Ada saatnya dikala kita memiliki kontrol penuh dalam mengatur pertemanan anak. Jika teman si anak adalah tukang jotos, ngludah atau ngrebut mainan, kita bisa menghindarkan anak dari teroris kecil itu. Tapi itu sih dulu, jaman anak masih balita. Setelah masuk usia sekolah, biasanya anak punya opini sendiri tentang teman-temannya. Memang sih, kalau kita mau, kita tetap bisa mengontrol pertemanan anak. Cuman, pertanyaannya, apakah campur tangan kita bakal membuat anak lebih bagagia atau malah sebaliknya?
Pindah rumah lagi
1.5 tahun yang lalu, FunkyMami beserta keluarga pindah ke tempat yang ditinggali sekarang. Semuanya serba baru buat si Kutilang (anak FunkyMami yang no. 1) – budaya baru, bahasa baru, sekolah baru dan teman-teman baru. Meski bukan tergolong anak pemalu, si Kutilang juga bukan termasuk anak yang supel. Dia selalu butuh waktu dalam mencari teman baru. Untungnya kami tinggal di sebuah perumahan baru yang terletak di desa kecil. Rata-rata penghuninya adalah keluarga muda dengan anak-anak seusia si Kutilang dan si Bogang (adik si Kutilang). Mereka pergi ke sekolah yang sama seperti si Kutilang. Bahkan ada lima anak tetangga yang sekelas dengan si Kutilang. Maka dalam tempo cuman seminggu, si Kutilang sudah punya banyak teman.
Meski hidup di pedesaan sering bikin FunkyMami merasa bosan, FunkyMami tetep merasa beruntung anak-anaknya bisa back to nature – gaya hidup yang bener-bener baru buat mereka. Di tempat sebelumnya, si Kutilang pergi ke sekolah dengan bis jemputan. Berangkatnya harus pagi-pagi untuk menghindari macet. Karena masih ngantuk, anak-anak sering tidur pulas dalam bis, sehingga jarang ada komunikasi. Bangun-bangun kalau dah nyampe di koridor sekolah. Pulang sekolah pun begitu, dari koridor langsung naik bis sampai tiba di depan rumah. Dengan kata lain, dalam perjalanan rumah-sekolah p.p anak-anak ini jarang nginjek tanah atau menikmati kehijauan, apalagi udara segar. Makanya, si Kutilang happy banget begitu dapat kesempatan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki rame-rame. Tiap pagi FunkyMami bisa melihat betapa ceria wajah mereka, nggak peduli cuaca lagi buruk. Ntar pulangnya ada aja yang dibawa, yang tongkat kayu lah, yang bekicot mati lah…
Ketemu Pipi - "Si kaos kaki tidak panjang"
Dari sekian teman itu, ada satu anak yang lumayan dekat dengan si Kutilang. Sebut saja namanya Pipi. Pipi adalah tetangga depan rumah. Tiap pagi dia menjemput si Kutilang dan berjalan bersama ke sekolah. Si Pipi nggak hanya berlawanan secara fisik dengan si Kutilang, tapi juga karakter. Meski umurnya lebih muda hampir setahun, dia lebih tinggi satu kepala dibanding si Kutilang. Rambut si Pipi blonde, sementara rambut si Kutilang coklat gelap. Si Pipi anaknya lincah, bebas dan hampir selalu gembira. Sebaliknya si Kutilang lamban, sering ragu dan agak minder. Mungkin karena perbedaan yang mencolok inilah, mereka jadi cepat akrab. Sepertinya sifat-sifat mereka saling melengkapi.
Hampir tiap hari selalu ada cerita baru tentang si Pipi. Kebanyakan tentang ulahnya yang aneh-aneh. Misalnya, merangkak ke bawah mobil yang lagi diparkir cuman untuk mengambil tetesan air beku yang runcing-runcing (kalo lagi musim dingin di bawah mobil suka ada tetesan air yang membeku kayak stalaktit). Trus selama perjalanan pulang air es itu pun dijilati kayak makan es loli. Atau punya ide ambil jalan pintas lewat hutan. Pernah dia sengaja lepas jaket, syal dan sarung tangan waktu lagi turun salju tebal. Seperti yang dia rencanakan, besoknya dia sakit selama seminggu. Tentu saja dia seneng karena boleh nonton TV sepuasnya. Pokoknya si Pipi ini mengingatkan FunkyMami sama figur anak-anak – PIPPI SI KAOS KAKI PANJANG. Masih ingat nggak?
