Showing posts with label Tumbuh kembang. Show all posts
Showing posts with label Tumbuh kembang. Show all posts

1/13/2013

The Book of Good


The Book of Good, apakah itu? Bukan, bukan novel baru terbitan Gramedia, tapi buku catatan biasa tentang anak FunkyMami, si S, yang dua bulan lagi berusia 10 tahun. Catatan itu semacam buku harian, ditulis dengan tanggal dan coretan tentang semua kebaikan yang dia kerjakan pada hari itu. Siapa saja dalam rumah (termasuk si S sendiri) boleh menulis apa saja tentang S di buku itu, dengan catatan: HANYA YANG BAIK-BAIK.

Ide menciptakan buku itu muncul pada tahun baru, saat FunkyMami dan suami berkilas balik tentang masa-masa pertemuan pertama, pernikahan, kelahiran anak pertama, anak kedua, mendidik mereka, sampai tidak terasa 12 tahun sudah waktu yang telah terlewatkan bersama. Pada saat bernostalgia itulah, tiba-tiba muncul topik yang selama ini sebenarnya meresahkan tapi belum pernah mereka tanggapi secara serius - yaitu tentang si S.

Sebelum bercerita panjang lebar, FunkyMami perlu menggaris bawahi - sungguh, FunkyMami sangat mencintai dan menyayangi S. Memang klise, orang tua mana yang tidak mencintai anaknya? Apalagi kata orang-orang si S adalah gadis cilik yang baik, sopan dan tidak suka menganggu anak lain. Lalu kenapa muncul ide tentang buku itu? Kenapa segala kebaikan si S harus ditulis yang seolah-olah tujuannya hanyalah untuk menggaris bawahi semua itu? Betul pembaca, memang itulah tujuannya - menggaris bawahi kebaikan si S agar dengan membacanya dia bisa mengerti bahwa dibalik segala kekurangannya, dia adalah anak yang istimewa. Dan mudah-mudahan dengan mengenali keistimewaaannya dia akan lebih percaya diri untuk melakukan hal-hal yang lebih baik lagi.

Dibalik sifat-sifat positifnya, si S adalah anak yang sangat teledor, pelupa dan kurang fokus. Jika FunkyMami tulis SANGAT, artinya melebih rata-rata. Begitu kurang fokusnya sampai FunkyMami berpikir si S pasti sedang bermimpi saat mengerjakan sesuatu. Awalnya FunkyMami selalu berpikir, ‘Ah, namanya juga anak-anak.’ Tapi seiring dengan bertambahnya umur, sifat pelupa si bukannya menurun, tapi malah semakin parah. Umumnya, dengan bertambahnya usia anak, maka bertambah pula rasa tanggung jawabnya sehingga dia lebih berkonsentrasi dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Sayangnya, tidak begitu dengan si S. Hal-hal sepele yang sudah dia kerjakan selama 3 - 4 tahun terakhir seperti, mematikan lampu, mencuci tangan, merapikan tempat tidur dan sebagainya, masih sering terlupakan. Hampir semua tugas si S adalah hal-hal kecil yang rutin dan sebenarnya mudah diingat. Bukannya dia malas, karena jika dia dimintai bantuan maka dia akan segera melaksanakan. Dia hanya perlu diingatkan berulang-ulang untuk mengerjakan tugas rutinnya. Hal ini membuat FunkyMami khawatir karena adiknya, si R, yang berusia 5 tahun sudah bisa melakukan beberapa tugas yang sama dan jarang lupa. Banyak orang bilang, wajar jika anak seumur S sering lupa. Memang benar, anak seusia S masih sering sibuk bermain dengan pikirannya sendiri sehingga kurang bisa berkonsentrasi terhadap hal-hal yang sedang dia kerjakan. Tapi semua kewajaran pasti ada standarnya kan? Dan menurut naluri FunkyMami S sudah melebihi standar kenormalan. FunkyMami berkesimpulan seperti itu karena dia telah membandingkan dengan anak-anak seusianya, berbicara dengan gurunya di sekolah, mencari informasi dari beberapa orang tua, membaca beberapa artikel di media, dan terlebih lagi, memantaunya sehari-hari.

FunkyMami akui, banyak orang mengatakan FunkyMami termasuk orang yang perfeksionis, meskipun FunkyMami lebih suka menyebut dirinya orang yang terorganisir. FunkyMami juga termasuk orang yang suka berencana, menggunakan metode, dan berusaha sebisa mungkin menerapkan rencananya dengan menggunakan metode yang dia pilih. Jika gagal, FunkyMami akan mencari metode lain. Jika hasilnya selalu gagal, maka FunkyMami tahu itu adalah rencana gila :). Maka wajar jika FunkyMami bukanlah termasuk tipe ibu yang bisa memasrahkan tugas merawat anak ke orang lain, seperti baby sitter atau pembantu misalnya. Karena menurut FunkyMami, merawat dan mendidik anak adalah termasuk satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Berdasarkan pengalaman FunkyMami selama ini, sangat sulit mendidik anak sesuai yang kita inginkan jika tugas merawat kita serahkan ke orang lain. Karena pada saat merawat itulah proses mendidik anak sedang berlangsung. Menerapkan rutinitas saat merawat anak adalah proses mendidik. Rutinitas yang telah kita terapkan adalah dasar kedisiplinan bagi anak. Semua dasar yang sudah kita terapkan itu belum tentu bisa dilaksanakan oleh orang lain, apalagi jika diluar pantauan kita (tentu nggak semua orang setuju dengan pendapat itu).


Tentu, hanya karena kehendakNya lah FunkyMami bisa memiliki pilihan untuk tidak menyerahkan perawatan anak dengan seorang pembantu atau baby sitter. Dengan kata lain, atas kehendak-Nya lah keluarga FunkyMami harus hidup berpindah-pindah sehingga FunkyMami tidak bisa bekerja selama 12 tahun terakhir and memiliki waktu yang banyak untuk merawat dan mendidik anak. Dan FunkyMami sangat menyukuri kemewahan ini. Kemewahan apalagi yang diharapkan oleh seorang ibu selain selalu bisa mendampingi anak-anaknya? Karena kesibukan sehari-hari yang sangat terkait dengan kesejahteraan anak-anaknya itulah maka FunkyMami tahu betul apa yang ‘kurang’ dan apa yang ‘lebih’ dari anak-anaknya. Dan FunkyMami tahu taraf kelalaian dan keteledoran si S sudah melebihi rata-rata. Pernah seorang teman menyarankan untuk pergi ke dokter spesialis. FunkyMami tidak melakukannya karena dia masih percaya masalah si S bukanlah suatu penyakit. Apalagi di sekolah si S bukan termasuk anak yang bodoh. Nilai-nilai rapornya lebih dari cukup dan menurut gurunya dia tidak punya masalah dengan konsentrasi. Jadi kesimpulan FunkyMami: mencari metode yang lebih tepat.

Sebagai orang tua yang baik, kita tidak seharunya membanding-bandingkan anak, meski antara saudara sendiri, karena tiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam berkonsentrasi. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa normal perbedaan itu? Seperti misalnya, si Adik yang lebih muda 5 tahun adalah anak yang sangat fokus. Hanya perlu dua atau tiga kali untuk menerapkan aturan baru, maka si Adik akan mengingatnya. Tidak hanya ingat untuk melakukannya, tapi juga ingat mengapa dia harus melakukannya. Misalnya, jika FunkyMami asal menaruh Lego di box yang salah, si Adik akan bilang, “Kalau naruh ditempat yang salah nanti susah mencarinya lagi.” Kata-kata tersebut adalah kata-kata yang sudah ditanamkan FunkyMami saat pertama kali mengajari si Adik untuk memilah-milah barang di tempat yang benar. Di usia 2 tahun, sepulang dari Playgroup si Adik sudah tahu di mana letak sepatu. Setelah lepas sepatu dia akan pergi ke kamar mandi untuk cuci tangan lalu duduk di meja makan, menunggu makan siangnya disajikan. Dan itu berlangsung sampai saat ini. Sementara si S hampir tiap pagi lupa menyisir rambut sebelum berangkat sekolah. Jangankan memasang bandana atau pita seperti anak-anak lain seusianya, kertas HVS dengan tulisan JANGAN LUPA MENYISIR RAMBUT dengan font ukuran 100 yang tertempel di kaca wastafel (sisir rambutnya ada di kamar mandi) lewat dari pandangan matanya. Dalam 8 bulan terakhir, topi sekolahnya hilang 5 kali, kaca mata renang hilang 3 kali dan celana olah raga hilang 2 kali. Berkali-kali dia pergi sekolah dengan kaos kaki terbalik (alasannya, nggak sadar soalnya warnanya putih). Dan tak terhitung hal-hal sepele lainnya yang seharunya sudah mengelupas di kepala.

Berbagai metode sudah dicoba FunkyMami. Masa-masa mengomel dan membentak sudah berlalu. Waktu telah mendidik FunkyMami bahwa marah tidak akan membawa hasil. Yang ada hanya linangan air mata si S dan penyesalan si FunkyMami. Saat ini si S berlatih Taekwono yang kata para ahli bisa melatih konsentrasi seperti halnya olah raga bela diri lainnya. Hasilnya? Sama. Agar bisa lebih fun, FunkyMami juga mencoba menulis catatan di kertas kecil lalu dilipat dan dimasukkan ke saku si S Isinya biasanya: HAYO, LUPA MATIKAN KRAN. Cara yang menyenangkan, tidak ada air mata dan tidak patah hati. Tetap sama. Metode kertas tempel di pintu lemari, pintu kamar tidur, pintu kamar mandi, kaca toilet, dan pintu kulkas juga gagal. Bahkan seminggu lalu FunkyMami belanja berdua sama si S di IKEA, beli box-box warna-warni. Sampai dirumah ditempel dengan lebel yang lucu-lucu. Tujuannya agar dia lebih terinspirasi untuk meletakkan barang-barangnya di tempat yang benar. Sebuah kegiatan ‘mom and daughter’ yang mengasyikkan. Hari pertama dan ke dua berhasil. Berikutnya? Kembali seperti awal. Yang menyedihkan, dengan tugas dan kewajiban yang sama, adiknya, si Adik lebih bisa diandalkan dibanding si S. Hampir tiap pagi si adik menggerutu melihat wastafel yang kotor oleh bercak-bercak sisa makanan yang mengering, hasil dari gosok gigi yang tidak disiram. Kenapa begitu? Karena dua-duanya telah diajari agar membilas wastafel setelah gosok gigi. Dua-duanya diajari untuk melakukan hal tersebut saat awal-awalnya belajar gosok gigi. Bedanya, 4 tahun kemudian si adik masih ingat terus, sementara 9 tahun kemudian si kakak harus terus diingatkan.

Sangat sulit untuk mengekspresikan rasa kasih sayang ke anak seperti mengelus, merangkul bahkan memuji saat hati kita digerogoti perasaan jengkel. Lebih-lebih saat kita menahan diri agar tidak meledak. Saat kita merasa bangga sesaat, senyum kita mudah sekali dirusak oleh hal-hal sepele. Oke, mungkin orang akan bilang, “Ya, masalah sepele aja dipikirin, salah sendiri!”. Bukan soal ‘sepele’ nya yang menjadi masalah, tapi kaset yang diputar puluhan kali itulah yang menjadi masalah. Bisa dimaklumi kalau misalnya kita memberi anak tanggung jawab yang besar dan dia gagal melakukannya. Tapi mematikan lampu? Menutup pintu? Bisa saja kita beranjak dan melakukan sendiri hal-hal tersebut, tapi ada hal yang jauh lebih prinsip dari sekedar 'membantu mematikan lampu', yaitu kebiasaan untuk bertanggung jawab. Memang saat ini dia belum mengenal konsekwensi bayar listrik mahal, tapi membiasakan diri untuk melakukan hal yang berguna akan membantunya dalam menempuh hidupnya kelak. Atau yang lebih ruwet lagi, waspada akan global warming misalnya? Tuh, tuh… penting juga kan? Ingat kata si Iwan Fals lagi, 'Lestarikan alam hanya celoteh belaka'. Apapun itu, meski alasannya terkesan ‘over the top’, kebiasaan adalah akar kedisiplinan. 

