap kali kejengkelan sudah sampai di ubun-ubun. Rasa putus asa karena nggak berhasil berkomunikasi dengannya membuat FunkyMami pingin menyerah begitu saja dan menuruti kemauannya. Tapi yang rugi nantinya si Bogang sendiri, karena demi mementingkan perasaan sendiri FunkyMami perlahan-lahan membangun sebuah pribadi penuntut dan egois. Demi menghindari hal tersebut, FunkyMami terpaksa harus mencari trik bagaimana caranya agar terjadi komunikasi yang lancar dengan si Bogang, yaitu membayangkan berada dalam situasi si Bogang. Dengan begitu FunkyMami bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk bisa diterima oleh anak seusianya.

Kesimpulan FunkyMami (yang belum tentu benar dan sesuai jika diterapkan dengan balita lain) adalah...

Balita perlu jawaban menenangkan


Anak seusia Bogang masih belum mengerti konsep waktu. Kita bisa bilang besok, lusa atau setahun lagi, mereka tidak akan mengerti. Jawaban-jawaban seperti itu justru akan membuat mereka semakin kesal. Yang mereka butuhkan adalah kepastian bahwa mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tentang kapan, mereka belum mengerti. Tidak ada hal lain yang lebih menenangkan mereka kecuali penjelasan bahwa kita mengerti apa yang mereka rasakan. Penjelasan itu merupakan respon yang melegakan atas masalah yang tengah mereka hadapi.

Balita baru bisa memahami penjelasan yang diulang-ulang


Anak seusia Bogang tidak bisa menunggu, tapi kalau kita memberi janji, paling tidak mereka akan lebih tenang. Tentu saja, mereka tidak akan langsung menerima begitu saja. Tapi itulah tugas kita untuk memberi penjelasan yang berulang-ulang.

Balita belajar konsep waktu dari rutinitas


Balita menyukai rutinitas atau pengulangan, karena dengan begitu mereka bisa mengharapkan apa yang akan terjadi kemudian. Melakukan rutinitas yang sama setiap hari pada balita akan memberi mereka suatu kebiasaan yang mudah dihapal. Memang kesannya buang-buang waktu, tapi kesabaran ini akan membuahkan, karena lama-lama mereka akan mengerti bahwa mereka tidak harus mendapatkan apa yang mereka inginkan pada saat itu juga. Mereka akan mulai belajar tentang ‘konsep waktu’, bahwa segala sesuatu ada waktunya. Ada waktu tertentu untuk pergi ke playgroup, makan siang, tidur, makan snack atau naik sepedah.

Jangan ingkar janji sama balita


Ini yang paling penting. Jangankan balita, kalau kita sering ingkar janji orang dewasa pun tidak akan mempercayai kita. Jangan sampai kita melupakan janji yang sudah kita buat. Misal, ‘Ah, habis bangun tidur pasti dia juga lupa. Biarin aja, mending cuci piring dulu mumpung dia nggak nanya’. Jangan salah ya, balita adalah makhluk yang cerdas. Dia akan mengingat janji kita dan menagihnya. Sebisa mungkin kita harus berusaha menepati, karena kedisiplinan tidak akan bisa diterapkan kalau kita plin plan. Dengan menepati janji anak akan berpikir, ‘Oh, ternyata mami memang benar. Habis makan siang, tidur dan makan snack ternyata memang boleh naik sepedah. Sehingga, suatu saat kalau dia menginginkan hal yang sama, kita tinggal mengulang trik yang sama dengan harapan nggak akan ada rengekan atau proses bujuk membujuk lagi.
Intinya, kitalah yang harus menentukan siapa si Bos. Mama adalah si Bos. Mama lah yang harus menentukan peraturan, bukan sebaliknya. Karena kalau sudah terbalik, bukan kita saja yang susah, tapi juga mengakibatkan kebiasaan jelek anak, yaitu menuntut apa yang diinginkan saat itu juga.