Tiap kali si Kutilang bercerita tentang si Pipi, dia tampak takjub dan berapi-api. Bisa dibayangkan, buat si Kutilang yang hampir selalu berhati-hati, ulah si Pipi benar-benar luar biasa. Yang menarik, meski sepertinya si Kutilang menikmati kejailan si Pipi, dia tetep tidak terpengaruh. Si Kutilang tetep seperti yang dulu – si Pengamat. Awalnya FunkyMami sering mengkritik ulah si Pipi, takut dia jadi ikut-ikutan. Tapi setelah yakin si Kutilang memang nggak punya nyali untuk melakukan hal yang sama, FunkyMami pun berusaha tidak terlalu mengkritik si Pipi.
Kebiasaan si Pipi
Selain jahil, sebenarnya ada hal-hal lain tentang si Pipi yang bikin FunkyMami merasa nggak sreg. Misal, beberapa orang tua (terutama ibu-ibu) melarang anaknya main sama si Pipi karena sifatnya yang liar. Juga, ternyata Pipi ini tidak begitu disiplin dalam urusan belajar. Anaknnya paling susah disuruh duduk manis. Di kelas pun dia harus duduk paling depan supaya gurunya bisa terus memantau. Di rumah dia sering bikin orang tuanya kesal karena tiap kali bikin PR pasti berbuntut keributan. Menurut orang tuanya, dari kecil dia memang pinginnya lepas bebas dan sangat aktif. Maunya selalu main di luar. Dan memang, dari sekian anak, si Pipi punya gerakan motorik yang paling bagus. Dia bisa naik sepedah roda satu, salto di jalan, lihai naik wave board, lihai menunggang kuda, pandai berenang dan sebagainya. Pokoknya si Pipi ini bener-bener mirip PIPPI SI KAOS KAKI PANJANG.
Sebenarnya urusan malas belajar ini tidak akan mengganggu FunkyMami kalau si Kutilang nggak kena imbasnya. Hampir tiap hari, begitu pulang sekolah dia langsung ngebel pintu dan ngajak si Kutilang bermain. Padahal aturan di rumah FunkyMami adalah sepulang sekolah si Kutilang harus istirahat dulu dan sedikit makan snack (makan siangnya disediakan di sekolah). Habis istirahat adalah waktu belajar dan bikin PR. Kebiasaan ini sebenarnya juga standar di rumah-rumah lainnya. Tapi entah, sepertinya ada perkecualian di rumah si Pipi. Meski FunkyMami sudah mengingatkan agar tidak datang dulu sebelum selesai belajar, tetep aja tiap hari dia ting-tong ting-tong saat Kutilang sedang belajar.
Hal lain yang sering bikin FunkyMami kesel adalah kondisi Pipi yang jorok. Bukan maksudnya menghina, tapi si Pipi ini memang suka banget main di luar dengan alam. Tentu saja pakaian dan tubuhnya sering kotor. Kalau mainnya di luar terus sih nggak masalah. Nah, kalau FunkyMami dah capek-capek ngepel trus dia masuk rumah dengan kaki berlumpur lalu nangkring di sofa? Wah, bisa asmusi nih si FunkyMami! Belum lagi si Pipi ini memang nggak kenal ba-bi-bu alias tata kramanya agak minim. Kalau masuk rumah maunya nylongong aja ke kamar si Kutilang, atau ambil-ambil makanan sendiri di kulkas tanpa permisi. Ntar tetesan es loli tercecer di mana-mana sampai lantai jadi lengket semua. Pendek cerita, FunkyMami nggak begitu simpati sama anak ini.