Karena hal-hal itu lah, malam sebelum tidur FunkyMami sering merasa menyesal karena kejengkelan terhadap kelalaian si S telah membuatnya lupa untuk mengelus, mendekap dan memuji si S. Begitu terkurasnya perhatian FunkyMami atas sifat pelupa si S sampai-sampai FunkyMami mengenyampingkan sifat-sifat positifnya, lupa bahwa bisa jadi si S lah yang lebih membutuhkan banyak perhatian dan tuntunan dibanding adiknya. Mungkin benar, FunkyMami terlalu perfeksionis, terlalu penuntut, terlalu berharap banyak dari seorang anak berusia 10 tahun. Mungkin FunkyMami kurang dalam mencari informasi yang tepat tentang masalah ini. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan itu dan FunkyMami tidak tahu metode apalagi yang bisa digunakan agar si S tidak lupa memasukkan PRnya ke tas, agar dia tidak dimarahi gurunya karena lupa membawa kotak pinsilnya, agar dia tidak ditertawain temannya karena kaos kakinya panjang sebelah. FunkyMami ingin mempercayainya lebih dalam dengan memberi tanggung jawab untuk mengunci pintu saat keluar rumah, mematikan oven kalau sudah bunyi ‘pip’, atau memberinya HP bekas agar bisa dihubungi kalau telat pulang sekolah. Si S belum bisa diberi kepercayaan itu karena setelah berkali-kali dicoba dia gagal melakukannya. Dan buku inilah, The Book of Good, adalah metode terakhir yang bisa ditemukan FunkyMami saat ini. Mungkin berhasil mungkin tidak. FunkyMami hanya ingin agar si S menulis hal-hal baik tentang dirinya yang membuat dirinya atau orang lain bangga atas dirinya. FunkyMami ingin agar seisi rumah menulis segala keistimewaan si S agar dia tahu bahwa seisi rumah menyadari keistimewaanya. Dengan begitu mudah-mudahan dia lebih terinspirasi, lebih fokus dalam melakukan hal-hal baik lainnya. Mudah-mudahan dia tahu bahwa hal-hal sepele yang sering dia lupakan ternyata bisa membuat orang lain bangga atas dirinya saat dia mengingatnya.

Kemarin, sebelum tidur S membaca catatan hari itu. Kemudian dia beranjak dan datang memelukku FunkyMami. Dia bilang: “Mama, hari ini banyak hal yang tidak aku lupakan.” Di buku itu tertulis:

MINGGU, 13 JANUARI 2013

  • S menyisir rambutnya tanpa kusuruh. Dia tampak rapi dan cantik sebelum berangkat sekolah. Kaos kakinya juga tidak terbalik. Wah, berarti hari ini dia aman dari ledekan teman-temannya. Mudah-mudahan nanti dia juga tidak lupa mandi .
  • Hebat, hari ini dia tidak menimbun seragamnya yang masih bersih di kursi, tapi menggantung agar besok bisa dipakai lagi. 


9/09/2012

Teori Urutan Kelahiran

Anak sulung yang pemimpin, anak tengah yang suka berontak atau anak bungsu yang manja? Sebuah klise tentang karakter anak berdasarkan urutan kelahiran yang sudah sering kita dengar atau baca. DAN, percaya atau tidak, kita pun sudah sering membuktikannya. Oke, kalaulah teori itu benar, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana caranya agar kita bisa membantu anak dalam mengembangkan potensi yang dia miliki?


Tiap orang tua ingin memahami jiwa anak lebih dalam dan berharap agar anak merasa nyaman dengan perasaan, pikiran dan tingkah lakunya. Mungkin inilah alasan mengapa banyak orang tua sangat tertarik dengan teori urutan kelahiran atau yang biasa disebut Birth Order Theory - sebuah teori yang menawarkan cara mudah dan sederhana untuk memahami kepribadian dan perilaku anak berdasarkan posisi dalam urutan kelahiran. Seberapa jauh sih teori ini bisa membantu kita? Apakah teori ini memberi keterangan akurat tentang mengapa anak kita seperti dia adanya? Yang lebih menarik lagi, apakah teori ini bisa membantu kita untuk memberi gambaran menjadi seperti apakah anak kita setelah dewasa?

Tidak bisa dipungkiri, kita sering merasakan kebenaran teori ini dengan melihat contoh-contoh karakter yang ada di sekitar kita. Memang, stereotip yang ada tidak selalu akurat. Kenapa? Karena teori ini hanyalah salah satu potongan puzzle yang membentuk gambar unik kepribadian anak secarah utuh. Sementara potongan-potongan puzzle lainnya juga dibutuhkan dalam menyusun gambar utuh, yaitu mulai dari cara orang tua mendidik, stabilitas dalam lingkungan keluarga sampai kejadian - kejadian yang bisa membuat anak trauma. Akurat atau tidak, yang jelas teori ini menandai titik awal bagi orang tua untuk memahami karakter anak yang kompleks dan juga memberi gambaran akan potensi kekuatan dan kelemahannya. Dengan teori ini orang tua bisa memiliki semacam buku pedoman tentang langkah apa yang harus diambil dalam membantu proses pembentukan kepribadian anak. Dengan kata lain, teori ini bisa membantu perjalanan anak menuju jenjang kedewasan untuk menjadi yang terbaik. Sesuatu yang kita inginkan bukan?

Nah, mari kita simak. Siap-siap senyum-senyum sendiri atau mengangguk-angguk ya?

ANAK PERTAMA


Sering digambarkan sebagai karakter yang mendominasi, teratur, perfeksionis dan bertanggung jawab. Banyak orang bilang anak pertama terlahir untuk menjadi pemimpin. Kok bisa begitu sih?

Lingkungan keluarga

Kelahiran anak petama adalah pengalaman yang mengharukan dan perasaan menjadi orang tua sangatlah kuat karena prosesnya masih baru. Biasalah, namanya juga masih anget, antusias total ceritanya. Buku parenting berjejer dan saran dari seluruh RT diserap. Tiap anak gerak langsung difoto, anak bersendawa ditulis di diary. Kalau foto album anak pertama bertumpuk, foto-foto anak berikutnya mengalami nasib ‘Aduh, lupa nyetak!’. Karena pengalaman baru inilah, anak pertama mendapatkan limpahan perhatian dan kasih sayang yang lebih. Dia mendapat banyak kesempatan untuk mendengarkan bahasa dari orang tua dan mengamati interaksi sosial orang-orang dewasa di sekitarnya. Akan tetapi, pengalaman baru ini menjadikan orang tua jadi terlalu berhati-hati - anak ditahan tengkurep karena belum waktunya, megangnya ati-ati takut patah, kemana-mana pake kaos kaki dan topi meski hawa panas… eit, jangan sampe lupa minyak telon ya! Sebagai akibatnya anak bisa menangkap atmosfir yang tercipta dari rasa kekhawatiran ini. Di samping itu anak pertama hanya memiliki orang-orang dewasa di sekitarnya, sehingga dia hanya bisa membandingkan kemampuan diri dengan orang-orang dewasa, yang sering membuatnya merasa ‘kurang mampu’.

Karakter khas

Anak pertama menikmati perhatian spesial dari orang tua hanya untuk sementara dan kemudian tiba saatnya dia harus berbagi. Sebuah perasaan kehilangan yang besar. Sebagai akibatnya, anak pertama punya keinginan kuat untuk mendapat pengakuan dari orang lain (terutama mereka yang memiliki kewenangan) sebagai orang yang juga memiliki kemampuan, sebagai figur yang memiliki wewenang seperti figur orang tua. Maka diapun mulai bermain-main dengan ‘wewenang’ mulai dini. Di sekolah biasanya dia menjadi anak yang pintar, mentaati peraturan dan ada kecenderungan menghormati nilai-nilai tradisi. Sebuah karakter yang dicintai para guru dan sesepuh. Sifat-sifat inilah yang menjadikannya sebagai figur pemimpin, seperti ketua kelas misalnya. Anak pertama tidak hanya mengagumi kekuasaan, tapi juga mendambakannya. Jadi bukan kebetulan jika banyak pemimpin negara yang terlahir sebagai anak pertama. *Yang jadi anak pertama, sudah, jangan banyak-banyak nyengirnya…:)*

Mengembangkan yang terbaik

Sangat penting bagi orang tua untuk mendorong anak pertama agar dia melakukan sesuatu karena alasan dia menyukainya, bukan karena dia ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain. Juga, karena anak pertama cenderung ingin menunjukkan kemampuannya, maka secara nggak sadar dia pun menjadi terlalu kritis terhadap diri sendiri. Tugas orang tua adalah mengajarinya bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang memalukan, melainkan sesuatu yang bisa dipelajari. Hal ini bisa membantu melonggarkan kecenderungan anak untuk menjadi orang yang sangat perfeksionis.

ANAK KEDUA/TENGAH


Oh, si bandel yang keluar rel, yang nggak mempan tutur kata… Anak tengah sebagai kambing hitam, betapa seringnya kita dengar. Sebuah prejudis yang tidak fair memang. Tapi benarkah? *Hem, jadi ingat keponakan FunkyMami dulu, bandelnya minta ampun tapi menyenangkan*.

Lingkungan keluarga

Salah satu keuntungan bagi anak kedua/tengah adalah orang tua sudah memiliki pengalaman saat dia lahir, sehingga mereka lebih rileks dan percaya diri tentang apa yang mereka lakukan. Maka tidak heran kalau orang tua memperlakukan anak kedua/tengah lebih tenang dan realistis. Hal ini membuat anak kedua/tengah juga lebih rileks dan tidak terlalu khawatir seperti anak pertama. Akan tetapi perhatian orang tua sudah terbagi, sehingga anak kedua/tengah harus bekerja keras agar diperhatikan. Sering mereka sangat inovatif dalam menciptakan cara untuk menarik perhatian orang tua. Apalagi jika si kakak adalah bunga harum di sekolah dan di rumah. Sebuah ‘lawan’ yang susah ditandingi. *Tapi asli, FunkyMami lebih nge-fans sama Pangeran Henry yang bandel dan kocak,  ketimbang Pangeran William yang elegan dan berwibawa .*

Karakter khas

Anak kedua/tengah sudah beradaptasi dengan lingkungan semenjak kecil dan berpengalaman dalam hal diplomasi dan bekerja sama. Sehingga anak kedua/tengah lebih mudah berinteraksi dengan banyak orang dan bisa menempatkan diri dengan mudah dalam sebuah kelompok. Kemampuan anak kedua/tengah dalam bersosialisasi cenderung membuatnya sebagai orang ramah, mudah bergaul, dan memiliki banyak teman. Dia digambarkan sebagai orang yang mudah merasa iba, murah hati dan gampang menolong. Biasanya mereka lebih menfokuskan diri dengan orang-orang seusianya. Hal ini bagus jika teman-temannya adalah anak-anak yang baik, tapi tidak terlalu bagus jika teman-temannya tergolong anak-anak yang kurang baik. Anak kedua/tengah memiliki kecenderungan tumbuh sebagai karakter pragmatis, yaitu karakter yang berpandangan praktis, termasuk cara dia menilai kemampuan sendiri dan menentukan harapan yang realistis (bisa dijangkau). Biasanya anak kedua/tengah lebih memfokuskan energinya dalam bidang yang tidak begitu dikuasai oleh si kakak.

Mengembangkan yang terbaik

Anak kedua/tengah menikmati dinamika kehidupan berkelompok dan bisa mengembangkan diri dengan baik dalam lingkungan sosial. Hal ini bisa dijadikan pegangan bagi orang tua dalam memilih playgroup, sekolah dan kegiatan di luar rumah/sekolah. Karena anak kedua/tengah cenderung kehilangan arah, jangan takut untuk mendorongnya ke arah yang sangat dia nikmati. Tapi ada yang harus diingat, karena karakter anak kedua/tengah yang easy going maka dia mudah menerima dan menampung. Karena hal inilah maka, selain orang lain gampang mengambil keuntungan darinya, orang tua juga sering tidak bisa melihat apa yang sebenarnya dia perlukan.


ANAK TERAKHIR


Urutan kelahiran yang banyak diiri karena anak terakhir seolah mendapat hak istimewa sebagai ‘si adik kecil yang boleh lolos dari kesalahan’. Disamping itu banyak orang cenderung tidak begitu menghiraukan ‘ketidakmampuannya’. Jarang anak terakhir mendengar: “Jadilah dewasa dan kerjakan sendiri”, meski kakak-kakaknya dulu sudah mampu melakukan hal yang sama di usia yang sama.