Namanya juga berteman, pasti ada perselisihan
Beberapa bulan pertama pertemanan mereka berjalan dengan lancar. Tapi kemudian mereka jadi sering berantem. Perbedaan karakter yang awalnya FunkyMami kira bisa saling melengkapi, ternyata mengakibatkan banyak benturan. Rupanya Pipi nggak cuman punya ide-ide gila, tapi juga suka mengumpat dan bicara kasar. Tiap kali berantem si Pipi sering mengumpat dengan kata-kata yang menyakiti hati si Kutilang. Entah, apakah di rumahnya dia diperbolehkan mengumpat seperti itu. Yang jelas, FunkyMami sering memergoki dia mengumpati anak-anak lain. Akibatnya si Kutilang sering ngambek, janji nggak akan berteman dengan dia lagi. Tapi yah, namanya juga anak-anak, sejam kemudian dah akur lagi.
Campur tangan si Mami
Awalnya, FunkyMami dan si Papi cuman ingin memantau dari jauh. Di saat si Kutilang sedih, FunkyMami dan si Papi hanya menasihati agar dia lebih terbuka sama si Pipi tentang hal-hal yang tidak dia sukai. Rasanya nggak fair kalau mereka dipisahkan begitu saja. Bukankah dalam pertemanan selalu ada perselisihan? FunkyMami dan si Papi berharap agar si Kutilang bisa belajar mengatasi permasalahannya sendiri dan bisa menilai karakter teman-temannya. Dengan mengenal baik buruk karakter teman-temannya, mudah-mudhan dia bisa memiliki pendirian yang teguh dan tidak gampang terpengaruh. Kalaupun si Kutilang memutuskan untuk tidak berteman lagi dengan si Pipi, setidaknya itu keinginannya sendiri dan bukan karena paksaan orang tua. Maka FunkyMami dan si Papi pun sepakat membekali si Kutilang dengan beberapa strategi dalam menghadapi sikap si Pipi.
- Si Pipi sebenarnya butuh si Kutilang, karena nggak ada teman lain yang mau berteman dengannya. Kondisi ini tentunya menguntungkan bagi si Kutilang untuk bisa ngasih si Pipi ultimatum: 'Berhenti bicara kasar, atau berhenti berteman?'
- Amal-anak lain tidak mau berteman dengan si Pipi karena mereka tidak mau menjadi korban kekasarannya. Kalau mereka berani mengambil sikap, kenapa si Kutilang nggak?
- Si Pipi harus mengerti, untuk bisa memiliki seorang teman, dia harus belajar menghargai perasaan orang lain. Kalau tidak mau berubah diri, maka dia akan menerima konsekuensinya - home alone, sendiri...
- Si Kutilang harus berani unjuk gigi. Dia harus menjelaskan ke si Pipi tentang hal-hal yang tidak dia sukai.
- Terakhir, utlimatum buat si Kutilang sendiri: 'Enak mana, sering pulang nangis atau memberi pelajaran bagus buat si Pipi?'
Syukurlah usaha FunkyMami dan si Papi sepertinya mulai berhasil. Si Kutilang mulai bisa mengendalikan si Pipi. Terjadi banyak perubahan sikap pada si Pipi. Dia mulai sering meminta ma’af, bilang permisi atau terima kasih. Dia pun mulai rajin cuci kaki sebelum datang ke rumah FunkyMami. Dia juga baru ngebel pintu setelah waktu belajar selesai. Mereka sering mengerjakan PR bersama dan saling mengajari. Bahkan kadang-kadang mereka bergiliran membacakan buku cerita. So sweet…
FunkyMami mereasa bersalah
Semakin sering melihat sisi baik si Pipi, FunkyMami pun mulai bisa melihat karakter asli si Pipi. Sekarang FunkyMami mengerti mengapa meski si Kutilang sudah mencoba berteman dengan anak-anak lain, dia akan kembali ke si Pipi. Si Pipi adalah hiburan live buat si Kutilang. Dia bisa membuat si Kutilang tertawa terpingkal-pingkal atau geleng-geleng kepala karena ulahnya yang jahil. Dia juga sangat melindungi si Kutilang bahkan melawan anak-anak yang berani mengganggu si Kutilang. Pernah, si Kutilang lupa membawa pulang tas olah raganya. Di tengah perjalanan ke rumah dia baru ingat dan harus balik ke sekolah untuk mengambil tasnya. Tahu kah apa yang dilakukan si Pipi? Dia rela pulang sendiri dan membantu membawakan tas buku si Kutilang meski dia sendiri harus menyangklong tas raselnya plus tas olah raganya. Waktu FunkyMami nanya, kenapa dia rela berberat-berat seperti itu. Jawabnya: “Kasihan si Kutilang kalau harus jalan dua kali. Lagi pula cuaca kan lagi panas”. Waktu FunkyMami bilang betapa dia sangat baik, dia menjawab: “Aku akan melakukan ke anak-anak lain juga. Nggak masalah.” Terharu mendengarnya.