Lingkungan keluarga

Kebanyakan keluarga ‘modern’ (baca keluarga saat ini) sudah mengetahui apakah si anak bakal menjadi anak terakhir atau bukan. Mengetahui bahwa sang anak bakal menjadi anak terakhir, orang tua sering ingin bernostalgia karena merasa rindu dalam mengasuh dan merawat anak, bahkan ‘menyesal’ karena tidak akan mendapatkan anak lagi. Akibatnya, tanpa sadar, orang tua akan memberi semua sisa perhatian yang lebih pada anak terakhir, bahkan mentolerir sifat ketergantungan dan ketidakdewasaannya - sebuah sikap yang tidak bisa diterima jika dilakukan oleh anak pertama atau kedua/tengah. Orang tua juga jauh lebih berpengalaman dan paham betul tentang hal-hal mana yang benar-benar mengganggu dan hal-hal mana yang sebenarnya bisa dihiraukan. Oleh karena itu, banyak orang tua menjadi tidak terlalu ketat terhadap anak terakhir. 

Karakter khas

Anak terakhir adalah makhluk sosial dan sangat menyukai jadi pusat perhatian. Mereka biasanya tumbuh sebagai karakter yang dicintai teman atau menjadi anak paling lucu di kelas atau jago menghibur orang. Apalagi, dibanding kakak-kakaknya dialah yang harus berjuang paling keras demi mendapatkan perhatian, yang biasanya dia tampilkan dengan beraksi lucu, menggemaskan dan mengagumkan. Karena terbiasa dengan bantuan orang-orang disekitarnya, anak terakhir memiliki kecenderungan untuk tidak teratur dan kehilangan arah. Tapi sebaliknya, usaha kerasnya dalam menarik perhatian itu menjadikannya menjadi karakter yang kreatif dan innovatif. Bahkan tidak jarang dia berani mencari terobosan baru yang jika terlalu ekstrem bisa menjerumuskannya menjadi jiwa pemberontak, atau mengundang resiko-resiko yang tidak perlu.

Mengembangkan yang terbaik

Jangan manjakan anak terakhir terlalu berlebihan *oh, betapa mudahnya bilang begitu. Coba liat betapa lucunya dia!*. Sangat penting baginya untuk belajar melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri dan bangga dengan hasilnya, sehingga dia bisa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Pujian dan penghargaan atas usahanya lebih penting daripada mengagumi setiap detil tindakan positifnya, sehingga dia tahu betul bahwa pujian dan penghargaan itu memang benar-benar layak dia dapatkan. Dengan mengajarinya untuk tidak terlalu bergantung dengan orang lain kita tidak hanya mengajarinya menjadi pribadi yang mandiri tapi juga percaya diri.

ANAK TUNGGAL


Jaman dulu sulit diterima akal jika orang tua sengaja ingin memiliki anak tunggal. Jaman sekarang sudah umum jika orang memilih berkarir terlebih dulu dan menikah ‘belakangan’. Akibatnya banyak orang tua yang menikah setelah berkarir memutuskan untuk memiliki satu anak saja karena faktor umur, tenaga dan waktu.

Lingkungan keluarga

Jika orang tua sudah memutus untuk memiliki anak tunggal dan bahagia dengan keputusan tersebut, maka kemungkinan besar kehidupan keluarga akan sehat dan positif, di mana anak tunggal akan berkembang menjadi karakter yang menarik terlepas dari pisisinya dalam urutan kelahiran. Kondisi ini juga berlaku bagi orang tua yang sangat menginginkan anak kedua akan tetapi tidak mendapatkannya dan tetap ikhlas menerima kondisinya. Sebaliknya orang tua yang merasa menyesal bahkan bersalah melihat kondisi anaknya yang semata wayang cenderung memanjakan anak tunggalnya secara berlebihan akibat perasaan tersebut.

Mengembangkan yang terbaik

Kebanyakan orang tua paham betul akan kebutuhan sang anak tunggal untuk bergaul dengan anak-anak lain seusianya dan belajar berinteraksi dalam kehidupan sosial. Akan tetapi disamping elemen sosial tersebut, anak tunggal juga harus mengalami dan merasakan ketidakteraturan dan kekacauan saat bermain dalam kelompok. Dia juga harus menyadari bahwa tidak masalah jika kadang-kadang sesuatu bisa keluar dari jalur, karena memang seperti itulah kehidupan dalam kebersamaan. Anak tunggal juga perlu untuk belajar rileks dan membiarkan hal-hal sedikit tidak teratur. Hal ini akan membantu membelokkan kecenderungannya untuk menjadi karakter yang perfeksionis.

Sumber: Birth Order by Linda Blair

10/21/2011

Persaingan kakak adik



LIMA CARA MENYIKAPI PERSAINGAN KAKAK ADIK

Mereka terlahir untuk dicintai dan mencinta. Tiap hari disayang dan dididik untuk menjadi anak yang lembut hati. Tapi begitu si Adik lahir mulailah si Kakak merasa betapa si makhluk imut itu adalah monster kecil yang merusak eksistensinya. Masa-masa kehidupan seorang pangeran dan putri pun berakhir sudah. Yang ada hanyalah masa-masa seorang ajudan... Yep, welcome to the real world!

Meski banyak kakak adik yang sangat beruntung bisa menjadi sepasang sahabat, banyak juga kakak adik yang tak ubahnya Mohammad Ali v.s Larry Holmes. Terutama banyak kakak-kakak yang merasa posisi pentingnya dalam keluarga tiba-tiba tergeser oleh kehadiran si adik. Jujur saja, mereka memang benar-benar kalah saingan. Yang jelas, kalah lucu! Ngomong-ngomong soal lucu, oh, betapa mudah berubah cara pandang kita terhadap kelucuan seorang anak. Waktu si Adik belum lahir, biar dicibir kiri kanan, si Kakak yang sudah berumur 6 tahun adalah anak yang super lucu dan menggemaskan. Bahkan, tetangga FunkyMami masih suka melucu-lucukan anaknya yang sudah hampir 9 tahun! Maklum, dia anak tunggal. Tapi begitu si Adik lahir, tiba-tiba si Kakak harus menjadi sosok ‘anak lebih tua’ yang harus bertanggung jawab, tidak manja, berbaik hati sama si adik meski ditonjokin...

Dan oh, betapa seringnya kita mengabaikan perasaan si Kakak tanpa sadar. Betapa kita lupa bahwa jika kita berada di posisi si Kakak, perasaan kita pun bakal hancur lebur. Semua yang dia miliki sebelumya terampas begitu saja, nggak cuman perhatian orang tua tapi juga mainan plastik Sponge Bob dari Mc Donald. Rasa iri pun mulai menggerogoti dan perang Baratayuda tak bisa dihindari. Apa yang kita lakukan?
“Ya ampun kakak, udah besar tapi nggak ngerti juga. Adik kan masih kecil, biarin aja dia ambil mainanmu!”
“Jangan mukul balik, tenaga si adik kan nggak sekuat tenagamu!”
“Bisa jadi si adik yang mulai, tapi kamu yang besar harus ngalah!”
“Jadi kakak harus pandai-pandai ngasih contoh. Lihat tuh, gara-gara ulahmu, dia ikut-ikutan nakal!”

Salahkah si Kakak jika dia tiba-tiba berhayal pingin minggat ke rumah panti asuhan?

Huh, salah lagi, salah lagi. Betapa susahnya jadi orang tua. ‘Sapa suruh datang Jakarta, sapa suruh datang Jakarta’ *sambil siul-siul*

Bapak-bapak, ibu-ibu, apapun yang kita lakukan dalam menghadapi persaingan kakak adik tidak akan benar di mata anak. Meski kita memproklamirkan depan anak bahwa kita adalah ortu yang adil, di mata mereka kita tak ubahnya ibu tiri si Cinderella. Betapapun persis garis-garis potongan roti sandwich yang kita buat, di mata mereka satu sandwich bentuknya kuadrat, satunya lagi jajaran genjang. Jadi, kita nggak perlu meratapi diri karena merasa gagal menjadi ortu yang adil.

Lima poin di bawah mungkin bisa membantu kita dalam menyikapi perang Baratayuda anak-anak kita:


  1. Jangan terlalu berharap tentang ‘perfect harmony’ (keharomonisan yang sempurna). Hubungan kakak adik penting untuk belajar bersosialisasi. Beda pendapat dan perselisihan adalah termasuk di dalamnya.
  2. Beri pujian jika memang layak mendapatkannya. Jika anak bermain bersama dengan baik dan saling berbagi, beri perhatian dan pujian. Jangan terlalu cepat campur tangan jika tiba-tiba mereka bertengkar dan ‘hukum’ si nakal dengan tidak memberi perhatian.
  3. Kita adalah contoh nyata. Sikap, perbuatan dan kata-kata kita saat berselisih dengan pasangan adalah contoh nyata bagi anak-anak. Anak-anak akan mendapat contoh yang baik jika kita menyelesaikan masalah dengan suami/istri dengan sikap tenang dan bijaksana.
  4. Buat permainan. Kegiatan dan permainan team yang menyangkut ‘giliran’ dan ‘bekerja sama’ sangat membantu anak-anak untuk menghindari perselisihan.
  5. Play fair. Perlakukan anak-anak dengan seadil-adilnya dan jangan pernah berasumsi bahwa salah satu dari mereka selalu si biang keladi. Anda akan terkejut, betapa cerdik cara mereka untuk mengambil perhatian kita. Bahkan tidak jarang si kecil yang tampak innocent adalah si biang keladi.

10/06/2011

Cinta Monyet, Oh, Cinta Monyet



Dua hari yang lalu cuaca lagi indah (baca: matahari bersinar). Si Kutilang mengundang salah satu teman sekelasnya untuk datang bermain. Namanya Maria. Si Maria ini anak termuda di kelas. Meski sudah kelas 3 SD, umurnya belum genap 8 tahun. Karena badannya yang bongsor, orang sering mengira dia sudah kelas 4. Yang menarik dari si Maria, dia masih suka nangis ‘hoa-hoa’ kalau lagi ngambek.

15 menit setelah telpon ditutup, si Maria datang dengan atribut khasnya, warna pink dan ungu. Bahkan scooter-nya pun pink. Kami bertiga duduk di teras sambil mengawasi si Bogang yang lagi main bola sama anak tetangga. Si Maria mengeluarkan sebuah buku dari tas cangklong pink-nya. Coba tebak apa warnanya? That’s right, ungu muda dengan bunga-bunga warna pink.
“Wow, cantik banget bukunya,” komentar FunkyMami basa-basi.
“Ini bukan buku, tapi kertas-kertas surat. Aku sengaja bawa ke sini soalnya aku mau nulis surat cinta,” kata si Maria tanpa ba-bi-bu. Dia tersenyum-senyum sampai pipinya yang sehat sewarna dengan tasnya. Berusaha tidak terkejut FunkyMami menanyakan siapa gerangan si cowok beruntung.

Si Kutilang berbisik:
“Dia jatuh cinta sama Yan.”

Si Kutilang harus berbisik karena kebetulan si Yan adalah tetangga kami yang rumahnya berdempetan dengan rumah kami. Bahkan kebun kami hanya dipisah oleh semak-semak rendah. Dan saat itu pula, dengan jarak lima meter kami bisa melihat si Yan yang lagi loncat-loncat di atas trampolin. Sesekali mulutnya mengangah terengah-engah, sesekali kakinya terbentang kesamping, persis katak loncat. Dalam hati FunkyMami bilang, ‘Oke, Maria jatuh cinta sama pangeran kodok.’

“Hi! Lagi ngapain kalian?” teriak si Yan sambil terengah-engah.
“Lagi melakukan suatu rahasia yang kamu nggak boleh tahu!,” balas si Maria berteriak, lalu cekikian dan merepet-repet ke Kutilang saking senengnya.


Surat cinta pun ditulis.

Si Kutilang dan si Maria pun mulai sibuk mengatur kertas, memperisapkan pulpen warna ungu dan pink, menghias pinggir kertas. Si Kutilang menyarankan pakai penggaris dan potlot lalu menggambar hati kecil-kecil di atas garis tersebut. Sibuk banget mereka sambil cekikikan. Dah persis anak teenager. Nggak ada rasa malu sedikitpun sama FunkyMami, atau setidaknya berusaha merahasiakannya. Pokoknya FunkyMami dianggap patung berbentuk ibu-ibu dah. FunkyMami pikir, ada sesuatu yang salah dengan anak-anak ini. SALAH BESAR. Nggak cuman mereka terlalu terus terang, tapi mereka juga bersikap seolah semuanya wajar.

APA YANG TELAH MENIMPA ANAK-ANAK JAMAN SEKARANG?
SUDAH BERANI BICARA SOAL CINTA MESKI INGUS MASIH MBELER?
KARENA KEBANYAKAN MAKAN TELUR AYAM LEHOR KAH?
KARENA DAMPAK GLOBAL WARMING KAH?
KARENA SALAH ASUHAN KAH?
ATAU KARENA KESALAHAN LETAK TITIK KOORDINAT TEMPAT MEREKA LAHIR DAN TUMBUH
(alias nggak pernah mengenal budaya Timur)?


FunkyMami bisa bayangkan, seandainya dulu pas SMA FunkyMami ketahuan nulis surat cinta, pasti ada lemparan selop yang mendarat di jidat. Jangankan nulis surat cinta, kakak FunkyMami yang dulu sudah kelas 3 SMP saja kena semprot habis-habisan di depan seluruh anggota keluarga hanya gara-gara menerima surat cinta. Padahal itu surat sudah disembunyikan di lipatan baju dalam lemari. Tapi berhubung alm.ibu FunkyMami orang yang sangat kreatif, maka surat cita itu bisa tertangkap basah juga. Kakak FunkyMami yang tidak bersalah hanya bisa meneteskan air mata karena malu.

Sebenarnya FunkyMami nggak tahan pingin segera membahas masalah cinta-cintaan ini sama kedua bocah cilik ini. Tapi berhubung si Maria ini anak orang maka FunkyMami putuskan untuk menunggu sampai Maria pulang. Yang jelas, tema ini sangat manarik, kalau tidak mau dibilang mengganjal. Di samping itu, FunkyMami juga penasaran, sejauh mana sih pengetahuan mereka soal cinta? Maka FunkyMami pun pasang kuping sambil pura-pura jadi patung ibu-ibu. Percakapan si Kutilang dan si Maria kira-kira berlangsung seperti ini:

“Oke, aku mau nulis BUAT YAN TERSAYANG. AKU MENCINTAIMU LEBIH DARI APAPUN. Hem... terus apa lagi ya?”
“Tulis kamu pingin menikah dengannya.”
“Oh, oh, ya... bisa aku tambahin, JIKA MEMANDANGMU AKU JADI MEMBAYANGKAN MENJADI PENGANTIN.”

Huahahahaha...! FukyMami rasanya pingin ngakak. Ih, norak banget nih anak-anak SD. Nangis juga masih ‘hoa-hoa’, pake pingin jadi pengantin segala! Tiba-tiba si Maria menunjukkan hasil tulisannya ke FunkyMami tanpa malu-malu.

“Coba lihat, bagus ya, ‘Cinta’nya aku kasih warna pink?” kata si Maria.

OH MY GOD! Nguping lagi...

“Cuman itu doang?”
“Oh, aku bisa tambahin, KALAU AKU TIDUR DAN MEMBAYANGKANMU, AKU BISA LIHAT WAJAHMU DI ATAP.”

Lagi, huahahaha...! Kayak lagunya Ebiet G. Ade. Nguping dilanjut...

“Eh, aku pake inisial ya, biar Yan nggak ngerti siapa yang nulis.”
“Apaan tuh inisial?”
“Kayak kode. Misal, Maria kodenya M.”
“Ih bego, pasti dia tahu M itu Maria!”
“Oh, oke, gambar kunci aja ya?”

Alis FunkyMami mengerut. Gambar kunci? Emang dia penunggu kuburan? Apa hubungannya ‘kunci’ sama ‘Maria’. Lagian ngapain susah-susah bilang cinta kalau si korban nggak tahu siapa yang punya rasa. Tahu ah! Anyway, nguping lagi...

“Kok kunci sih? Pake nama orang lain aja.”
“Eh, jangan, itu namanya menghasut. Kasihan orangnya.”
“Oh, iya ya, ya udah gambar kunci ajalah.”

Jadilah, mereka menutup surat cinta itu dengan inisial gambar kunci. Lalu cekikian lagi dan memasukkan surat ke dalam amplop warna pink. Tiba-tiba muncul anak tetangga Si Pipi, yang kebetulan juga sekelas dengan mereka.

“Eh, ngapain kalian?” tanya si Pipi sambil intip-intip di balik pagar.
“Sstt...sstt kesini, coba lihat ini,” kata si Maria sambil mengajak si Pipi masuk teras. FunkyMami jadi bingung, katanya rahasia tapi kok malah bikin ‘woro-woro’. Si Pipi pun gabung dan mulai membaca surat cinta itu. Dia pun ikut cekikan. Dia juga menganjurkan ini itu. Revisi pun dilakukan lagi diiringi dengan segala qiqiqiqi.

Tiba-tiba, muncul satu anak lagi. Si Emma, adik si Yan yang umurnya baru empat tahun.
“Kalian lagi ngapain?” tanya si Emma yang tampak imut dengan kostum princess-nya. Warna pink juga.
“Emma, ini surat cinta buat si Yan. Awas, jangan kasih tahu dia! Janji?” ancam si Pipi.
“Oke,” jawab Emma polos.

Ya ampun, amatir banget. Bagi-bagi rahasia sama anak umur 4 tahun. Mana bisa? Adik si korban lagi! Karena begitu berisik dan ribut, si Bogang dan anak tetangga jadi ikut-ikutan gabung dan jinjit-jinjit pingin tahu ada apakah gerangan di atas meja. Lha, mereka ikut cekikian juga meski nggak tahu apanya yang lucu. Sementara, si pangeran kodok masih tetep loncat-loncat tanpa merasa cedutan sedikitpun.


Surat pun selesai dan siap dikirim ke si korban.

“Eh, gimana caranya agar dia cepat baca?”
“Masukkan ke kotak posnya.”
“Ntar orang tuanya yang baca.”
“Oh, iya ya. Kasih tahu dia suruh buka kotak pos secepatnya.”

Mereka sepakat.

“YAAAN...! Buka kotak pos mu secepatnya! Tapi tunggu sebentar, kita mau masukkan surat dulu!” teriak si Pipi yang langsung disruduk kepalanya sama sih Kutilang.
“Gimana sih kamu. Sekarang mah bukan rahasia lagi. Dia pasti tahu itu surat dari kita!” Si Pipi minta maaf dan teriak lagi.
“Sorry Yan, salah infoooo. Suratnya bukan kita yang nulis!”
“Oke,” jawab si Yan masih cuek loncat-loncat.

Perut FunkyMami rasanya kaku menyaksikan kepolosan dan ketololan mereka. Ampun dah. Yang di sini sibuk merasa berbunga-bunga, yang jadi korban cuek aja nggak peduli. Sementara keenam anak besar dan kecil pada gemberuduk lari menuju kotak pos si Yan. Beberapa saat kemudian mereka kembali lagi sambil cekikikan. Si Bogang ikut-ikutan cekikikan tanpa alasan.

“Yan, sekarang kamu dah boleh ambil suratnya,” kata si Kutilang.
“Kalau aku nggak mau?”
“Harus mau!” bentak si Maria.
“Tapi aku nggak punya kuncinya,” kata si Yan. Tetep loncat-loncat.
“Tanya ke mamamu!” saran si Pipi.

Sambil mengeluh karena harus menghentikan kegiatan loncat-loncat, si Yan pun beranjak mengambil surat. Dari tempat kami duduk kami bisa mendengar dia meminta kunci kotak pos dari mamanya. Si cewek-cewek ini langsung semburat lari ke dalam rumah buat sembunyi. Lha, gimana sih? Rahasia dah dibeber, tapi masih juga sembunyi. FunkyMami cuman bisa geleng-geleng.


Nasib sang surat.

Si Yan balik ke kebun dengan membawa sepucuk surat yang sudah dibuka.
“Siapa nih yang nulis?” teriak si Yan. Dia tampak bingung begitu melihat cewek-cewek dah pada menghilang.
“Bukan kami!” teriak beberapa suara dari dalam rumah.
“Ini pasti kerjaan si Maria, soalnya pake warna ungu dan pink,” kata si Yan.
Dari dalam kedengaran suara berbisik,” Kamu sih, pake warna ungu dan pink, semua orang juga tahu itu pasti kamu Maria!”
Si Maria teriak dari dalam rumah: “Itu memang pulpenku, tapi yang nulis si Kutilang!”
Terdengar suara berantem dari dalam rumah.

Si Yan bilang: “Oke, kalau nggak ada yang mau ngaku, suratnya aku buang!”

Dan begitulah nasib surat yang dibuat dengan susah payah penuh cekikikan. Sang surat melayang ke dalam kolam ikan. FunkyMami sempat syok dan mengantisipasi tangisan ‘hoa-hoa’ atas perbuatan kejam si Yan. Atau melihat elusan penghibur lara buat si Maria dari teman-teman dekatnya. Eh, tapi yang ada malah tawa cekakakan saat cewek-cewek itu menghambur keluar.

Oh, ada sedikit kekecewaan dalam diri FunkyMami karena harapan FunkyMami untuk melihat seseorang berseduh sedan karena patah hati telah terbang bersama angin. Ternyata urusan cinta-cintaan anak-anak SD ini tidak seburuk yang FunkyMami kira. Memang, FunkyMami pernah baca, cinta monyet anak-anak pra teenager ini adalah semacam penyakit gatal-gatal. Setelah digaruk gatalnya hilang dan pindah ke tempat lain. FunkyMami jadi teringat masa kecil dulu. FunkyMami juga pernah ‘jatuh cinta’ sama teman sekelas selama beberapa saat, kemudian pindah ke anak lain. Begitu saja, tanpa alasan. Dan bukan FunkyMami saja yang mengalami hal seperti ini.

Jadi, sebenarnya, kalau mau diurut-urut, urusan cinta monyet ini nggak ada hubungannya sama urusan didik mendidik dalam rumah, letak titik koordinat lokasi kelahiran dan tumbuhnya si anak atau peternakan ayam lehor. Karena hal semacam ini sepertinya wajar dan bisa terjadi di mana saja tanpa mengenal ras dan budaya.


Cinta monyet anak pra teenager.

Penasaran, FunkyMami pun buka-buka internet. Dari semua artikel tentang cinta monyet yang FunkyMami baca, intinya adalah sama, bahwa wajar jika cinta monyet terjadi pada anak-anak pra teenager dan tidak perlu dikhawatirkan. Yang terpenting adalah pengawasan dan bimbingan orang tua untuk si anak.


Cinta monyet anak teenager.

Oke, cinta monyet pra teenager tidak terlalu mengkhawatirkan. Bagaimana kalau sudah teenager? Oh, man, FunkyMami nggak akan pernah lupa dengan pengalaman ini. Tidak akan FunkyMami rela menukar pengalaman ini dengan duit bergebok-gebok sekalipun. Cinta pertama memang tak terlupakan. Bahkan deritanya pun masih bisa dinikmati saking indahnya. Gedubrak! Kalau udah kayak gini nih, anak yang rajin ke masjid, ke gereja, ke wihara, ke pura, atau klenteng pun akan kewalahan menahan serangan panah-panah asmara. Hayo ngaku! Dan alangkah riskannya menggenggam rahasia ‘jatuh cinta’ agar tidak jatuh ke tangan orang tua? Coba, berapa persen dari generasi kita yang berani blak-blakan sama orang tua, 'Permisi Pak, Bu, saya lagi jatuh cinta. Jadi mohon dima’afkan kalau selera makan turun dan lupa bikin PR.' Dipikir-pikir, si Maria masih punya nyali dibanding FunkyMami dulu. Jangankan ngaku ke orang tua, cerita ke kakak adik saja rasanya memalukan. Tapi coba bayangkan, saat cinta berbuah kesengsaraan, betapa beratnya menahan lara sendiri tanpa bisa mengadu pada kakak atau orang tua, orang-orang yang biasanya kita percaya? Makanya, dulu kita lebih suka curhat sama sahabat. Beruntung kalau si sahabat berakal sehat. Kalau tidak? Bukannya selamat yang ada malah tersesat. Bukankah remaja memang suka ikut-ikutan?