Si Kutilang juga pernah bercerita tentang keberanian si Pipi. Dalam perjalanan pulang, salah satu teman mereka, sebut saja Maria, didorong oleh si Ronny yang nakal sampai tersungkur di tengah jalan. Tanpa pikir panjang, si Pipi langsung menyetop mobil yang mau lewat. Dia kemudian membantu Maria bangun dan minggir dari jalan. Si Pipi kemudian lari mengejar si Ronny dan dengan menarik krah bajunya, si Pipi memaksa si Ronny minta ma’af sama si Maria. Si Ronny pun nurut. Semua anak-anak cewek yang melihat kejadian itu cuman bisa ternganga. Tak satu pun dari mereka yakin bisa melakukan keberanian yang sama.
Mendengar cerita tentang kebaikan si Pipi bikin FunkuMami merasa bersalah karena telah menilainya jelek tampa berusaha mengenalnya lebih jauh. Seperti ibu-ibu lainnya, FunkyMami telah bersikap kurang adil terhadap si Pipi. Bagaimanapun juga dia hanyalah seorang anak. Apapun yang dia ucap atau perbuat adalah cermin tentang bagaimana dia berbuat dan berucap di rumah. Funkymami tidak ingin menyalahkan orang tua si Pipi, karena seperti FunkyMami juga, tidak semua orang tua sempurna, setidaknya di mata orang tua lain. Tapi bukan berarti si Pipi tidak berhak untuk berubah lebih baik dan berteman dengan anak-anak lainnya.
Si Pipi menghilang dari peredaran
Beberapa bulan terakhir, si Kutilang dan si Pipi jarang bermain bersama. Dengar-dengar, si Pipi tengah menjalani sebuah terapi psikologi anak. Dia tidak lagi pulang bersama si Kutilang, tapi dijemput ibunya dan langsung pergi ke tempat terapi. Kata si Kutilang, tiap pulang sekolah si Pipi diharuskan mendengarkan cerita anak-anak dari CD yang dipinjam dari tempat terapi. Mungkin ini salah satu metode terapi yang sedang dijalankannya. Tentang mengapa tiba-tiba dia harus menjalani terapi, FunkyMami nggak tahu.
Tanpa kehadiran si Pipi, Si Kutilang pun mulai bermain dengan anak-anak lainnya. Suatu hari si Kutilang bilang kalau dia kangen sama si Pipi. Kangen sama ulahnya yang jahil. Dia bilang, hanya si Pipi lah yang paling lucu dan menyenangkan. Teman-teman lainnya kebanyakan terlalu girly atau cewek banget. Kebanyakan mereka masih suka main sama boneka, mengolah rambut dab suka berbisik-bisik. Si Kutilang kangen terlibat petualangan si Pipi, menerobos hutan, berburu cacing, memanjat pohon… Si Kutilang kangen membantu merapikan kamar si Pipi yang amburadul atau membantunya mengerjakan PR.
Ternyata mereka adalah benar-benar sahabat dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Telah terjadi banyak perubahan selama beberapa bulan terakhir, tidak hanya pada diri si Pipi tapi juga si Kutilang. Si Kutilang semakin memiliki rasa percaya diri dan berani mengemukakan pendapat. Si Pipi juga telah membuatnya belajar bahwa tiap teman mempunyai karakter yang berbeda. Agar bisa berteman dengan baik dia tidak bisa begitu saja memaksakan kehendaknya. Teman yang baik harus saling memberi dan menerima.
Mudah-mudahan terapi si Pipi cepat berakhir, agar kedua sahabat ini bisa bersama kembali – untuk saling mengisi dan melengkapi.
ARTIKEL TERKAIT

No comments:
Post a Comment