Tapi misalnya, MISALNYA nih ya, kalau urusan ikut-ikutan teman saat mabuk kepayang memang terjadi, sampai terjadi kehamilan misalnya, siapa yang harus disalahkan? Yang jelas, jawaban tiap individu pasti lain-lain, mulai dilihat dari sudut moral, agama, sosial dan sebagainya. Terlepas dari pandangan masing-masing individu tentang siapa yang harus disalahkan, FunkyMami yakin akan kebenaran satu hal, yaitu KETERBUKAAN. Saat anak mengalami masa-masa kritis jatuh cinta, keterbukaan dengan orang tua adalah tameng dari segala keterpurukan. Karena, jika orang tua mengetahui apa yang sedang terjadi, maka mereka akan bisa mengawasi dan membimbing si anak ke jalan yang benar. Saat ini si Kutilang dan si Bogang memang masih belum mengalami turun nafsu makan gara-gara jatuh cinta, tapi cepat atau lambat hal itu akan terjadi juga. Tentang apa yang akan FunkyMami lakukan nanti dalam menghadapi hal ini, FunkyMami masih belum tahu. Tapi satu hal yang FunkyMami tidak akan pernah lakukan, yaitu mempermalukan anak-anak seperti yang dilakukan orang tua FunkyMami dulu terhadap si kakak. Karena setelah kejadian itu, si kakak memutuskan tidak akan terbuka sedikitpun sama orang tua tentang urusan cinta. Oh, betapa disayangkan. Beruntung dia memiliki adik yang baik seperti FunkyMami *dengan dada membusung* sehingga dia tidak terjermus ke hal-hal yang tidak berguna (kalau kakak FunkyMami baca ini pasti protes).

Sementara, bagi ortu yang saat ini lagi pusing menghadapi anak-anak yang lagi kena penyakit jatuh cinta, mungkin poin-poin di bawah bisa membantu:

Daftar JANGAN:


  • Jangan meledek anak soal pacar, terutama di depan saudara dan anggota keluarga lainnya baik dekat maupun jauh. Anak akan merasa malu telah memiliki rasa cinta yang sebenarnya wajar dan positif. Akibat dipermalukan di depan orang-orang ini, si anak bisa menutup diri dari urusan cinta kemudian hari.
  • Jangan bertidak berlebihan dan terlalu khawatir bahwa urusan cinta ini bakal serius. Besar kemungkinannya cinta monyet berantakan di tengah jalan. Coba hitung berapa teman-teman kita yang menikahi pacar SMAnya dulu?
  • Jangan katakan pada anak “Semuanya pasti akan berlalu.” Hal ini bisa menyepelekan perasaan yang sedang dialami si anak, yang buat dia adalah sangat nyata dan mendalam.
  • Jangan berlagak seolah hal ini tidak terjadi. Dilihat dari prespektif si anak, saat ini adalah momen terbesar dan terindah yang pernah terjadi dalam hidupnya sejauh ini. Mereka merasa dicintai dan mencintai. Jika orang tua tidak peduli dengan sesuatu sebesar dan seindah ini, maka mereka bisa menyimpulkan bahwa orang tua tidak peduli dengan mereka.
  • Jangan terlalu sering bertanya tentang si pacar, apalagi tiap hari. Hal ini hanya akan memperberat sesuatu yang sedang berkembang dalam urusan percintaan mereka.

Daftar SILAHKAN:

  • Berpikir dan bersikap positif, tidak menentang dan tunjukkan interest.
  • Tanyakan pada anak apa yang dia sukai dari si pacar atau seseorang yang lagi dia cintai. Beri komentar positif atas kebaikan-kebaikan tersebut.
  • Tunjukkan bahwa kita terbuka untuk mendengarkan dan biarkan anak mempunyai inisiatif untuk membuka percakapan dengan kita. Jika kita tidak mendengar apapun setelah satu atau dua minggu, tunjukkan perhatian dengan menanyakan kabar si pacar. Bagaimana sikap si anak saat merespon pertanyaan kita akan menunjukkan bagaimana kondisi hubungan mereka, masih segar atau sudah basi.
  • Sering terjadi hubungan cinta usia remaja putus begitu saja tanpa ada alasan khusus. Jika anak kita menderita patah hati atau bingung mengapa dia mendapat perlakukan seperti itu, tunjukkan bahwa kita mengerti perasaan mereka dan berikan keterangan yang bisa membuat mereka mengerti. Misal, daripada mengatakan: “Rudy/Nancy sudah tidak tertarik lagi dengan kamu” lebih baik mengatakan, “Kadang orang berubah pikiran tentang apa yang mereka suka dan tidak tanpa alasan tertentu. Memang, hal ini bisa sangat membingungkan dan sulit dimengerti.”

Kok FunkyMami bisa tahu? Kan anak-anaknya masih kecil. Lho, kan sudah dibilang, FunkyMami buka-buka internet buat nyari info. Ini info bukan dari FunkyMami langsung, tapi dari Jody Johnston Pawel, si pengarang buku The Parent’s Toolshop.


Membahas urusan surat cinta.


Pas FunkyMami lagi sibuk-sibuknya browsing, FunkyMami nggak sadar kalau si Yan dan beberapa teman cowoknya sedang bermain bersama cewek-cewek. Semuanya, besar kecil, pada lari-lari dan teriak-teriak sambil membawa pedang-pedangan. Tak ada kesan drama jatuh cinta atau patah hati sedikitpun dari permainan mereka. Yang ada malah peperangan sengit antar bintang dan planet. Si Yan adalah Darth Vader, si Kutilang adalah putri Amidala, sementara si Bogang adalah robot Artuditu, sementara teman lainnya adalah Master Joda (Yang nggak paham karakter-karakter tersebut, sudah waktunya nonton film Star Wars!). Mereka dan karakter-karakter lainnya sibuk berperang dengan pedang yang bunyinya ‘bzzzz...bzzzz...bzzzz’, lari-lari berpindah dari kebun satu ke kebun lainnya.

Malam hari pas makan malam, kami membahas urusan surat cinta ini. Yang tadinya ‘mengganjal’ berubah menjadi ‘menarik’ setelah menyaksikan perang Star Wars sebagai dampak mendaratnya sebuah surat cinta ke dalam kolam ikan. Tiba-tiba si Kutilang bilang: “Aku juga pernah kirim surat cinta ke seseorang, tapi dia tidak pernah tahu siapa si pengirim.” FunkyMami tetap releks karena ‘efek Star Wars’ - tidak menyela dan tidak mengkritik. Tiba-tiba si Bogang juga bilang kalau dia juga pernah mendapat surat cinta. Ini yang kami langsung syok! Anak umur 3,8 tahun mendapat surat cinta? Yang ini sih bukan hanya ‘mengganjal’, tapi ‘skandal’! Maka secepat kilat kami semua menyerbu si Bogang dengan pertanyaan yang sama ‘Siapa yang telah mengirim surat cinta?’

Dengan muka serius dan suara ditekan dia menjawab: “Kapten Jack Sparrow. Dia ngirim surat cinta, isinya peta tempat harta karun!”

Huahahhaha...!!!

8/14/2011

Jika balita sangat pemalu




Seorang balita umur 3 tahun-an yang lucu bermain sendiri di sudut ruang playgroup, sibuk tanpa menghiraukan yang lainnya Dia menolak bergabung untuk menyanyi bersama meski di rumah dia bisa menyanyikan lagu-lagu itu. Anehnya, di rumah dia banyak bicara dan menuntut banyak perhatian. Dia juga jarang mau mencoba permainan baru tanpa harus dibujuk-bujuk dulu. Akankah dia bertahan saat masuk TK nanti? Akankah dia sulit berteman? Haruskah kita khawatir jika kebetulan anak balita kita sangat pemalu di luar rumah?


Menurut Dr Andrew Raffles, seorang consultant paediatrician dan penulis kontributor bulu Birth & Beyond, bukanlah hal baru jika seorang balita menjadi sangat pemalu. Dengan banyak dukungan dan dorongan kebanyakan rasa malu itu akan hilang dengan sendirinya. Banyak balita yang melewati tahap ‘tidak mau bicara di luar rumah’ dan memakai cara-cara lain untuk berkomunikasi.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi masalah ini? Ada banyak cara, tapi tiga poin dibawah biasanya sangat membantu:

Meningkatkan rasa percaya diri


Kunci utamanya adalah membangun rasa percaya diri dan rasa bangga terhadap diri anak. Jika dia memerlukan banyak dorongan dalam bermain, misal, bermain puzzle, maka kita beri dorongan sebanyak-banyaknya. Pilih permainan yang dia kuasai dan beri banyak pujian jika dia berhasil menyelesaikannya. Libatkan anak dalam kegiatan yang memberikan hasil nyata, misal, memasak. Beri perhatian dan pujian akan hal-hal kecil yang dia lakukan meski tanpa kita suruh, seperti merapikan mainannya atau saat mengucapkan ‘tolong’ dan ‘terima kasih’.

Memberi persiapan mental


Jelaskan pada anak sebelum melakukan suatu kegiatan dan beri keterangan apa yang akan terjadi kemudian, seperti saat meninggalkan rumah untuk belanja atau berkunjung ke rumah seseorang. Saat mau tidur, beritahu apa yang akan kita lakukan besok. Beri anak kesempatan untuk bertanya atau berbicara tentang apapun yang mungkin membuat dia merasa takut atau khawatir.

Memberi pengertian ‘mama akan kembali’


Jika anak diasuh oleh pengasuh atau saudara, beri anak gambaran yang jelas dengan kata-kata yang mudah dimengerti bahwa kita akan kembali, misal, “setelah makan siang”, “setelah bermain”. Pada usia balita kegelisahan, merasa tidak aman dan ketakutan akan perpisahan (terutama dengan orang tua) adalah wajar. Juga wajar terjadi pada saat anak mulai sekolah, dan para guru sudah terbiasa menangani masalah ini. Jadi kita tidak perlu terlalu khawatir.

5/31/2011

Berbadan pendek pasti sering diledek, benarkah?



Oke, anak kita termasuk berbadan pendek. So what?

Kebetulan nih, si Kutilang, anak FunkyMami, badannya paling pendek di kelas, meski umurnya paling tua. Sejauh ini sih dia belum pernah mengeluh diledek teman karena tinggi badannya. Mungkin karena dia anak cewek. Sepertinya, secara umum cewek berbadan pendek dianggap lumrah. Mungkin karena masyarakat terbiasa dengan kenyataan bahwa cowok biasanya lebih tinggi dari cewek. Di samping itu banyak selebriti berbadan pendek yang sangat populer, seperti Yuni Sarah, Kylie Minoque, atau Salma Hayek.

Sebaliknya, cowok berbadan pendek bisanya lebih gampang menarik perhatian. Bahkan tidak jarang anak cowok berbadan pendek menjadi bahan ejekan dan dibuli teman-temannya. Sebagian bisa mengatasi masalah ini dengan menunjukkan karakter lucunya yang membuat banyak teman menyukainya. Tapi sebagian bisa menjadi agresif dan penuntut – atau yang biasa disebut ‘Napoleon Complex’.
Memang sih, panggilan ‘si pendek’, ‘si bonsai’, ‘si cebol’ dan sejenisnya bisa bikin merah telinga. Apalagi panggilan-panggilan tersebut memang sengaja diciptakan dengan tujuan mengejek. Yang jelas anak kecil memang suka meledek temannya yang tampak beda dari lainnya. Yang menjadi pertanyaan,
"Apakah semua anak berbadan pendek selalu menjadi sasaran empuk buat diledek? Ternyata jawabanya tidak.

Kunci utamanya adalah ‘self-esteem’ atau rasa percaya diri alias nggak minder. Sebuah penelitian jangka panjang yang dilakukan di University of Gothenberg di Swedia, telah menyelidiki mengapa sebagian anak bertubuh pendek mengalami perkembangan mental dengan baik, sementara sebagian lagi mengalami masalah. Mereka menemukan jawaban bahwa sikap orang dewasa lah yang menyebabkan perbedaan tersebut. Kebahagiaan anak berbadan pendek kemungkinan besar tergantung pada bagaimana orang tua dan orang dewasa lainnya memperlakukannya. Anak cowok berbadan pendek yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri tidak akan diledek teman-temannya karena dia mempunyai rasa percaya diri yang kuat dan nggak minder. Terlepas dari kondisi tubuhnya, biasanya mereka tetap gembira dan mudah beradaptasi. Tipe anak berbadan pendek seperti ini biasanya datang dari keluarga yang tidak mempermasalahkan tentang tinggi badan. Anak yang memiliki orang tua yang suportif bisa mengatasi faktor resiko lebih baik.

Yang menarik, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang memiliki orang tua yang juga berbadan pendek sangat jarang mengalami masalah psikologi. Mungkin karena orang tua mereka adalah panutan yang baik. Orang tua yang berbadan pendek biasanya tidak mempermasalahkan tentang tinggi badan ataupun mencari bantuan medis.
Jika anak dihargai, sering dipuji, dan memiliki komunikasi yang baik dengan keluarganya, maka dia akan memahami bahwa berbeda dengan lainnya tidak harus membuatnya merasa rendah diri.

5/27/2011

Pentingnya kemampuan mengenali wajah bagi anak

Wajah manusia menyimpan banyak ekspresi. Membaca pesan halus yang tersirat dari ekspresi wajah bukanlah pekerjaan mudah bagi semua anak. Kemampuan mengenali dan membaca ekspresi wajah adalah aspek penting bagi kesejahteraan fisik dan emosional anak.


Kita mungkin sudah hapal dengan setiap lipatan dan celah wajah mungil anak kita. Alisnya yang tertarik saat gembira, bibirnya yang manyun saat kesal, hidungnya yang bergerak saat serius, lidahnya yang terjulur saat asyik, atau mulutnya yang ternganga saat terpanah. Kita sangat menikmati gerakan-gerakan ini sejak mereka lahir. Mengenali perubahan wajah mereka, membaca dan mengartikannya secara alami telah menjadi bakat kita.
Sebaliknya, kemampuan mengenali dan membaca ekspresi wajah kita telah membantu anak dalam membukakan cendelanya untuk mengenal dunia. Anak mulai mengerti lebih luas tentang kehidupan sosial dengan cara menatap dan mempelajari ekpresi wajah kita.
Sebegitu pentingkah kemampuan mengenali dan membaca ekspresi wajah bagi anak?

Kemampuan mengenali dan membaca ekspresi wajah penting sebagai dasar kecerdasan emosional.


Mungkin tanpa kita sadari, dengan tersenyum kita telah membantu memantabkan keyakinkan anak dalam mempelajari perilaku mana yang bisa diterima dan perilaka mana yang seharusnya dihindari. Lebih dari itu, mampu mengenali wajah kita akan memberi anak rasa aman. Anak dengan pengelihatan normal sudah bisa mengenali wajah orang tua pada usia sekitar enam bulan, dan mereka akan barbalik menatap wajah orang tua saat merasa tidak aman atau membutuhkan perlindungan.

Wajah manusia menyimpan banyak ekspresi. Membaca pesan halus yang tersirat dari ekspresi wajah bukanlah pekerjaan mudah bagi semua anak. Kemampuan mengenali dan membaca ekspresi wajah adalah aspek penting bagi kesejahteraan fisik dan emosional anak.

Dengan mengindentifikasi orang lain dan membaca ekspresi wajah mereka, anak telah mengumpulkan banyak informasi penting yang diperlukan agar bisa berhubungan dengan individu lain. Kemampuan mengenali ekspresi wajah orang lain membantu anak untuk mempelajari rasa empati yang berguna sebagai pentunjuk arah dalam kehidupan sosial yang lebih kompleks.

Kemampuan mengenali dan membaca ekspresi wajah penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri.


Tidak jarang, kita memberikan isyarat pada anak melalui ekspresi wajah kita untuk menunjukkan bahwa kita setuju atau tidak setuju dengan tindakan mereka – terutama saat kita berada dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk memperingatkan anak dengan kata-kata. Bayangkan, betapa sulitnya jika anak tidak mampu mengartikan pesan yang tersirat dari ekspresi wajah kita? Anak dengan kesulitan seperti ini sering menimbulkan kesalahan identitias, menyalah artikan isyarat dan membuat banyak kesalahan dalam kehidupan sehari-hari – sehingga tanpa bekal strategi yang efektif untuk menanggulangi masalah seperti ini, maka anak akan kehilangan rasa percaya diri.
Bagaimana cara mengetahui apakah anak menderita kesulitan mengenali wajah?

Kesulitan dalam mengenal wajah yang sangat parah, seperti tidak bisa mengenali wajah seseorang hanya karena dia memakai kacamata, ganti potongan rambut atau memakai topi, dikenal dengan istilah prosopagnosia. Kasus prosopagnosia adalah kasus umum yang menimpa dua persen dari jumlah penduduk. Banyak orang berasumsi prosopagnosia hanya terjadi dalam spektrum autis. Sementara penelitian menunjukkan prosopagnosia juga bisa terjadi di luar spektrum autis. Prosopagnosia pun bisa dialami secara berbeda antara penderita satu dengan penderita lainnya.

Terlepas apakah anak menderita prosopagnosia atau tidak, sangat penting bagi anak untuk bisa belajar membaca dan mengerti ekspresi wajah seseorang. Selama pengelihatan anak normal, kita bisa memantau apakah anak menderita kesulitan mengenali wajah, misal:
  • Apakah dia lebih suka menggunakan strategi non-facial dalam mengenali seseorang, misal dari bentuk rambut, suara, baju, dan sebagainya.
  • Apakah dia sering salah mengidentifikasi orang?
  • Apakah dia tidak bisa mengenali wajah seseorang yang dia kenal sebelumnya setelah orang tersebut memakai topi atau kaca mata hitam?
  • Dengan ditunjukkan beberapa ekpresi wajah, apakah dia bisa membaca atau mengartikannya?
  • Bisakah anak membaca ekspresi wajah yang lebih kompleks, misal saat seseorang tampak bosan karena dia berbicara terlalu banyak?

5/05/2011

Persahabatan Si Kutilang dan Si Pipi


Ada saatnya dikala kita memiliki kontrol penuh dalam mengatur pertemanan anak. Jika teman si anak adalah tukang jotos, ngludah atau ngrebut mainan, kita bisa menghindarkan anak dari teroris kecil itu. Tapi itu sih dulu, jaman anak masih balita. Setelah masuk usia sekolah, biasanya anak punya opini sendiri tentang teman-temannya. Memang sih, kalau kita mau, kita tetap bisa mengontrol pertemanan anak. Cuman, pertanyaannya, apakah campur tangan kita bakal membuat anak lebih bagagia atau malah sebaliknya?


Pindah rumah lagi


1.5 tahun yang lalu, FunkyMami beserta keluarga pindah ke tempat yang ditinggali sekarang. Semuanya serba baru buat si Kutilang (anak FunkyMami yang no. 1) – budaya baru, bahasa baru, sekolah baru dan teman-teman baru. Meski bukan tergolong anak pemalu, si Kutilang juga bukan termasuk anak yang supel. Dia selalu butuh waktu dalam mencari teman baru. Untungnya kami tinggal di sebuah perumahan baru yang terletak di desa kecil. Rata-rata penghuninya adalah keluarga muda dengan anak-anak seusia si Kutilang dan si Bogang (adik si Kutilang). Mereka pergi ke sekolah yang sama seperti si Kutilang. Bahkan ada lima anak tetangga yang sekelas dengan si Kutilang. Maka dalam tempo cuman seminggu, si Kutilang sudah punya banyak teman.

Meski hidup di pedesaan sering bikin FunkyMami merasa bosan, FunkyMami tetep merasa beruntung anak-anaknya bisa back to nature – gaya hidup yang bener-bener baru buat mereka. Di tempat sebelumnya, si Kutilang pergi ke sekolah dengan bis jemputan. Berangkatnya harus pagi-pagi untuk menghindari macet. Karena masih ngantuk, anak-anak sering tidur pulas dalam bis, sehingga jarang ada komunikasi. Bangun-bangun kalau dah nyampe di koridor sekolah. Pulang sekolah pun begitu, dari koridor langsung naik bis sampai tiba di depan rumah. Dengan kata lain, dalam perjalanan rumah-sekolah p.p anak-anak ini jarang nginjek tanah atau menikmati kehijauan, apalagi udara segar. Makanya, si Kutilang happy banget begitu dapat kesempatan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki rame-rame. Tiap pagi FunkyMami bisa melihat betapa ceria wajah mereka, nggak peduli cuaca lagi buruk. Ntar pulangnya ada aja yang dibawa, yang tongkat kayu lah, yang bekicot mati lah…

Ketemu Pipi - "Si kaos kaki tidak panjang"


Dari sekian teman itu, ada satu anak yang lumayan dekat dengan si Kutilang. Sebut saja namanya Pipi. Pipi adalah tetangga depan rumah. Tiap pagi dia menjemput si Kutilang dan berjalan bersama ke sekolah. Si Pipi nggak hanya berlawanan secara fisik dengan si Kutilang, tapi juga karakter. Meski umurnya lebih muda hampir setahun, dia lebih tinggi satu kepala dibanding si Kutilang. Rambut si Pipi blonde, sementara rambut si Kutilang coklat gelap. Si Pipi anaknya lincah, bebas dan hampir selalu gembira. Sebaliknya si Kutilang lamban, sering ragu dan agak minder. Mungkin karena perbedaan yang mencolok inilah, mereka jadi cepat akrab. Sepertinya sifat-sifat mereka saling melengkapi.
Hampir tiap hari selalu ada cerita baru tentang si Pipi. Kebanyakan tentang ulahnya yang aneh-aneh. Misalnya, merangkak ke bawah mobil yang lagi diparkir cuman untuk mengambil tetesan air beku yang runcing-runcing (kalo lagi musim dingin di bawah mobil suka ada tetesan air yang membeku kayak stalaktit). Trus selama perjalanan pulang air es itu pun dijilati kayak makan es loli. Atau punya ide ambil jalan pintas lewat hutan. Pernah dia sengaja lepas jaket, syal dan sarung tangan waktu lagi turun salju tebal. Seperti yang dia rencanakan, besoknya dia sakit selama seminggu. Tentu saja dia seneng karena boleh nonton TV sepuasnya. Pokoknya si Pipi ini mengingatkan FunkyMami sama figur anak-anak – PIPPI SI KAOS KAKI PANJANG. Masih ingat nggak?
Tiap kali si Kutilang bercerita tentang si Pipi, dia tampak takjub dan berapi-api. Bisa dibayangkan, buat si Kutilang yang hampir selalu berhati-hati, ulah si Pipi benar-benar luar biasa. Yang menarik, meski sepertinya si Kutilang menikmati kejailan si Pipi, dia tetep tidak terpengaruh. Si Kutilang tetep seperti yang dulu – si Pengamat. Awalnya FunkyMami sering mengkritik ulah si Pipi, takut dia jadi ikut-ikutan. Tapi setelah yakin si Kutilang memang nggak punya nyali untuk melakukan hal yang sama, FunkyMami pun berusaha tidak terlalu mengkritik si Pipi.

Kebiasaan si Pipi


Selain jahil, sebenarnya ada hal-hal lain tentang si Pipi yang bikin FunkyMami merasa nggak sreg. Misal, beberapa orang tua (terutama ibu-ibu) melarang anaknya main sama si Pipi karena sifatnya yang liar. Juga, ternyata Pipi ini tidak begitu disiplin dalam urusan belajar. Anaknnya paling susah disuruh duduk manis. Di kelas pun dia harus duduk paling depan supaya gurunya bisa terus memantau. Di rumah dia sering bikin orang tuanya kesal karena tiap kali bikin PR pasti berbuntut keributan. Menurut orang tuanya, dari kecil dia memang pinginnya lepas bebas dan sangat aktif. Maunya selalu main di luar. Dan memang, dari sekian anak, si Pipi punya gerakan motorik yang paling bagus. Dia bisa naik sepedah roda satu, salto di jalan, lihai naik wave board, lihai menunggang kuda, pandai berenang dan sebagainya. Pokoknya si Pipi ini bener-bener mirip PIPPI SI KAOS KAKI PANJANG.

Sebenarnya urusan malas belajar ini tidak akan mengganggu FunkyMami kalau si Kutilang nggak kena imbasnya. Hampir tiap hari, begitu pulang sekolah dia langsung ngebel pintu dan ngajak si Kutilang bermain. Padahal aturan di rumah FunkyMami adalah sepulang sekolah si Kutilang harus istirahat dulu dan sedikit makan snack (makan siangnya disediakan di sekolah). Habis istirahat adalah waktu belajar dan bikin PR. Kebiasaan ini sebenarnya juga standar di rumah-rumah lainnya. Tapi entah, sepertinya ada perkecualian di rumah si Pipi. Meski FunkyMami sudah mengingatkan agar tidak datang dulu sebelum selesai belajar, tetep aja tiap hari dia ting-tong ting-tong saat Kutilang sedang belajar.

Hal lain yang sering bikin FunkyMami kesel adalah kondisi Pipi yang jorok. Bukan maksudnya menghina, tapi si Pipi ini memang suka banget main di luar dengan alam. Tentu saja pakaian dan tubuhnya sering kotor. Kalau mainnya di luar terus sih nggak masalah. Nah, kalau FunkyMami dah capek-capek ngepel trus dia masuk rumah dengan kaki berlumpur lalu nangkring di sofa? Wah, bisa asmusi nih si FunkyMami! Belum lagi si Pipi ini memang nggak kenal ba-bi-bu alias tata kramanya agak minim. Kalau masuk rumah maunya nylongong aja ke kamar si Kutilang, atau ambil-ambil makanan sendiri di kulkas tanpa permisi. Ntar tetesan es loli tercecer di mana-mana sampai lantai jadi lengket semua. Pendek cerita, FunkyMami nggak begitu simpati sama anak ini.

Namanya juga berteman, pasti ada perselisihan


Beberapa bulan pertama pertemanan mereka berjalan dengan lancar. Tapi kemudian mereka jadi sering berantem. Perbedaan karakter yang awalnya FunkyMami kira bisa saling melengkapi, ternyata mengakibatkan banyak benturan. Rupanya Pipi nggak cuman punya ide-ide gila, tapi juga suka mengumpat dan bicara kasar. Tiap kali berantem si Pipi sering mengumpat dengan kata-kata yang menyakiti hati si Kutilang. Entah, apakah di rumahnya dia diperbolehkan mengumpat seperti itu. Yang jelas, FunkyMami sering memergoki dia mengumpati anak-anak lain. Akibatnya si Kutilang sering ngambek, janji nggak akan berteman dengan dia lagi. Tapi yah, namanya juga anak-anak, sejam kemudian dah akur lagi.

Campur tangan si Mami


Awalnya, FunkyMami dan si Papi cuman ingin memantau dari jauh. Di saat si Kutilang sedih, FunkyMami dan si Papi hanya menasihati agar dia lebih terbuka sama si Pipi tentang hal-hal yang tidak dia sukai. Rasanya nggak fair kalau mereka dipisahkan begitu saja. Bukankah dalam pertemanan selalu ada perselisihan? FunkyMami dan si Papi berharap agar si Kutilang bisa belajar mengatasi permasalahannya sendiri dan bisa menilai karakter teman-temannya. Dengan mengenal baik buruk karakter teman-temannya, mudah-mudhan dia bisa memiliki pendirian yang teguh dan tidak gampang terpengaruh. Kalaupun si Kutilang memutuskan untuk tidak berteman lagi dengan si Pipi, setidaknya itu keinginannya sendiri dan bukan karena paksaan orang tua. Maka FunkyMami dan si Papi pun sepakat membekali si Kutilang dengan beberapa strategi dalam menghadapi sikap si Pipi.
  1. Si Pipi sebenarnya butuh si Kutilang, karena nggak ada teman lain yang mau berteman dengannya. Kondisi ini tentunya menguntungkan bagi si Kutilang untuk bisa ngasih si Pipi ultimatum: 'Berhenti bicara kasar, atau berhenti berteman?'
  2. Amal-anak lain tidak mau berteman dengan si Pipi karena mereka tidak mau menjadi korban kekasarannya. Kalau mereka berani mengambil sikap, kenapa si Kutilang nggak?
  3. Si Pipi harus mengerti, untuk bisa memiliki seorang teman, dia harus belajar menghargai perasaan orang lain. Kalau tidak mau berubah diri, maka dia akan menerima konsekuensinya - home alone, sendiri...
  4. Si Kutilang harus berani unjuk gigi. Dia harus menjelaskan ke si Pipi tentang hal-hal yang tidak dia sukai.
  5. Terakhir, utlimatum buat si Kutilang sendiri: 'Enak mana, sering pulang nangis atau memberi pelajaran bagus buat si Pipi?'

Syukurlah usaha FunkyMami dan si Papi sepertinya mulai berhasil. Si Kutilang mulai bisa mengendalikan si Pipi. Terjadi banyak perubahan sikap pada si Pipi. Dia mulai sering meminta ma’af, bilang permisi atau terima kasih. Dia pun mulai rajin cuci kaki sebelum datang ke rumah FunkyMami. Dia juga baru ngebel pintu setelah waktu belajar selesai. Mereka sering mengerjakan PR bersama dan saling mengajari. Bahkan kadang-kadang mereka bergiliran membacakan buku cerita. So sweet…

FunkyMami mereasa bersalah


Semakin sering melihat sisi baik si Pipi, FunkyMami pun mulai bisa melihat karakter asli si Pipi. Sekarang FunkyMami mengerti mengapa meski si Kutilang sudah mencoba berteman dengan anak-anak lain, dia akan kembali ke si Pipi. Si Pipi adalah hiburan live buat si Kutilang. Dia bisa membuat si Kutilang tertawa terpingkal-pingkal atau geleng-geleng kepala karena ulahnya yang jahil. Dia juga sangat melindungi si Kutilang bahkan melawan anak-anak yang berani mengganggu si Kutilang. Pernah, si Kutilang lupa membawa pulang tas olah raganya. Di tengah perjalanan ke rumah dia baru ingat dan harus balik ke sekolah untuk mengambil tasnya. Tahu kah apa yang dilakukan si Pipi? Dia rela pulang sendiri dan membantu membawakan tas buku si Kutilang meski dia sendiri harus menyangklong tas raselnya plus tas olah raganya. Waktu FunkyMami nanya, kenapa dia rela berberat-berat seperti itu. Jawabnya: “Kasihan si Kutilang kalau harus jalan dua kali. Lagi pula cuaca kan lagi panas”. Waktu FunkyMami bilang betapa dia sangat baik, dia menjawab: “Aku akan melakukan ke anak-anak lain juga. Nggak masalah.” Terharu mendengarnya.
Si Kutilang juga pernah bercerita tentang keberanian si Pipi. Dalam perjalanan pulang, salah satu teman mereka, sebut saja Maria, didorong oleh si Ronny yang nakal sampai tersungkur di tengah jalan. Tanpa pikir panjang, si Pipi langsung menyetop mobil yang mau lewat. Dia kemudian membantu Maria bangun dan minggir dari jalan. Si Pipi kemudian lari mengejar si Ronny dan dengan menarik krah bajunya, si Pipi memaksa si Ronny minta ma’af sama si Maria. Si Ronny pun nurut. Semua anak-anak cewek yang melihat kejadian itu cuman bisa ternganga. Tak satu pun dari mereka yakin bisa melakukan keberanian yang sama.
Mendengar cerita tentang kebaikan si Pipi bikin FunkuMami merasa bersalah karena telah menilainya jelek tampa berusaha mengenalnya lebih jauh. Seperti ibu-ibu lainnya, FunkyMami telah bersikap kurang adil terhadap si Pipi. Bagaimanapun juga dia hanyalah seorang anak. Apapun yang dia ucap atau perbuat adalah cermin tentang bagaimana dia berbuat dan berucap di rumah. Funkymami tidak ingin menyalahkan orang tua si Pipi, karena seperti FunkyMami juga, tidak semua orang tua sempurna, setidaknya di mata orang tua lain. Tapi bukan berarti si Pipi tidak berhak untuk berubah lebih baik dan berteman dengan anak-anak lainnya.

Si Pipi menghilang dari peredaran


Beberapa bulan terakhir, si Kutilang dan si Pipi jarang bermain bersama. Dengar-dengar, si Pipi tengah menjalani sebuah terapi psikologi anak. Dia tidak lagi pulang bersama si Kutilang, tapi dijemput ibunya dan langsung pergi ke tempat terapi. Kata si Kutilang, tiap pulang sekolah si Pipi diharuskan mendengarkan cerita anak-anak dari CD yang dipinjam dari tempat terapi. Mungkin ini salah satu metode terapi yang sedang dijalankannya. Tentang mengapa tiba-tiba dia harus menjalani terapi, FunkyMami nggak tahu.
Tanpa kehadiran si Pipi, Si Kutilang pun mulai bermain dengan anak-anak lainnya. Suatu hari si Kutilang bilang kalau dia kangen sama si Pipi. Kangen sama ulahnya yang jahil. Dia bilang, hanya si Pipi lah yang paling lucu dan menyenangkan. Teman-teman lainnya kebanyakan terlalu girly atau cewek banget. Kebanyakan mereka masih suka main sama boneka, mengolah rambut dab suka berbisik-bisik. Si Kutilang kangen terlibat petualangan si Pipi, menerobos hutan, berburu cacing, memanjat pohon… Si Kutilang kangen membantu merapikan kamar si Pipi yang amburadul atau membantunya mengerjakan PR.

Ternyata mereka adalah benar-benar sahabat dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Telah terjadi banyak perubahan selama beberapa bulan terakhir, tidak hanya pada diri si Pipi tapi juga si Kutilang. Si Kutilang semakin memiliki rasa percaya diri dan berani mengemukakan pendapat. Si Pipi juga telah membuatnya belajar bahwa tiap teman mempunyai karakter yang berbeda. Agar bisa berteman dengan baik dia tidak bisa begitu saja memaksakan kehendaknya. Teman yang baik harus saling memberi dan menerima.

Mudah-mudahan terapi si Pipi cepat berakhir, agar kedua sahabat ini bisa bersama kembali – untuk saling mengisi dan melengkapi.

ARTIKEL TERKAIT

4/28/2011

Tip agar bayi terlelap sepanjang malam



Memiliki bayi yang bisa tidur sepanjang malam adalah impian semua orang tua, terutama yang tidak memiliki baby sitter seperti FunkyMami. Ada banyak tip dan saran yang bisa didapatkan dari buku, internet, saudara atau teman. Tapi sebelum menerapkan tip dan saran tersebut, kita harus tahu kebiasaan tidur anak seperti apa yang kita inginkan, karena tiap orang tua mempunyai cara dan kebiasaan yang berbeda-beda.


Banyak orang tua atau ibu yang tidak keberatan bangun tiap malam untuk me-nina bobo-kan anak agar kembali tertidur. Sementara banyak juga orang tua yang merasa lebih nyaman jika anak tidur bersama orang tua, sehingga mudah menindurkan anak kembali jika si anak terbangun tengah malam. Jika Anda termasuk orang tua yang ingin membiasakan anak tidur mandiri, tentunya tidak ada pilihan lain kecuali bangun tidur dan me-nina bobo-kan anak agar dia kembali tertidur. Terus terang hal ini sangat berat dilakukan, tertuama jika bayi baru berumur beberapa bulan dan masih membutuhkan ASI pada malam hari. Tetapi, begitu jadwal menyusui malam hari mulai berkurang, kebiasaan tidur mandiri bisa mulai diterapkan.

Dan dengan tip-tip di bawah, mudah-mudahan para orang tua yang selama ini kurang tudur bisa kembali menikmati tidur malam.


  1. Ajari anak untuk jatuh terlelap dengan sendirinya. Bayi yang terbiasa tertidur dengan dielus, digendong, ditimang atau disusui cenderung membutuhkan perhatian saat terbangun tengah malam. Bayi yang terbiasa terlelap dengan sendirinya, saat terbangun tengah malam akan kembali tidur dengan sendirinya.
  2. Mulailah rutinitas waktu tidur . Bayi sangat menyukai rutinitas, dan mereka belajar disiplin dari usia dini dari rutinitas. Lakukan rutinitas tidur malam sedini mungkin. Rutinitas bisa dimulai dengan memandikan bayi, memberi makan/minum, bermain ringan di kamar tidur, membaringkan anak, meredupkan lampu dan bila perlu menyanyikan atau memutar lagu nina bobo. Kemudian ucapkan selamat malam dan tinggalkan anak saat masih terjaga. Lakukan hal ini tiap hari pada waktu dan urutan yang sama, kecuali keadaan tidak memungkinkan, seperti saat melakukan perjalanan. Anak yang terbiasa dengan rutinitas tidur malam bisa bisa terlelap dengan sendirinya tanpa harus ditunggui. Begitupula saat terbangun tengah malam. Baca artikel tentang menciptakan rutinitas waktu tidur.
  3. Buat acara tidur malam setenang mungkin. Usahkan kamar tidur anak tidak terlalu terang, bila perlu gunakan lampu yang redup. Kecilkan volume suara dan ganti popok seperlunya saja.
  4. Jangan lupa tidur siang. Bayi yang terlalu ngantuk karena kurangnya tidur siang akan susah tidur wktu malam. Usahakan agar bayi cukup mendapat tidur siang.
  5. Lupakan ‘sleeping chart’ (table waktu tidur). Tabel tidur malam untuk bayi atau biasa disebut ‘sleeping chart’ hanyalah pedoman umum waktu tidur bagi kebanyakan bayi. Beberapa bayi memang tidur lebih pendek dibanding yang lainnya. Terlalu terpaku pada tabel hanya akan membuat orang tua terlalu khawatir dan tidak tengan. Setelah beberapa bulan, tiap orang tua akan bisa ‘membaca’ kebiasaan tidur anak. Gunakan kebiasaan ini sebagai pedoman waktu tidur anak Anda.

ARTIKEL TERKAIT:



4/27/2011

Menciptakan rutinitas waktu tidur



Perlukah kita menerapkan rutinitas waktu tidur?

Sebelum membahas tema ini lebih jauh, perlu FunkMami tekankan bahwa Mami percaya setiap orang tua mengetahui hal yang terbaik bagi si anak. Terlepas dari pro dan kontra, setiap orang tua berhak merasa nyaman atau tidak nyaman tentang kebiasaan orang lain dalam merawat, mendidik dan mendisiplinkan anak. Begitu juga dengan kebiasaan menidurkan anak.


Banyak orang tua merasa tidak tenang jika si bayi harus tidur sendiri di kamar terpisah tanpa pendamping. Banyak juga yang berpendapat bahwa selain nyaman, ikatan batin antara anak dan orang tua akan terjalin lebih kuat jika anak tidur seranjangan dengan orang tua. Di samping itu, anak akan merasa aman berada di samping orang tua saat terbangun tengah malam.

Sementara banyak juga yang berpendapat bahwa tempat tidur paling aman bagi bayi sehubungan dengan masalah SIDS (Sudden Infat Death Syndrome atau sindrom kematian bayi secara tiba-tiba) adalah ranjang yang terpisah dari orang tua. Juga banyak yang berpendapat tentang tingginya resiko kematian pada bayi yang tidur seranjang dengan orang tua yang perokok.

Apapun pilihan Anda dalam meciptakan kebiasaan tidur anak, seharusnya tidak hanya anak yang merasan nyaman, tetapi juga Anda dan pasangan Anda. Meskipun banyak orang tua merasa tenang tidur seranjang dengan anak, banyak juga yang mengeluh atas rasa capek dan ngantuk yang diakibatkan oleh ketidaknyamanan tidur berhimpitan, perasaan was-was takut menindih bayi bahkan keluhan atas terganggunya kehidupan seks.
Posting ini ditulis FunkyMami bagi pembaca yang ingin membiasakan anak tidur mandiri. Yang dimaksud dengan tidur mandiri di sini adalah membiasakan anak tidur di ranjang terpisah dari orang tua dan mengajari anak untuk kembali tidur dengan sendirinya saat terbangun tengah malam.

Bayi yang terbiasa terlelap karena digendong, ditimang, digoyang-goyang, diajak jalan-jalan dengan kereta dorong atau disusui, cenderung membutuhkan perhatian saat terbangun tengah malam. Bayi yang terbiasa terlelap dengan sendirinya, akan kembali tidur dengan sendirinya saat terbangun tengah malam.


Apa yang dimaksud dengan rutinitas waktu tidur?

Rutinitas waktu tidur adalah kegiatan rutin yang dilakukan pada masa transisi, yaitu saat menjelang tidur sampai anak terlelap. Dengan membiasakan rutinitas waktu tidur anak bisa belajar mangantisipasi apa yang akan terjadi saat hari sudah berakhir.

Rutinitas waktu tidur terdiri dari urutan kegiatan yang tetap dan dilakukan pada saat yang sama setiap malam. Kegiatan bisa dimulai dengan membersihkan badan yang dilanjutkan dengan mengenakan baju tidur, bermain santai di kamar, membacakan buku, berdoa dan mengucapkan selamat tidur. Tidak masalah jika rutinitas ini dilaksanakan secara singkat atau secara panjang dan berurutan, asalkan semuanya dilakukan secara tenang dan santai agar level aktifitas anak menurun dan susunan saraf anak menjadi lebih tenang. Akan sulit menciptakan masa transisi yang damai jika suasana rumah kacau, bermain lari-lari, bermain menggelitik, atau menonton acara TV atau video yang penuh eksyen.

Apa keuntungan rutinitas waktu tidur?


Seorang bayi akan merasa rileks jika dia tahu apa yang akan terjadi. Semakin bayi merasa rileks, semakin mudah baginya untuk jatuh terlelap. Usahakan melakukan rutinitas waktu tidur setiap hari termasuk saat tidak berada di rumah – hal ini akan mempermudah bayi untuk beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru.

Kapan rutinitas waktu tidur bisa dimulai?


Semakin dini semakin baik. Saat bayi berusia 6 sampai 8 bulan, mulailah menciptakan satu pola dan ikuti pola tersebut setiap malam. Jika Anda mengikuti pola tersebut secara rutin, maka bayi akan lebih cepat beradaptasi dengan pola tersebut dan dia bisa memprediksi urutan kegiatan berikutnya. Jangan lupa, sebuah pola rutinitas waktu tidur tidak hanya baik bagi anak tapi juga bermanfaat bagi orang tua, karena orang tua bisa lebih mudah membuat suatu rencana jika bayi memiliki jadwal tidur yang tetap.

Bagaimana cara menciptakan rutinitas waktu tidur?


Usahakan meluangkan cukup waktu agar semua kegiatan bisa dilaksanakan dengan baik tanpa terburu-buru. Jika jam 7 malam adalah waktu tidur, maka rutinitas bisa dimulai sekitar jam 6:30. Untuk bayi yang baru berumur beberapa bulan rutinitas bisa dilakukan secara singkat, misal: memandikan, mengganti popok, mengenakan baju tidur, membacakan buku atau menyanyi dan membaringkan bayi di tempat tidur. Tidak masalah jika Anda memulai rutinitas di kamar mandi atau ruang tamu, asalkan kegiatan terakhir adalah kamar tidur. Ciptakan suasana kamar tidur yang nyaman bagi anak agar anak merasa kamar tidur adalah tempat yang baik, bukan tempat untuk ‘menyingkirkan’ anak saat hari sudah gelap.

Kegiatan apa saja yang bisa dimasukkan dalam rutinitas waktu tidur?


Setiap orang tua pasti memiliki kegiatan favorit yang disukai anak. Banyak contoh kegiatan yang bisa digunakan untuk menurunkan level aktifitas anak dan mencipatakan suasana damai sebelum tidur. Kegiatan di bawah adalah beberapa contoh yang bisa dilakukan.


Limpahkan kasih sayang
Setelah sehari sibuk dengan kegiatan kantor atau urusan rumah tangga, maka malam hari adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama anak. Bermain, menyanyi dan menari atau mendongeng sambil memeluk anak hanyalah beberapa contoh. Anda bisa melakukan kegiatan-kegiatan lain bersama anak asalkan dilakukan dengan tenang dan satai.

Mandi dengan air hangat
Salah satu kegiatan rutinitas waktu tidur yang paling favorit adalah memandikan anak dengan air hangat. Selain membersihkan badan, mandi dengan air hangat bermanfaat untuk menenangkan susuan saraf. Ritual ini juga sangat baik jika dilakukan oleh para bapak (yang tidak mempunyai banyak waktu untuk anak karena kesibukan pekerjaan). Kegiatan ini bisa digunakan untuk menciptaka keterkaitan yang lebih kuat antara bapak dan anak. Jika bayi tidak menyukai acara mandi, Anda bisa tinggalkan kegiatan ini. Lagipula, bayi yang baru berumur beberapa bulan tidak memerlukan mandi setiap hari.

Tanda-tanda pergi tidur
Lanjutkan rutinitas dengan menggosok gigi, mengganti popok dan mengenakan baju tidur. Kenakan baju tidur yang nyaman dan tidak terlalu tebal atau tipis. Baju yang terlalu tebal menimbulkan keringat dan rasa gerah yang bisa membangunkan anak tengah malam. Begitu pula sebaliknya, baju yang tipis membuat anak merasa dingin yang bisa membangunkan anak.
Sangat penting membiasakan gosok gigi mulai bayi. Anda bisa memulai dengan menggosok gusi dengan lap halus. Jika gigi mulai tumbuh, gunakan sikat gigi khusus untuk bayi. Memulai menggosok gigi mulai bayi akan membuat anak terbiasa menggosok gigi secara rutin.

Bermain dengan tenang
Ajak si kecil untuk bermain dengan santai di ruang tamu atau di kamar tidur. Hal ini penting untuk menciptakan ‘suasana bahagia’ bagi anak sebelum tertidur. Anda bisa bermain ‘ciluk baa’ atau melihat-lihat buku bergambar. Yang penting jangan sampai anak ‘over excited’ atau terlalu bergairah.

Ajak bicara
Jangan khawatir si kecil tidak mengerti kata-kata Anda. Bayi sangat menyukai wajah dan suara orang tua terutama ibu. Yang lebih penting lagi, semakin sering bayi diajak bicara, semakin banyak kosa kata yang ter‘rekam’ di kepala bayi. Jika Anda merasa sulit atau merasa aneh mengajak bayi bicara, Anda bisa menerangkan setiap mainan yang ada di sekitar tempat tidurnya, atau menerangkan siapa-siapa yang ada di foto dinding atau sekedar bercerita ulang tentang kegiatan hari ini. Kegiatan ‘berbicara’ ini bisa membuat bayi merasa rileks dan nyaman.

Bacakan cerita
Membacakan buku cerita sebelum tidur adalah kegiatan yang sangat positif. Tidak hanya bayi mengenal kata-kata baru, penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan baca bahkan intelektual anak bisa tergantung pada sedikit banyaknya kosa kata yang dipelajari anak setiap hari. Disamping itu kegiatan ini juga menciptakan ikatan yang lebih kuat antara orang tua dan anak.

Nyanyikan lagu nina bobo
Bayi sangat menyukai suara favoritnya, yaitu suara Anda, apalagi jika dilengkapi dengan melodi. Dan juga sudah terbukti bahwa nyanyian ibu bisa membuat anak terlelap. Si Kutilang, anak FunkyMami yang pertama sudah berumur delapan tahu. Sejak dia berusia beberapa minggu Mami selalu menyanyikan lagu yang sama setiap malam. Dan selama delapan tahun ini dia tidak bisa pergi tidur kalau Mami tidak menyanyikan lagu terebut!

Mainkan musik
Bagi yang tidak terbiasa menyanyi, CD atau kaset bisa digunakan sebagai pengganti. Mainkan lagu-lagu lullaby atau lagu nina bobo, musik klasik atau lagu favorit anak. Jangan lupa mainkan dengan volume kecil dan biarkan musik terus berputar saat Anda meninggalkan kamar.

Ucapan selamat malam
Ada kalanya si kecil belum tertidur saat semua ritual sudah dilakukan. Anda bisa mengajak anak untuk mengucapkan selamat malam pada semua mainannya, atau mengintip bulan lewat cendela dan mengucapkan selamat malam. Dan terakhir ucapkan selamat malam sebagai pertanda waktu tidur. Jangan lupa yakinkan anak Anda bahwa dia tidak perlu takut karena Anda selalu berada di dekatnya.


ARTIKEL TERKAIT: